Senin, 13 Desember 2010

Untitled for Us

Untitled for Us


Hanya sebuah masa, dimana aku berada.

Layaknya berpijak ditepi pantai. Di satu kubu, Aku ingin melangkah maju, yang ku anggap dari dulu itu sebuah keputusan hebat. Walaupun aku tau itu semua menyebabkan hidupku terancam, masa depanku beresiko besar dan parahnya, aku tau, aku akan segera tenggelam. Di lain kubu, Aku juga menginginkan kakiku menuntun untuk mundur, namun aku sadar, bagaimana jalan yang dilalui dari rumahku menuju kemari. Semua itu akan sia-sia saja bukan jika aku kembali ke awal ? Untuk apa rintangan dalam perjalananku dari rumah ke laut ? Hanya sebuah manfaatkah ? Hanya bertahankah ? Kesabarankah ? Kekuatan ? Atau kesakitan ?Tragis.

Itu semua benar adanya, aku memang berada di tepi pantai saat ini. Sepi. Bagus. Di senja hari yang kusukai. Aku ingin menyaksikan fenomena kesukaanku, matahari tenggelam.

Aku-pun melangkah maju. Apa ? Majukah ? Baiklah. Itu hidupku. Aku berhak menentukan nasibku sendiri. Tanpa diganggu orang lain. Yah, seperti yang aku dambakan. Langkah kaki lentikku itu menuntunku berjalan. Terus berjalan sampai air menyentuh pinggangku. Hanya sampai situ ? Tidak. Enak saja hanya sampai situ. Aku ini perempuan tangguh. Aku ini kuat. Aku tidak mudah menyerah. Kakiku terus melaksanakan apa yang diperintahkan oleh otak bodohku itu. Kini apa ? Aku tenggelam. Tenggelam bersama setiap kepingan puzzle yang ku dapat darinya. Siapakah dia ? Tak lama, Aku-pun duduk. Duduk tepat di dasar laut yang kini mulai berombak kencang. Aku duduk ditengah bentangan air yang luas. Aku memang menginginkan tenggelam. Bahkan aku ingin hanyut saja dibawa amarah ombak. Seakan aku masih merasa bisa untuk bernafas di dalam bentangan laut luas yang siap menerkam siapapun yang masuk kedalamnya serta berbagai rintangan jika aku ingin tinggal di dalamnya. Tentunya aku harus berbagi tempat bersama teman-teman baruku. Yang kuyakin mereka nampaknya tidak suka akan kehadiranku. Aku tau resikonya. Aku sudah berkomitmen. Aku tetap melakukannya. Menganggapnya sebagai sebuah pengorbanan akan kejamnya hidup. 5 detik, 15 detik, berdetik detik. Mulutku mulai mengeluarkan gelembung gelembung. Aku tetap tenang. Aku sadar apa yang kulakukan. Mulai datang suara suara. Suara hatiku. Kubu kubu yang beradu pendapat. Perang tak bisa dihindarkan lagi. Aku memberontak. Ah. Ini toh hidupku. Aku kembali berfikir. Untuk apa mati konyol dengan duduk di dalam bentangan laut yang luas ini ? Aku kembali berfikir. Alisku bertaut. Mataku mulai kututup, perih rasanya membuka mata di air asin ini. Bibirku terkatup rapat. Geratakan gigiku terdengar lewat frekuensi zona laut. Ceroboh. Tanpa menyadari suatu hal yang terjadi. Aku tidak pernah tau. Hatiku memantapkan sebuah keputusan. Semua keputusan ini, Aku ambil karena aku merasa lelah, aku ternyata tidak bisa. Tidak bisa untuk bernafas di laut ini. Sulit. Aku kembali membuka mata. Aku mulai merasakan sesaknya tenggelam. Bahkan aku pun tidak sadar akan menjadi kenyataannya dari impianku, yaitu hanyut terbawa amarah ombak.

Aku panik. Aku mulai membuka mataku kembali. Ah, sialnya aku tidak jago berenang. Tidak. Semuanya mulai gelap. Semuanya berputar mengelilingiku dengan amarah. Aku takut… Malam laut itupun datang juga.

Badanku sudah sangat lemas. Aku tidak kuat lagi untuk terus menggerakkan kakiku supaya bertahan di atas air. Adrenalinku makin terpacu ketika aku merasakan ada yang berenang datang. Aku mulai berfikiran buruk. Jangan-jangan itu penghuni laut ? Tidaaak. Aku tidak mau mati sekarang. Aku menyesal, Tuhan. Aku sungguh tidak mau hal itu terjadi sekarang. Tuhan, aku mohon. Aku tau, aku ini hamba-Mu yang bodoh. Begitu bodohnya sampai aku ingin hanyut terbawa amarah ombak ini. Aku bodoh, Tuhan. Aku tau. Aku juga hamba-Mu yang begitu munafik. Bahkan aku lebih sering mengingatmu ketika aku sedang ada masalah saja. Aku mohon, Tuhan. Aku mohon dengan sangat. Aku mohon, selamatkan nyawaku. Aku berjanji tidak akan mengulangi hal bodoh ini lagi.
Air mataku perlahan turun. Nafasku tersengal-sengal. Aku takut. Aku takut sekali. Dia yang berenang datang mendekatiku. Aku mohon, Tuhan. Tiada yang sulit bagimu bukan ? Karena itu, Aku mohon selamatkan aku.

Aku menutup mataku. Baiklah, aku pasrah. Aku sudah tidak sanggup untuk terus mengapung ketakutan disini. Aku tau, Kau punya takdir yang terbaik untukku. Aku masih bernafas bebas. Sungguh aku menarik nafas yang dalam. Dan aku mulai melemaskan tubuhku. Aku pasrah…

Jika aku masih boleh meminta, aku hanya ingin hidup , ya Tuhan.
Mataku masih tertutup. Aku takut untuk membukanya. Aku merasakan ada yang makin mendekatiku. Lebih tepatnya, berenang mendekatiku. Namun aneh, jika penghuni ini adalah binantang laut, mengapa frekuensi ini menunjukkan bukan ? Entahlah, aku pasrah. Aku sungguh menyerahkan takdirku pada-Mu.

Apa ini ? Aku pusing. Baiklah, aku tidur saja. Tidak peduli saat aku sadar kembali, aku masih di daratan, lautan atau akhirat.

Aku takut…

Aku mengerti, rasa takut hanyalah milik seorang pecundang

Aku sadar aku begitu

Mohon sekali lagi, aku mohon

Selamatkan aku…



***


Wow, ini masih prolog buat cerbung yaah :)
Eh ? Prolog ? Bukaaan.
Nggak tau deng namanya apa :p
Sebuah awal yang nggak jelas.
#re-read . Sumpah nggak jelas banget ish hahaha.
Komentar, kritik, saran hubungin 14022 *bosen 14045

2 komentar:

  1. keren keren keren..
    siap-siap aku tagih terus-terusann yaa :p
    castnya saha ??

    ditunggu part satunya :)

    BalasHapus
  2. wuaaw --''
    iya hahaha siap-siap juga aku tunda terus yaa hahaha
    castnya ? bukan ic ya kak :p
    jadi bayangin sendiri hahaha
    ini juga nggak aku post di ww atau apapun kecuali blog

    iya atuh, matur nuwun nyaa :)
    sip sip :DD

    BalasHapus