Kamis, 03 Februari 2011

What If - Cerpen

What If

***

Seberapapun kita bersama, kau mungkin tak akan pernah tau satu hal.

Aku sungguh menyayangimu, sahabatku
.

***

Bruk. Aduh, ada yang menimpaku dari belakang dengan peluk. Siapa nih?

“Huaaaaaa, gue kangen sama Gabriel banget banget bangeeeet.”

Aku melirik ke belakang. Ah, dia.

“Mulai deh, lo.”

“Gue kangen Gabrieeeel.”

“Yaudahlah bilang aja sana sama dia, jangan ke gue gitu dong.”

“Kenapa sih? Lo nggak suka kalo aku cerita tentang Gabriel apa?”

“Nggak ah, gue mah biasa aja. Lo tuh yang lebay banget kalo cerita tentang Gabriel.
Siapa diaa coba?” ucapku sinis. Tidakkah dia mengerti? Yah, dia memang terlalu polos.

“Iyaya, dia siapa gue coba? Gue siapa dia? Hahahaha. Vin, lo tau kan?” ucapnya sambil
tersenyum masam.

“Apa?”

“Mau curhat, bodoh.”

Aku mengangguk.

“Gabriel?”

Wajahnya terlihat bingung. Ah, apakah dia belum tau yang kumaksudkan? Haruskah aku
beritau dia sekarang? Aku tidak tega bila harus membuatnya bersedih sekarang. Tapi, aku takut jika lukanya harus bertambah lagi saat ini. Apalagi, baru saja dia tertawa begitu lepas. Tawa lepas yang pahit. Aku tau dia sakit.

“Café yuk, Shill.” ajakku. Biasanya, jika Shilla sedang butuh tempat cerita atau aku sedang mengalami stress akan masalah orangtuaku, kami selalu ‘ngafe’.

“Yuk, traktir yah.”

“Huu, nggak modal.”

“Bodooo.” Ucapnya sambil menggelitiki leher dan pinggangku. Aku hanya tertawa saja
sambil meringis kegelian.

“Gantian aku gelitikin nih.”

Matanya membulat, “Enak aja, enak di kamu nggak enak di aku, Vin.”

***

Ya. Aku Alvin. Dimana aku adalah pribadi yang sulit. Sulit dalam banyak hal. Dalam pelajaran misalnya, aku sulit sekali memahami jika otakku enggan untuk berpikir. Tetapi jika aku mulai mengatakan, “Gila mtk susah banget,” teman-teman akan langsung menjitakiku sambil mengelitiki leherku. Tidakkah mereka paham bahwa aku kegelian? Dramatis abis.

Baiklah, sekali ini aku jujur. Aku memang suka pada Shilla. Yang awalnya aku kira, itu akan berlalu layaknya angin saja yang hanya mengisi hatiku sebentar saja.
Biasanya juga aku hanya suka, nembak, pacaran, putus. Selesai. Dan dengan mudah aku melupakannya. Namun dia? Awalnya aku biarkan karena kupikir itu hal biasa yang mungkin hanya sekedar kagum pada sahabat sendiri, yah secara, dia hampir sempurna dan aku melihatnya dengan sudut pandangku yang sering dia bilang bahwa aku ini ‘playboy’. Namun rasa itu makin lama tumbuh makin kuat dan akhirnya ‘sulit’ bagiku untuk melupakannya.

Mungkin aku memang salah.

Aku salah telah menyukai Shilla. Yang selalu hari-hari dan otaknya diisi dengan Gabriel, Gabriel, dan lebih banyak Gabriel.

Aku bahkan tau. Ia juga telah berkali-kali menyatakan bahwa ia menyukai Gabriel pada Gabriel sewaktu awal dia menyadari bahwa ia suka pada Gabriel. Tapi apa? Gabriel tidak pernah memberinya jawaban apapun.

Hingga sampai saat ini, hampir tahun ke 4 ia menyukai Gabriel. Ia masih belum dapat berpindah hati. Bahkan mungkin tak terlintas sama sekali dalam benaknya untuk melupakan si “the one” nya itu.

Aku sendiri? Ah, jangan tanya. Sejak aku benar-benar menyadari bahwa aku memang telah menyukainya di tahun pertama kita saling mengenal, aku telah mencoba untuk menyatakan cintaku padanya. Asiiik, kalimatku. Namun yaah, dia mungkin sesifat dengan Gabriel.
Dia hanya menanggapi dengan , “Iya? Waah kok bisa sih? Eh by the way makasih yah.
Nggak nyangka deh aku bisa disukain sama orang.” Ia mengucapkan demikian sambil menyeringaikan gigi putihnya yang begitu rapi. Aku sendiri hanya menanggapinya dengan senyum tanpa mengajukan pertanyaan lagi. Karena aku tau, begitu besarnya perasaan Shilla pada Gabriel. Aku mengerti ia. Hingga kini aku dan dia sama-sama telah sepakat melupakan kejadian itu. Yang menurutku, tidak perlu kami berdua ungkit lagi karena itu hanya membuatku salah tingkah.

Ini tahun ke 3 aku menyukainya. Entah sampai kapan. Biarlah waktu yang menjawabnya. Hanya waktu. Waktu. Waktu. Waktu. Waktu. Dan lebih banyak waktu yang aku perlukan untuk siap melupakannya dan terus mengingatnya bahwa ia tak mencintaiku sedikitpun dan ia adalah sahabatku.

Dan aku harus tau, mungkin memang tak ada jalan lain, selain terus move on darinya
dan terus menjaganya hingga ada tangan lain yang bersedia menopangnya.

Bukan aku lagi.

Bukan aku.

Namun aku selalu berharap, itu aku.

***

“Huaaa, Vin, kamu harus tau ini.”

Sesampainya di café dan ketika aku selesai memesan makanan yang aku inginkan dan yang ia inginkan, tanpa ba-bi-bu lagi ia langsung mengutarakan yang ia ingin ceritakan. Gabriel lagikah?

“Apa?”

“Aku punya 2 kabar. ada yang baik banget, ada kabar yang buruuuuuuk banget,”

Aku mengerutkan keningku, “Apaan?”

Shilla mengerlingkan sudut matanya, “Tergantung,”

“Kebiasaan deh, kalo ngomong suka ngegantung. ntar kalo gue gantung baru tau rasa
lo,”

Shilla menyeringai cerdik, “Kabar baik apa buruk duluan?”

“Bacot kau, kabar buruk dulu aja lah.”

“Kabar buruknya, enggg, gue tau kalo Gabriel suka sama Ify..”

“Lo udah pernah bilang, Shill.”

“Eeh, jangan dipotong dulu, ah.”

“Hmm.”

“Mereka jadian.”

Aku membelalak, bagaimana Shilla dapat mengetahui ini semua begitu cepat? Rasanya, baru kemarin Gabriel bilang padaku, bahwa dia memang benar-benar menyukai Ify. Dan aku hanya menghela nafas kecewa-juga lega-saat mendengar itu semua. Ah, entah seperti apa perasaan Shilla.

“Trus?”

“Yaah, begitulah.”

“Lo nggak sakit hati gitu?”

“Nggak.”

“He?”

“Ya sakit hati lah! Pake nanya lagi.”

“Trus lo mau gimana lagi setelah ini?”

“Yaah, gue juga udah lama tau kalo Gabriel suka sama Ify. Yaudahlah, biarin aja.”

“Move on?”

“Ogah, dah. Kayanya gue udah bilang berkali-kali deh sejak Gabriel pacaran pertama kali, Vin.”

“Hah? Gila lo, lo mau jadi orang ketiga gitu diantara mereka?”

“Ya nggaklah, gue juga nggak seegois itu kali, Vin. Gue juga ngerti, kalo gue ada di posisi Ify sekarang, gue juga…”

“Apa?”

“Au dah. lo nggak nanyain kabar baiknya nih?”

“Oke, oke. Kabar baiknya apa?”

“Gue dapet beasiswa kuliah di Sorbonne. Gue berhasil ! Yes !”

“Sorbonne? Paris?”

“Yap.”

“Prapatan ciamis? Hahahahaha.”

“Serius, Vin.”

“Iya, gue tau. Congrats, yah.”

“Kenapa? Lo nggak seneng?”

“Mau jawaban jujur atau bohong?”

“Jujur, doong.”

“Gue nggak begitu suka. Apalagi lo pernah bilang kalau lo, mau lupain Gabriel dengan cara ini juga. Gue nggak suka sama cara lo, Shill.”

“Lupain? Bukan woy ! Yaudah sih, ini hidup gue, lo nggak berhak ikut campur. Denger yah, disini, lo cuma sahabat gue. Bukan siapa-siapa gue.”

“Kok ngamuk sih? Yaudah, lo kapan berangkat?”

“Secepat yang gue bisa. Gue nggak akan kuat kalo liat Gabriel yang selama ini single dan gue suka, mendadak berduaan gitu sama Ify yang.. Ah, au ah.”

“Denger, ini hidup lo. Hidup lo, yaah masih panjang lah, tapi ya gue nggak tau juga kalo tiba-tiba lo mati gitu ya..”

“Asal banget lo kalo ngomong,”

“Biarin, hahaha. Udahlah, gue mau ngurus kucing gue.”

“Kucing? Lo aja alergi kucing kan.”

“Oiya mau ngurus rumah, berantakan.”

“Woo, alasan nggak mutuu.”

“Bodo. Udah, gue yang bayar.”

“Lah emang kan?”

“Iye, daah pulang dulu yee.”

“Bye, Viin !”

“Bye, Shill !” teriakku lagi. lantang. “Bye, maybe you never be mine..”

***

Aku membuka mataku ketika merasakan getaran serta nada yang mengalun dari ponselku pagi ini.

From : Shilla
Jangan lupa anter gue ke bandara yaah


Haha. Yaiyalah. Mana mungkin gitu gue lupa. Secara, gue sayang banget gitu sama Shilla.


***

Sudah 2 tahun sejak kepergian Shilla.

Aku merebahkan punggungku di kasurku yang tak lagi terasa empuk. Ah, mungkin aku tidak dapat move on dari Shilla. Buktinya? Tanpa Shilla ketahui, akupun juga mengikuti beasiswa ke Sorbonne gelombang ke dua. Tanpa tujuan, sebenarnya. Aku hanya ingin lebih lama menemani Shilla disana. Walaupun, sampai saat ini aku tak tau bagaimana caranya agar aku mendapat uang lebih untuk hidup disana. Tapi untuknya? Ah, aku akan coba.

Aku membuka laptopku, mencoba membuka jaringan internet. Hari ini aku sedang mencari informasi lebih lanjut mengenai lokasi tepatnya dimana universitas yang pernah menjadi tempat belajar orang-orang hebat itu berada.




Aku sendiri, tidak pernah ada niatan untuk bersekolah di luar negeri.

Lalu ini?

Hanya demi dia.

Shilla, sahabatku.

***

Aku Shilla. Aku menapaki jalan di tepi trotoar Universitas Sorbonne, Paris. Memang bukan universitas impianku. Tapi apa boleh buat? Pikiranku buntu saat itu. Masa silam yang aku tahu, hanya menyesakkan dada saja jika mengingatnya.




Aku yang memang tidak mengerti soal ‘pacaran’ atau apalah. Aku punya sahabat yang bernama Alvin. Dia agak playboy, menurutku. Tapi dia cukup romantislah. Prinsipnya? Mati satu, tumbuh semilyaaar. Wah, hiperbolis sekali ya. Tapi iya lho. Kenyataannya, pesona Alvin memang nggak tergantikan banget. Sosoknya sebagai seorang sahabat yang pernah mengutarakan perasaannya padaku, memang nggak akan pernah bisa tergantikan oleh sosok manapun. Gabriel sekalipun.

Tak satupun perempuan yang ia ‘tembak’ menolaknya. Kecuali aku, mungkin.

Aku memang tidak berhasil mengupayakan Gabriel sebagai pasanganku. Aku tidak begitu rela ketika ia bersama yang lain untuk kesekian kalinya. Namun apa daya, hanya pasrah yang aku bisa.

Semua kini hanya penyesalan. Hanya penyesalan yang tiada pernah berakhir.

Namun ini tentang Alvin.

Seberapapun aku mencari, ia kini memang hilang. Aku tidak pernah tau dimana ia. Bahkan saat ini ia tidak sadar. Ia tidak menghirup lagi apa yang aku hirup. Aku tidak pernah menyangka, sebesar inikah rasanya untukku? Tidakkah ia sadar bahwa aku, aku hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat. Titik. Tidak lebih dari itu. aku hanya.. hanya..

Aku memang menyayangi Alvin. Karena ia memang sahabat terbaik yang sejauh ini aku miliki. Akupun tidak sepolos yang Alvin kira. Sebenarnya, aku juga paham. Bahkan aku terlalu paham hingga aku memutuskan untuk melupakan kejadian ‘nembak’ darinya kala itu.

Aku, tidak pernah sedikitpun dalam benakku untuk melupakan Gabriel. Entah berapa besar keyakinan yang ada pada diriku hingga dengan begitu beraninya aku melangkah sedemikian jauh hanya untuk menunggu, menunggu, serta lebih banyak tungguan dariku untuk Gabriel.

Gabriel sudah punya Ify. Mereka serasi.

Aku tau itu, bahkan aku juga turut bahagia ketika itu. Turut bahagia, ketika melihat Gabriel bertambah ceria dan.. ah, aku tak sanggup melanjutkannya.

Aku melangkah sejauh ini, aku pun tidak tau untuk apa.

Langkah kaki menuntunku ke sebuah café di sudut kota Paris. Café kopi yang telah
setia kukunjungi karena sebuah rasa yang selalu menyesakkan namun menghangatkan.

Ini tentang Alvin.

Waktu itu, aku mendengar kabar darinya, bahwa setidaknya seminggu lagi ia akan kesini, ke Paris. Aku kira, ia hanya bercanda. Sedetik kemudian aku tersadar bahwa ia tidak bercanda. Ini serius.

Alvin sedang berada di Singapore saat itu. Ia sedang mengurus beasiswanya ke Sorbonne.

Aku harus apa?

Aku harus berbuat apa ketika mendengar bahwa pesawat tujuan Paris dari Singapore mengalami kecelakaan penerbangan ketika melintasi laut?

Menangis? Yah, aku sudah melakukannya. aku sudah benar-benar melakukannya. Aku menangis berhari-hari hingga aku tak tau harus berbuat apa hingga kini.

Aku tanya, jika kalian jadi aku, kalian akan berbuat apa?

Air mata mungkin dapat menetes terus-menerus dan dapat ku usap setiap kali alirannya melintasi sudut wajahku.

Namun kepergiannya?

Aku tidak dapat menolak kuasa Tuhan. Aku tidak dapat mengusap kejadian itu dan mengulang semuanya dari awal.

Aku tidak dapat mengalirkan air mata, sama dengan mengalirkan badannya yang mungkin terhuyung di laut yang terbentang luas. Sangat luas. Amat sangat luas.

Aku melihat keluar jendela, melihat berbagai gedung yang berdesain indah menjulang dengan angkuhnya di depan mataku. Bangunan kuno dan elit berpacu dengan laju indahnya. Pedih, sayang sekali Alvin tidak sempat melihat pemandangan yang lumayan memiriskan hati, untukku.

Disini, dimana aku mencoba mengalihkan hidupku dari mata Gabriel tanpa mencoba move on darinya.

Disini, dimana Alvin 'ingin' menemaniku dalam masa gelapku maupun terangku.

Aku menyesap aroma kopi hitamku. Aku sendiri tidak tau mengapa kini aku begitu menikmati aroma kopi hitam. Tanpa susu. Entah mengapa aku begitu menikmati aroma ini. Aku terus menyesap aroma sembari menutup mataku perlahan. Mencoba membaui kembali aroma Alvin yang selalu menyebarkan sensasi kopi.

Salahkah aku jika aku berharap ia masih hidup?

Salah. Ya, aku tau.

Orang yang sudah pergi memang tak mungkin kembali.

***

Hari demi hari berlalu dan kulalui di kota yang asing bagiku, bertambah asing ketika
awal aku mendengar kabar menyesakkan dan membuatku jadi tak lulus-lulus dari universitas ini. Hanya perasaanku saja, sih. Sebenarnya aku masih dalam taraf normal bahkan aku mungkin terlampau cepat. Bukannya aku bodoh.

Untuk menyelesaikan kuliahku, kini aku larut dalam balutan tugas essay yang memuakkan. Kata Alvin, aku ini pintar. Hanya saja, aku ini malas dan kurang teliti serta kurang konsentrasi. Namun sekarang? Rasanya, untuk mengikuti kelas saja aku malas. tak ada lagi yang menjadi penyaingku dalam bidang ini.

Matematika.

***

Hampir pingsan rasanya aku melihat layar televisi yang tertera di tempatku bersekolah saat ini.

AKU LULUS.

Yah, aku lulus…

***

Tetesan air mata mengalir begitu saja ketika aku, sampai di Indonesia.

Aku menatap gundukan tanah itu dengan miris. Andai saja, saat itu aku tidak memutuskan untuk pergi ke Prancis. Andai saja, saat itu aku lebih kuat dan tidak sembarangan memilih pilihan. Andai saja, saat itu aku lebih mendengarkannya. Andai saja, hatiku lebih kuat untuk memulai kembali asmara untuk yang lain, bukan Gabriel. Bahkan sampai saat ini, aku masih menunggu Gabriel. Kalau aku tak salah hitung, sudah 8 tahun aku menunggu.

Terlalu banyak ‘andai saja’ yang keluar dari bibirku saat ini.

Tetap ini yang aku sesali, dari dulu sampai sekarang,


‘andai saja, aku bisa menyayangi Alvin, sama dengan kasih sayangku untuk Gabriel. bahkan lebih…’


***

Tempat ini memang penuh memori, banyak kenangan dimana aku dan kamu, sebagai sahabat, berbagi kisah bersama. Dan tanpa kau sadar, kau membagi kasih…

***

Makasih, buat waktumu.

Terlalu banyak ucapan terima kasihku buatmu.

Aku hanya menyesal ketika aku mendapati diriku sendiri merasa kehilanganmu ketika aku mulai rindu dengan kehadiranmu yang biasanya aku tak hiraukan.

Ingat sebuah pertanyaan bodoh yang ku ucapkan padamu kala itu?

“Mengapa sebuah sesal harus datang terlambat?” tanyaku bodoh.

“Karena kalau datang di awal, bukan sesal namanya.”

“Lalu apa?”

“Itu namanya antisipasi…” jawabmu dengan asal.

“Bukanlah. Ngarang aja, lo.”

“Biarin, ngarang-ngarang gini juga bisa bikin lo sedikit senyum kan? Senyum dong.”

Aku teringat masa itu. Jadi aku tersenyum saat ini. Namun jangan harap senyum ini tulus atau apalah.

Senyum ini hanya untuk meratapi hidupku yang hampa. Tanpa Gabriel, tanpamu juga, Alvin. Aku juga mencoba memulai semuanya dari awal. Aku tidak mencoba mencari sahabat baru, tidak terlintas buatku untuk melakukan itu…

Aku masih ingat segala tentangmu, Vin.

Kau yang suka kopi tanpa gula. Suka memakai parfum kopi. Suka mengutak-atik matematika sampai aku gemes sendiri melihat tingkahmu yang seperti itu dan mulai mengikuti jejakmu untuk menelusuri matematika. Sampai saat ini aku menjadi lihai dalam matematika.

Namun satu yang tak bisa dan mungkin tak akan pernah bisa untuk aku mulai dari awal
lagi,

Aku masih menunggu Gabriel, Vin.

Shilla.
20.20 WIB. Bulletin Café, Jakarta, 2006.




Aku menatap lembaran ini dengan bingung, kapan aku pernah berfikir seperti ini?

Aku sadar betul, ini memang tulisanku. Aku memang pelupa sih orangnya.

Ah yaa, aku ingat. Ini sudah tahun keberapa sejak aku membongkar ‘time capsule’ ku yang kupendam di sebuah ruang kecil dibalik rumahku dulu. Namun itu hanya masa lalu yang kelam, masa dimana semua terpuruk sia-sia percuma.

Namun kan saat ini aku telah berkeluarga. Sudah 5 tahun malah. Bagaimana bisa lembaran suram ini ada dikamarku saat ini?

“Shill, ayo berangkat. Kasian itu bocah pada nungguin di mobil…”

“Iya, Gab…”

***

Aku tersenyum bahagia. Seakan moment bahagia ini baru sekali dalam hidupku. Senyumku terus mengembang seiring berjalannya waktu. Aku begitu menikmati apa yang aku lalui saat ini.

Lihat kan?

Aku mendapatkan semuanya,

Gabriel serta kebahagiaan lainnya

kecuali,

Alvin, sahabatku.

***

Krik...
Yap, ini cuma selingan aja kok buat menghibur diri sendiri~
Ini stress gara-gara belajar mtk yaah jadi begini *soalnya besok Try Out Mtk*
Seperti biasa, komentar, kritik, saran :D
Ini karakter paling bodoh tapi bernasib 'lumayan' baik ya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar