Sabtu, 19 Februari 2011

Untitled for Us - Part 4

Part 4 : Funone Café

***

Dengan balutan hubungan itu, dia pergi.

***

“Jadi? Gimana, Tiara?” tanya laki-laki dengan wajah berlekuk tegas itu dengan perasaan hati yang begitu gemetar. Ini adalah saat dimana ia untuk pertama kalinya mencoba memberanikan diri untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya ia kurang yakin. Tapi, ini adalah keputusannya. Sudah bulat, ia tidak menemukan sisi dimana ia harus berhenti.

Lingkaran, tidak mempunyai sudut dimana ia harus berhenti.

“Haha. Yang gue suka ya elo, Alvin.” jawab seorang yang bernama Tiara itu dengan wajah gembira dan hati yang sama gemetarnya.

“Hah?” Alvin nampak kurang yakin. Benarkah? Apa ini artinya…

“Iya.”

“Makasih ya.” ujarnya lega. AKHIRNYAA !

“Yah, sama-sama.”

“Kita pacaran nih?” Alvin mencoba meyakinkan apa yang ia dengar lewat handphonenya.
Mungkin saja sinyalnya sedang tersendat, sedang error atau apalah.

“Iyalah.”

Aaah, rasanya bahagia. Ralat, sangat bahagia.
Senyum terkembang lebar di setiap sudut bibirnya. Mulutnya mengulai senyum yang ia yakin mungkin tak akan pernah habis untuk 'gadisnya' saat ini. Baru dimulai detik tadi.

Tanpa ia sadari, ada sebuah rasa yang menyeruak dengan luas begitu memilukannya. Alvin bahagia, sangat bahagia. Namun, ada rasa yang mengganjal dan entah apa.

Satu, ini tidak munafik. Lihat sendiri kan? Alvin bahagia, Tiara bahagia.

Dua, atau ini munafik? Alvin tidak menyadari, rasa apa yang mengganjalnya.

Tiga, seharusnya ini lebih membahagiakan dari ini.

Dan ini memang sungguh bahagia. Mungkin akan selamanya.

***

Disinipun sama. Masih ada suara adzan yang berkumandang membangunkan gue yang tengah asyik bertamasya di pulau kapuk ini.

Gue mengerjapkan mata. Mencoba membuat diri sendiri sadar akan keberadaan gue saat ini.

Oiya, di Graha Hotel. Gue merasa mengganjal sesuatu di bawah tubuh gue. Gue menggeser posisi. Aih, novel kocak ini telah berhasil gue bikin lecek dibagian belakangnya.
Gue mengajak tubuh gue sendiri untuk bangun dilanjutkan dengan menunaikan ibadah sholat subuh. Gue menoleh ke sisi tempat tidur yang lain, ada Noura dengan senyumnya di kala tidur. Begitu teduh, sedap dipandang.

Pantesan Kak Rama naksir.


***

Pagi hari yang masih berlangit redup di Bandung, sebenarnya juga sama saja ketika gue ada di Jakarta. Yah, makin kesininya Bandung panas juga, walaupun nggak sepanas kota Jakarta tercinta gue itu. Kayaknya sih. Ini kan masih pagi banget juga, belum terasa panas. Lagian ini juga masih di hotel, pake AC kan. Jadi ya intinya, gue sok tau.

Gue mengaduk campuran susu kental manis rasa coklat itu dengan segelas air dingin. Sarapan yang biasa gue santap di pagi hari. Biasanya sih pake roti coklat keju. Atau bakpao. Tapi adanya hanya ini, yah mau gimana lagi? Syukuri apa yang ada~

Lagian juga pagi-pagi begini tumben gue kehausan. Engg, biasanya juga sih.
Yaudah, gue memutuskan minum susu aja. Padahal entar mau olahraga. Nggak ada hubungannya juga sih. Tapi, setau gue, kalau habis olahraga terus minum susu, itu nggak baik buat kesehatan. Eh? Atau?


“Mau olahraga ya, Liv?” tanya Noura sambil mengikat rambut panjangnya.

“Kok tau?” tanya gue dengan cueknya, masih mengaduk susu di bagian bawah yang masih menggumpal. Kayaknya nggak enak aja gitu minum susu pas masih ada gumpalannya. Kurang mantap.

“Itu udah lengkap pakaiannya.” jawabnya.

Gue liat diri gue sendiri yang udah memakai celana training biru donker dengan kaos berlengan pendek bergambar Mickey Mouse dibalut dengan jaket coklat gue yang, ehm, baru. Dipadu dengan bergo putih yang setia menutupi aurat gue. Iya kok, gue emang udah memakai kerudung dari SD. SD gue dulu, SD Islam. Keterusan deh sampe sekarang, Alhamdulillah.

Kalo seorang fashionist atau apalah namanya ngeliat gue, pasti dia mencak-mencak sendiri. Semua yang gue pake benar-benar tidak match. Bodolah, gue emang nggak begitu peduli penampilan. Catat, enggak begitu ya, bukan enggak sama sekali. Beda sama kakak cewek gue, Kak Audi, yang emang condong peduli banget sama fashion. Yaah, setiap orang punya karakteristik berbeda-beda.

“Ikut dong,” pintanya.

“Yaudah, paling bentar lagi sepupu-sepupu buluk gue dateng kesini.”

Hahaha. Yang buluk hanya Bang Dion doang loh. Bang Daru mah nggak. Kalo Bang Dion, cuma menang tinggi doang. Otak mah kalah jauh. Tapi gitu-gitu dia laku banget, jomblo nggak pernah sampe 2 bulan.

Eh? Enggak juga deh. Bang Dion juga pinter matematika. Pinter IPA juga deh (bagian reproduksi doang). Lainnya? Haha-haha.

Enggak deng. Bang Dion juga pinter. Ranking juga di kelasnya.

Tapi, tetep aja pinteran Bang Daru.

Bang Daru itu ya, cakep, cool, pinter, ramah, baik, perhatian, keren, wah banget deh pokoknya. Rasanya gue udah berkali-kali bilang deh.

Bang Daru itu sosok kakak yang benar-benar bikin gue envy setengah mampus sama Bang Dion. Pasti enak deh punya kakak keren.

Gue kembali melihat Noura, ia langsung beranjak menuju kamar mandi untuk mengganti baju-sepertinya. Dan gue membawa gelas melamin berisi susu coklat dingin dan segera menegaknya dengan rakus hingga habis.


***

Gedung-gedung serta toko-toko yang menawarkan sejumlah kebutuhan warga sekitar memang belum membuka waktunya untuk berdagang. Namun hawa berbelanja yang memang telah mendarah daging di otak gue telah membuncah untuk dituruti. Tenang, ATM ada di gue. Bebas dipakai kapanpun.

“Masih sepi yah,”

Gue menoleh ke arah Noura, “Iyalah, orang lagi liburan, lagian juga masih jam 6 pagi.”

“Disini ada nggak ya cewek cakep? Lumayan buat cuci mata. Katanya mojang Bandung cakep-cakep, hahaha.”

Gue menunjukkan tampang beler. Tanpa dibuat-buat beler juga kayaknya gue udah ada bakat bertampang beler. Maklum, kakak-kakak gue juga beler. Adik gue juga beler. Kayaknya anak-anaknya nyokap-bokap gue beler semua. Aduuh. Ngapa jadi ngomongin beler?! Beler lu, dasar.

“Playboynya keluar deh, inget ada Rasya yang setia menunggu di Jakarta, Bang.” ujar gue bijak. Tumben nih gue bijak, harusnya gue masuk rekor MURI nih. Lumayan, nampang nama.

“Iyaaa nggak apa-apa laah, mumpung Rasya-nya nggak ada ini kan? Hahaha. Enggak deng, bercanda doang gue.” sanggah Bang Dion sambil menyeringaikan giginya.

Bang Dion itu tinggi banget. Sekarang aja, tingginya sudah mencapai 180 sentimeter padahal masih kelas 2 SMA. Sedangkan Bang Daru yang lebih tua setahun di atasnya, cuma 175 sentimeter. Cuma? Gue aja cuma 160 sentimeter aja nggak protes kok. Suram.

“Huuu. Takut diputusin kan.” ujar Bang Daru sambil membetulkan letak kacamatanya.
Gue sendiri lebih mengalihkan otak gue kemana tepatnya letak Funone Café berada. Biar entar siang gampang gitu lho buat kesananya
.

“Cari Funone Café yuk.” ajak gue.

“Elu Zev, pasti deh sukanya nyari restoo mulu. Udah gendut tambah gendut lu.” ejek Bang Dion.

Dalem. Iya gue tau gue gembul, tapi nggak usah frontal gitu juga bisa kali.

“Wah, offense nih,” tegur Noura sambil bertolak pinggang. Membuat wajah tambunnya memunculkan semburat ‘gendut’ di pipinya.

“Hahahaha, mampus lu Bang, gue ada temennya, weeeek.” Gue pun tak kalah untuk menyudutkan Bang Dion. Dan biasanya, kalau kita semua yang sedang berkumpul sudah tengkar untuk urusan fisik, ada Kak Rama yang mendukung Bang Dion ngeledekin gue, tapi tetep membela Noura. Curang banget emang. For your information, berat Kak Rama hanya 55kilogram untuk tinggi sekitar 175 sentimeter. Jadilah trio jangkung nan kurus, yaitu Bang Daru, Bang Dion dan Kak Rama, ngeledekin gue habis-habisan kalau mereka mendapati gue sedang asyik melahap sesuatu atau saat gue sedang mengunyah apapun itu.


“Yaudah cari Funone Café dong, bantuin guee,” lanjut gue lagi. Gue beneran pengen liat aslinya deh. Fotonya sih ada. Sketsanya doang sih, itu juga yang gambar Ayah. Nggak begitu bagus. Soalnya Ayah lagi males dan sibuk, katanya. Sama juga sih kayak yang di Jakarta. Tapi jiwa gue ini kan jiwa berkuliner ria.

“Ntar aja deh, balik ke Hotel yuk, gue masih ngantuk.” tawar Bang Dion sambil menguap lebar-lebar. Liat mulutnya kebuka bak kudanil nggak dikasih makan setahun gitu rasanya pengen gua garuk tuh.

“Yaudah, ayuk balik ke hotel.” ujar Bang Daru meng-iya-kan. Nampaknya lelaki berumur 17 tahun itu juga ingin kembali ke pulau kapuk penuh iler miliknya.

“Zev, habis ini belanja yuk,” ajak Noura nggak nyambung. Ini bocah emang kadang rada beler. Mungkin belernya ketularan Kak Rama. Nggak heran, Kak Rama emang membawa dampak buruk bagi siapapun yang dekat sama dia.

“Tokonya belum buka, Nouraku sayaaang, sekarang masih jam 6 pagii.” jawab gue sambil menyeka beberapa helai rambut gue yang ingin menyembul di pelipis kiri gue.

“Iya sih, yaudah yuk balik. Kita sarapan,” ajak Noura lagi. Ini bocah, bocah beler banget. Yang namanya pengen kurus itu, kalau habis olahraga jangan makan dulu atuh. Nah, sekitar setengah jam setelah olahraga, baru deh boleh minum sama makan. Kalau main makan aja habis olahraga sih ya sama aja bodong, gendut-gendut juga.

“Ngomong-ngomong, kita balik ke Hotel ke arah mana yah? Gue nggak inget jalan.” tanya Bang Daru sambil melengak-lengok ke sudut manapun yang dapat ia jangkau.
Oiyayah. Mampus gue. Masa iya belum ada sehari di Bandung udah nyasar duluan sih? Lucu bangeet. Kelitikin dooong. Jayus abis.


“Nggak tau.” jawab gue. Yah, pasrah dah. Kalau begini mah seharusnya ada Kak Rama. Biasanya kan dia suka menghafal jalan. Maklum, dia mempunyai bakat alami atau telah terlatih secara otodidak menjadi sopir.

Wajah Noura terlihat panik, “Aku nggak tau, yaah gimana dong,”

“Tenang aja, aku tau kok,” ujar Bang Daru akhirnya.

AH! BANG DARU ! YOU’RE MY HERO !


***

Tanpa memerdulikan tulisan ‘CLOSED’ yang tertera di depan pintunya, ia tetap mencoba membuka pintunya. Ternyata pintunya tidak terkunci, atau lebih tepatnya, sudah dibuka.

Tubuhnya yang menjulang tinggi menyebabkan dirinya harus sedikit menundukkan kepalanya ketika memasuki sebuah café di kawasan entah apa namanya.

“Permisi,” ujar laki-laki itu dengan melangak-melinguk di dalam café redup bernuansa modern itu ke segala arah.

Seorang perempuan tinggi, putih serta memiliki wajah manis datang, “Ya, maaf siapa ya?”

“Saya Rama, saya ditugaskan oleh Ayah saya untuk bekerja sambilan disini untuk menjalani hukuman,”

“Ayah?”

“Iya. Oiya nama Ayah saya, Bapak Irwan Ghazali, direktur utama. Ini kartu namanya,” Rama memberi sebuah kertas kecil ke arah wanita itu. Rama melihat nickname yang ada pada baju perempuan itu, Okta.

“Oh, anaknya bapak direktur? Kok bisa dihukum sih?”

Rama menghela nafas, “Aduh mbak, bisa ketemu sama yang punya café aja nggak? Saya harus langsung kerja soalnya,”

‘atau enggak, gue bisa mati laper disini karena nggak punya duit..’ ucapnya dalam hati.

“Oh boleh-boleh, silahkan ke sebelah sini, mari..”

Rama hanya memainkan alisnya dan mengikuti mbak-mbak itu.

“Gitu kek dari tadi..” gumam Rama sambil membetulkan letak tas selempangnya.

“Hah ? Apaan?”

“Nggak,”

Rama terus mengikuti Okta sampai ke sebuah ruangan di sudut café.

“Nah, ini ruangannya.”

Rama memandang ke sekelilingnya dengan mengerutkan keningnya, “Ya makasih.”

“Sama-sama.”

***

Café memang salah satu tempat favorite gue. Tempat favorite gue sih simple aja ; kamar gue, tempat makan, tempat belanja. Di tempat-tempat itu, gue bisa jadi diri gue sendiri. Tapi, di tempat lainnya juga sih.

Dan sekarang, pukul 12 siang. Waktunya makan siang. Perut gue minta diisi.

Taksi yang gue tumpangi menuju tikungan ke kiri. Sampailah gue di sebuah tempat.
Setelah gue membayar jumlah biaya yang ada pada argo taksi, gue langsung keluar taksi dan melihat ramainya kendaraan yang berparkir di tempat ini.

Wow. Funone Café di Bandung sedikit lebih kecil sih dari yang di Jakarta. Eh? Apa sama aja ya? Nggak tau deh, hehehe. Gue nggak ngukurin sih, nggak ada bakat jadi kuli bangunan.

Arstitektur bangunan café ini sih simple aja ya. Yah, di bagian atas café, ada suatu tulisan ‘FUNONE CAFÉ’ besar-besar dengan tulisan font Billo Dream. Lucu deh. Luar cafenya terlihat dengan dinding batu-bata di bagian bawahnya dan ada nuanasa krem di bagian atasnya. Keren abis. Sama aja sih yang seperti di Jakarta. Cuma kok segala yang ada di Bandung jadi mendadak keren sih ya? Apa gue aja yang norak?

Gue masuk ke dalamnya. Begitu gue masuk, gue disambut seorang pelayan perempuan. Wajahnya menunjukan dengan jelas bahwa dia adalah seorang bule.


“Welcome to Funone Café, have fun.”

Heh? Iye dah mbak. Iye iye aje.

Gue ke meja resepsionis yang berada persis di depan pintu masuk.


“Siang, meja untuk berapa orang?”

“Satu aja.”

“Silahkan ke meja nomor 5 di sebelah sini,”

Mbak-mbak yang berdiri di belakang meja resepsionis itu menoleh kebelakangnya, ada laki-laki yang berpostur tinggi nampak sedang mengelap meja, “Kamu, yang baru, ini anterin nona ini ke meja nomor 5 ya.”

“Meja nomor 5? Oke.”

Gue sepertinya akan diantar oleh seorang pelayan pria. Tinggi juga. Tapi kok rasanya familiar ya?

“Kesini nona..” ujarnya sambil keluar dari belakang meja resepsionis.

Wow. Gue boleh ngakak nggak?

Cowok itu, pelayan itu, kakak gue! Dan tentu saja, Kak Rama menyadarinya.


“Zeva, elu ngapain disini? Bikin malu aja. Gangguin gue mulu, lu.”

“Ih, emangnya kenapa? Orang gue laper kok, udah buruan anterin gue ke meja nomor 5 deh, lo kan pelayan disini, gue tamunya. Tamu adalah raja, tau.”

“Ah, bacot lu. Yaudah ayo sini.”

Gue ngakak, dalam hati. Pembalasan, dimulai.

Pakaian yang Kak Rama kenakan, simple aja sih. Cuma kaos hitam yang memiliki kerah putih dengan celana hitam panjang dengan beberapa kantong di bagian paha dan lutut.
Itu baju pelayan khasnya funone café. Di sisi kiri kantung bajunya, terdapat nickname kecil bertuliskan ‘Al’. Woooo Al, Al. Namanya panggilan di sekolah tuh. Sok keren aja. Temen gue yang namanya Al, jauh lebih keren daripada kakak gue. Tapi gue udah naik level. Iya, gue sama Al yang temen gue, itu temen les. Cuma gue udah naik level soalnya waktu itu dia sempet keluar tempat les dan masuk lagi.

Seragam pelayannya nggak keren. Lebih nggak keren lagi saat dikenakan oleh kakak sedeng gue.


“Nih,” Rama dengan santainya mengeloyor pergi ke arah meja resepsionis.

Lah lah?,
“Eeh, gue mau makan.” cegah gue. Apa-apaan tuh?

“Yaudah, mau pesen apaan?” tanyanya sambil mengeluarkan sebuah kertas kecil serta pulpen kecil.

“Ih kok nggak ramah sih?”

“Buat apaan gue ramah sama lu?”

“Gue tamu tauu!”

“Iya gue tau, siapa juga yang bilang lo lagi dihukum hah?”

“Au ah, gue mau makan sekarang.”

“Yaudah mau makan apa?”

“Peanut donnut nya satu, pizza ukuran kecil yang bertabur sosis satu, sama hot chocolate.”

“Peanut..”

“Eh bentar, tambah sama orange juice deh.”

“Oke, jadi peanut donnut, small pizza sosis, hot chocolate, sama orange juicenya masing-masing satu,”

“Yap, cepet ya nggak pake lama.”

“Bodo amat,”

“Anj….”

Gue berfikir. Gue harus bales kak rama.

Tapi..

Satu,

gue nggak tau mau ngebales dengan perbuatan apaan.

Yah, mungkin gue emang dikasih hati nan baik sama Allah. Jadi yaaa, gue tidak mempunyai bakat apapun untuk menyakiti dan melukai serta menjahili orang-orang, terutama kakak sedeng gue yang emang sehari-harinya nyiksa gue. HAHAHA. Gue yakin lo
mau muntah.

Mana lagi makanan gue? Ini cacing-cacing udah pada teriak-teriak minta dikasih makan nih.


-

“Silahkan nona, ada lagi?” seorang pelayan perempuan yang memiliki lesung pipi serta berwajah manis, dan yaaah lumayan tinggi, menghampiri gue yang lagi asik mencoba menghubungkan koneksi handphone gue dengan koneksi wi-fi di café redup ini.

“Nggak ada, makasih ya.” sambut gue dengan senyum.

Pelayan itu mengangguk seraya pergi ke arah sebuah pintu di satu sudut.

Gue menatap makanan yang telah tersaji dengan begitu ‘apik’nya. Susunan atau tata makanan yang ada disinipun sama. Tidak ada yang berbeda. Situasinya-pun sama. Jadi apa yang beda?

Ini menjelaskan, memang semuanya butuh perubahan.

Ah, mikir apa sih gue. Perasaan nggak nyambung sama sekali.

Lebih baik makan saja semuanya tanpa memrotesi apapun
.

***

Gue menapaki kaki gue di trotoar jalan kota Bandung yang telah gelap. Gue sih pernah ke Bandung sewaktu study tour, tapi yaah mana gue hapal gitu jalanannya. Mana ini sudah malam lagi. Gue menatap jam tangan yang melingkar di lengan gue. Hem, jam 8. Lama juga ya gue jalan-jalan di Mall-nya setelah makan siang. Dan gue tengah membawa seplastik makanan dan voucher pulsa titipan sepupu-sepupu gue dan Noura. Dan niatnya, gue mau makan malam dulu.

Gue membuka aplikasi twitter pada handphone gue. Seperti biasa, gue membaca timeline yang ada sambil ketawa-ketiwi. Semua status temen-temen gue isinya begini ;


“Bosen abis dirumah, ga kemana-mana”

“Otp w/ @...”

“Otw to PIM”

“Asik besok ke Ancol”


Itulah ya, aneka ragam status remaja labil zaman sekarang. Tapi, ini ada satu status yang paling, ah, apa ya?

tiarabellaa :p haha RT @alvinpratama :/ RT @tiarabellaa suram, pulsa habis

Apaan? Apaaan? Apaaaaan?

Apa yang suram? Apaan yang begitu?

Maksudnya mereka sms-an?

Gue jadi curiga, masalahnya udah hampir seminggu lebih gue nggak buka tweetnya Alvin.
Gaswat.


tiarabellaa :p haha RT @alvinpratama :/ RT @tiarabellaa suram, pulsa habis

gatau haha RT @mahesaandika lo jadian ya sama tiara? PJ njiiiiir !

au ah RT @abiialfian publish kek relationshipnya

youknowmesowell

mengapa hatiku cenat-cenut :/

--‘’ parah abis

anjir lola banget nih modem kampret

ga, biasanya udah tidur RT @tiarabellaa emang kenapa? RT @alvinpratama tumben ..

tumben belum tidur RT @tiarabellaa anjir kocak nih ftv


……

God ! Itu statusnya? Alamaaaak, jadian bener dia sama Tiara? Tiara anak X-7 yang cantik itu? Yang pinter itu? Yang tinggi itu? Yang putih itu? Yang hampir perfect itu?

…… *hening*

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA !!!!

Nggak ah, itu hanya perasaan gue aja kali. Selama ini kan gue yang nge-ceng-in dia sama Tiara.

Boong ah.

Serius ih parah. Oke, gue harus sms Aufa.


To : Aufa X-9
Fa, Alvin jadian ye sama Tiara?

Oke. Gue mengangkat kepala gue.

Anjir asing banget ini wilayah.

Nah lo mampus. Ini dimana?

Bagusnya, gue nggak bawa peta atau apapun. Pulsa sepupu-sepupu gue pada habis. Anjir mampus ini dimanaaaa?

Oke slow, Liv, slow. Lo yang jelas masih di Bandung dan lo ada duit.

Laper lagi.

Nggak, tenang, gue ada makanan banyak di plastik
.


‘Auuuuuuuu’


Hahaha. Suara apaan tuu? Anjing ya? Asu.

Gue memberanikan diri menengok ke belakang.

M-a-m-p-u-s. Beneran ada anjing loh di belakang gue. Dan gue nggak kenal sama sekali ini jalanan. Ini nampaknya masih di jalan raya, hanya saja agak sepi.

Aduh gimana dong. Kata Ibu dulu, kalau ada anjing jangan lari.

Eh tapi ini gue sendirian.

Oke, mungkin jalan ini salah. Gue nengok kanan-kiri. Oke, kiri kosong dan kayaknya menuju ke jalan raya yang ramai. Gue memasukkan handphone gue ke tas selempang gue.
Dan,

LARIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII


‘Guk. guk guk guuk. auuu, guuk, gukgukgukgukguk’

“Ibuuuu! Tolong-tolong ada anjing! Tolongin guee! Aaaa! Astaghfirullah ya Allah tolong aku ya Allah tolooong! Aduh ini jalan kemana lagi? Yah anjingnya masih ngejar ah mampus!”

Gue terus berteriak seperti itu sambil terus berlari kencang. Sumpah ya kalau lo ada di posisi gue, itu mana anjingnya gede banget mana warnanya item lagi. Horor abis.

Gue berbelok ke kanan. Dan menemukan suatu bangunan rumah. Au deh itu rumah apaan. Dan dalam keadaan seperti ini, gue beneran nggak bisa mikir ini rumah apa. Bodo amat dah, orang pintu pagarnya terbuka ini.

GREEEEK. Gue menutup pintu pagar itu dan menghembuskan napas lega.

Alhamdulillah. Tadi itu horror banget.

Gue menoleh ke belakang gue. Ini rumah siapa? Lampunya sih nyala. Dan gue menoleh ke sekeliling. Oh, ini kos-kosan. Baguslah. Berarti ada orang.


“Sorry mbak, siapa ya? Kos-an udah penuh.”

Aiih. Siapa juga yang mau ngekos? Ogah dah.

“Nggak kok, ini saya tadi cuma menghindari anjing aja.”

“Ooh iya, di deket sini emang suka ada anjing keliaran kalau udah jam 8 lewat.” jawabnya sambil mengusak rambutnya sendiri. Huu sok keren lo. Tapi ganteng euy.

“Kenapa?”

“Dilepasin gitu aja sama majikannya.”

“Aih, lain kali bilangin tuuh jangan dilepas, bikin orang jantungan aja.”

“Lah, jangan sama saya dong.”

Gue berfikir, “Iya sih.”

“Terus mbak sendiri mau ngapain kesini?”

“Nggak ngapa-ngapain. Kan tadi udah bilang.”

Kami berdua hening agak lama, sampai si ganteng itu membuka mulutnya, “Oh, yaudah saya masuk dulu ya.”

“Iya. Saya juga pulang dulu.” Gue langsung berbalik dan menuju pintu pagar. Keluar dari kos-kosan itu, gue membuka aplikasi twitter lagi. Dan berencana mengecek twitter Tiara.

-

Bodoh. Semestinya, gue tanya dulu jalan pulang ke mas-mas ganteng tadi! Tulil. Gue berbalik, kembali ke kos-kosan tadi. Untuuung aja, belum jauh.

“Misi,”

Ia yang tadi menoleh, “Eh mbak yang tadi, kenapa?”

“Boleh tunjukkin jalan saya pulang? Saya bukan orang sini jadi nggak tau jalan.”

Ah bodolah. Bodo amat nggak kenal juga. Lagian ini darurat banget pake nyasar segala
guenya.


“Boleh, boleh. Sebentar,” ujarnya sambil mengambil sebuah jaket berwarna hitam.

“Iya.”

Ya Allah, semoga dia buka orang jahat. Gue nggak biasa minta tolong sama orang yang gue enggak kenal sebelumnya, yah tapi mau bagaimana lagi? Gue sama sekali asing sama jalan ini.

“Mari,” ujarnya dingin. Ini bocah cuek, ramah, apa gimana ya?

Gue hanya bisa mengangguk.


“Tadi tuh kos-kosan ya?” tanya gue iseng.

“Iya, mbak.”

“Ngekos juga disana?”

“Nggak kok, saya disini Cuma liburan aja, saya mah tinggalnya di Jakarta.”

“Oh ya?”

“Iya, di daerah pusatnya.”

“Oh gitu. Masih sekolah?”

“Iya, masih kelas sepuluh.”

“Oh ya? SMA mana?”

Kayanya gue iseng banget nanyain. Ini bocah lumayan juga sih, ganteng.

“SMA Negeri 1 Galileo.”

Gue tersontak. Wow, samaan dong.

“Iya? Waah.”

“Kenapa mbak?”

“Sama dong,”

“Lho? Mbak dari Jakarta juga?”

“Iya, kelas sepuluh juga. Eh jangan panggil mbak dong, nggak enak, kita kan sama-sama kelas sepuluh.”

“SMA mana mbak?”

“Sama kaya situ. Ih dibilangin jangan panggil ‘mbak’.” ujar gue lagi. Ya nggak enaklah, tampang gue kan muda banget gitu ya jadi ya nggak pantes dipanggil mbak
juga, haha. HA-HA.


“Masa sih? Saya nggak pernah liat mbak, eh lo tuh,”

“Gue juga kali, lagian gue juga nggak famous gitu.”

“Nama lo siapa?” tanyanya. Gile, main tanya nama aja.

“Oliv.”

“Oliv siapa?”

“Olivia Zevalione,”

“Ribet amat.”

“Emang.”

“Tapi, kayaknya pernah denger.”

“Oh ya?”

“Iya gue pernah denger.”

“Haha, lo di kelas berapa?”

“Sepuluh-lima.”

“Waah, eh, eh, sekelas sama Alvin dong?”

“Iya, lo tau Alvin?”

“Tau dong,”

“Naksir lo? Banyak saingan,”

“Tau aja lo, udah biasa, dari SD.”

“Dari SD?”

“Iya, udahlah jangan ngomongin Alvin.”

“Oke,”

“Eh lo ikut ekskul apa?” tanya gue. Kali aja gitu, se-ekskul sama Alvin.

“Futsal sama basket, tapi bentrok banget jadi gue mau pindah ke fotografi bareng temen gue juga,”

“Iya? Waah bakalan satu ekskul dong!” seru gue sambil menyengirkan cengiran gue.

“Hah?” dia bingung.

“Ekskul gue kan fotografi juga.”

“Iya? Sama apa?”

“Sastra, hehe.”

Dan gue terlibat obrolan nggak penting macam ngomongin saudara-saudara gue yang gila. Sampai ngomongin Alvin dan Kak Rama segala. Yah, Mahes satu ekskul dengan Kak Rama dalam ekskul basket dan dia juga satu ekskul futsal dengan Alvin.

“Nah, ini udah jalan besar. Tinggal naik taksi aja.” ujarnya sambil menaruh tangannya dalam kantong jaketnya.

“Oke, makasih banget yah, Mahes.”

“Iya sama-sama.”

***

Gue duduk diam sambil melongin twitter di pangkalan taksi. Entah kenapa, begitu sepi disini. Mana di sebelah kiri gue ada orang main gaple lagi.

“Lah itu tiara bukan? Kok dia ada di Bandung?” gumam gue sambil terus melirik –yang mungkin itu adalah Tiara- yang sedang bersandar pada tiang dan memainkan handphonenya sambil terus tersenyum bahagia.

Mungkin karena dia merasa dilihat, ia melihat balik ke arah gue. Gue langsung membuang muka.

Bukannya apa, gue nggak ‘sreg’ aja liat tampangnya.

Waduh.Bukan karena apa juga, fisiknya bikin envy banget. Kabur ah.


“Taksi, mbak?”

Gue mengangguk dan langsung masuk ke dalam taksi.

“Tujuan?”

“Graha Hotel.”

***

Yeeeeaaaay! Part 4 jadi ulala ulala *joget-joget*
Uwaah maaf, gambarnya lupa gue taruh mana. Jadinya nggak di post sekarang.
Ntar ya, di Part 5 yang nggak tau kapan bakalan gue post.
Secepatnya deh ;)
Kaya biasa, kritik, komen, dan saran selalu ditunggu.
Boleh lewat sms, twitter, fb, ym, apa aja deh :)
Byeee :) tunggu postingan selanjutnya yaaa ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar