Sabtu, 14 Agustus 2010

Tercipta Untukku

Tercipta Untukku

Seringkali hal yang kau remehkan adalah hal yang berarti untukmu
Begitu juga dengan cintamu
Seringkali kau meremehkan cinta
Sehingga kau tak menyadari bahwa cintamu itu telah menjadi bagian yang cukup berarti di hidupmu
Jangan membuatnya pergi darimu dengan sia-sia
Jangan abaikan dia
Jangan membuatmu kehilangannya
Jangan membuat kau menyesal pada akhirnya
Karena rasanya, aku yakini tidak akan sama ketika kau mendapatkan cinta


***


Sivia menuruni tangga rumahnya sambil berlari kecil sambil memakai jam tangan kesayangannya. Ia tak mau membuat Rio-kekasihnya menunggu lebih lama.
“Mi, Via berangkat dulu ya” pamit Sivia kepada Mami-nya sembari menyalimi tangan Mami-nya yang sedang memasak di dapur.
“Iya, hati-hati ya sayang”
“Iya Mi”

“Rio” panggil Sivia sesampainya ia di teras rumahnya. Sivia tersenyum mendapati Rio yang sedang duduk di teras sambil meminum jus jeruk.
Rio sedikit terbatuk begitu mendengar suara Sivia.
“Eh maaf yo”
Rio mengangguk. “Bentar, ngabisin ini dulu” Rio langsung menghabiskan jus jeruknya yang tinggal seperempat.
“Ayo jalan” ujar Rio dan langsung menghampiri motornya kemudian menyalakan mesinnya.
***
Sivia masuk ke deretan novel dan mulai mengambil satu novel yang diketahui Rio adalah salah satu koleksi Sivia. Sivia sangat menyukai novel, sudah satu rak buku yang ada di kamar Sivia penuh dengan novel-novel koleksinya.
Rio yang melihatnya hanya tersenyum secara sembunyi. Namun fikirannya segera sadar pada tujuannya ke toko buku.
“Vi..” panggil Rio
“Iya” Sivia menoleh dan memberikan senyumnya.
Sivia agak kesal dengan tingkah Rio yang selalu buang muka ketika ia beri senyuman.
“Tujuan kita kesini buat apa?”
Sivia tertawa, “Oh iya, lupa. Ayo ke deretan buku pelajaran. Atau enggak, kamu bakal di remedial untuk yang kedua kalinya”
Rio melengos, membuang muka.
Sivia menghela nafas. Sudah satu tahun bahkan memasuki tahun kedua hubungannya dengan Rio. Namun Rio masih saja bersikap cuek padanya. Tapi setidaknya, cueknya perlahan hilang untuknya. Catat, hanya hilang untuk Sivia, tapi tidak hilang kepada teman perempuan yang lainnya. Namun Sivia masih bisa memaafkannya, terserah Rio mau bersikap apa padanya. Memiliki Rio sebagai kekasihnya pun sudah lebih dari cukup.
“Ayo ah, nggak usah gitu juga kali yo sikapnya” Sivia berlalu meninggalkan Rio yang masih membuang muka.
Rio mengikuti Sivia yang berjalan lebih dahulu. Rio memperhatikan Sivia dari belakang, ‘tuh anak ya, kebiasaan kalo jalan nggak liat – liat’ batin Rio. Lalu segera menghampiri Sivia, namun langkahnya terhenti ketika melihat siapa yang ditabrak Sivia.
Sivia terduduk sambil mengelus-elus kepalanya yang terantuk orang yang sedang nggak lihat jalan juga. Intinya kedua orang itu –Sivia dan entah siapa namanya sama-sama tidak lihat jalan.
“Eh sorry, eh kamu….”
Sebuah tangan terulur di hadapannya. Sivia mendongak ke atas, ke orang yang ia tabrak dan menabraknya. “Cakka ?”
Cakka-orang yang menabrak dan ditabrak Sivia tadi, tersenyum dan menggerakkan tangannya yang terulur untuk membantu Sivia bangun.
Sivia meraih tangan Cakka dan menariknya.
“Makasih ya kka” ucapnya.
“Iya sama-sama” jawab Cakka. Cakka memperhatikan sekelilingnya, tepatnya sekeliling Sivia.
“Kamu kesini sama siapa?” tanyanya
Cakka yang menyadari kehadiran Rio langsung menganggapi, “Udah, nggak usah. Duluan ya Vi” Cakka berlalu sambil memberi senyumnya, senyum yang dulu pernah ia berikan untuk Sivia.
Cakka berjalan melewati Rio yang berpura-pura tidak melihatnya, “Jagain dia baik baik bro, atau gue ambil Sivia balik, hehehe” bisiknya ketika melewati Rio.
Rio yang mendengarnya hanya tersenyum tipis.
***
Siang itu, Rio sedang bermain bola di lapangan. Rio memang mengikuti sebuah club bola.
Rio bergidik geli ketika melihat Zahra yang begitu perhatian kepada Sion yang kelelahan. Zahra mengambil sebuah lap dari sebuah kotak yang entah apa namanya dan memberikannya pada Sion guna menyeka peluhnya yang bercucuran.
“Capek?” tanya Zahra
“Capek dong, eh, aku minta air minum”
Zahra yang mendengarnya segera mengambil botol minum dan memberikannya kepada Sion.
Rio yang melihatnya semakin merinding.
Alvin yang sedari tadi duduk di sebelah Rio, heran melihat sikap Rio yang aneh.
“Kenapa lo yo?”
Rio menoleh ke Alvin, “Lo nggak liat?”
“Liat apaan?” Alvin mencari-cari objek yang tadi dilihat Rio
“Itu, Sion sama pacarnya”
“Yee, biasa kali yo. Mereka mah udah dari dulu gitu. Kenapa?”
“Nggak, geli aja gue liatnya”
“Ih, biasa aja kali yo. Mereka biasa aja ah nggak lebay”
Rio diam , kemudian mengambil air minumnya di tas.
Alvin mengangguk faham, “Makanya yo, sama pacar jangan cuek-cuek amat”
Rio terbatuk, “Gue nggak cuek kok sama pacar”
“Iya ? setau gue, dan yang gue tau, lo sama Sivia tuh kalo pacaran ngomonginnya pelajaraaan mulu, kalo jalan pasti berbau-bau pelajaran, trus kalo lo ke rumah Sivia juga nggak jauh-jauh dari belajar dan semacamnya”
“Yee, pacaran gitu kan bermanfaat”
“Kasian Vianya tau”
“Vianya aja seneng-seneng aja kok”
“Iya kelihatannya, emang lo tau dalam hatinya gimana? Nggak kan?”
“Ya emang gue nggak bakal tau kalo dia nggak bilang”
Alvin dan Rio terlibat percakapan yang serius namun ruwet.
Cakka, kebetulan juga satu club dengan Rio. Mendengar percakapan itu, batin Cakka tertarik untuk ikut bergabung.
“Rio, jangan remehin cinta kayak gitu dong” ujarnya sembari duduk di sebelah Rio.
“Siapa yang ngeremehin? Nggak kok”
“Lo tau? Sebelum Sivia sama lo dia kan pacar gue”
“Ya gue tau itu”
“Salah satu penyebab gue putus sama dia? Lo tau?”
“Nggak”
“Dulu, gue remehin Sivia, dia gue cuekin terus. Sampe akhirnya, dia mutusin gue karena dia tau kalo gue macarin dia hanya karena taruhan”
Rio mengerutkan keningnya, “Maksudnya?”
“Awal gue jadian sama Sivia, karena temen-temen gue, yaudah gue berusaha deketin Sivia walaupun gue nggak suka sama sekali sama Sivia. Dan akhirnya, gue jadian sama dia. Tapi gue acuh banget sama dia, gue remehin semua yang dia kasih ke gue, ya seperti perhatiannya, dia ulang tahunpun nggak pernah gue kasih kado, gue nggak pernah ngasih apa-apa ke Sivia. Sampe akhirnya dia mutusin gue, dan gue baru sadar, gue suka beneran sama dia”
Rio diam, mendengarkan cerita Cakka . Alvin juga ikut mendengarkan, batinnya geram mendengar semua itu. Bagaimanapun juga, Alvin adalah sepupu Sivia. Mana rela sepupunya sendiri dijadikan taruhan oleh Cakka.
“Lo gimana sama Sivia?”
“Gimana apanya?”
“Awal jadian sama Sivia?”
“Iya sih, pertamanya juga gue jadian sama Sivia karena dia nggak ribet. Dia baik, nggak protes kalo gue cuek sama dia, dan dia nggak kayak cewek lain yang cerewet, yang manja. Dan dia pinter”
Cakka tertegun mendengarnya, “Serius? Kasian banget Sivia kalo kaya gitu”
“Pesen gue sih satu, jangan sia-sia-in Sivia kayak gue ke dia, ntar nyesel” pesan Cakka lalu meninggalkan mereka ke lapangan.
“Gimana yo? Udah ngerti?” tanya Alvin
“Nggak, Sivia aja biasa kok sama gue. Gue nggak banyak dituntut ini itu sama dia”
“Nah, lo tau kan seberapa sabar dan baiknya Sivia ke lo? Seenggaknya kasihlah sedikit perhatian lo ke dia, biar dia seneng”
“Sedikit sih udah”
“Terserah lo lah yo, gue cuma ngasih tau”
***
Rio merenungkan pembicaraannya tadi malamnya. Emang iya dia begitu cuek sama Sivia? Emang iya dia ngeremehin cintanya Sivia?
“Lo suka nggak sama Sivia?” tanya hatinya
“Suka” jawabnya
“Sayang nggak?”
“Tak kenal maka tak sayang”
“Cinta?”
“Gue nggak tau persis cinta itu apa”
“Menurut lo, sikap lo ke Sivia gimana?”
“Biasa aja”
“Sebaiknya lo renungin lagi deh sikap lo”
“…” diam
Rio terus berfikir, ‘ah, buat apa sih gue mikirin?’ batinnya
Lalu Rio beranjak keluar rumah dan pergi.
“Ini salah satu bentuk perhatian dengan cara gue”
***
Sivia agak bingung saat Rio memberinya sebuah novel pagi itu. Novel yang sedang ia koleksi, seri ke 4. Novel itu harganya lumayan mahal. Setahu Sivia, Rio itu pelit.
“Hah? Ya ampun, Rio ngasih lu novel Vi? Tumben amat” komentar Ify saat Sivia bercerita perihal hari itu.
“Tau ya? Padahal hari ini gue nggak ulang tahun kan?”
“Nggak, ulang tahun lo udah lewat” Ify membulatkan matanya begitu melihat Alvin yang tengah bertampang suntuk mengajari Zevana yang nggak pinter pinter ilmu teknologi komputernya.
Sivia yang menangkap arah mata Ify hanya tertawa kecil, “Udahlah Fy, biarin aja si Alvin ngajari Zevana”
“Biarin sih biarin Vi, Zevananya itu, masa iya udah di ajarin Pak Guru, lu ajarin, gue ajarin, masih nggak ngerti-ngerti juga? Dan sekarang masih minta di ajarin Alvin? Nggak liat tampangnya Alvin udah suntuk banget begitu? Diiih”
Sivia mengerutkan keningnya, “Kok gitu Fy?”
Ify menoleh, “Gitu apaan?”
Sivia tersenyum penuh arti, “Cemburu yaaa?” bisik Sivia
Sekilas, Sivia melihat semburat merah tipis di pipi Ify. “Apaan sih? Nggak, gue sebel aja sama anak yang otaknya rada bebel”
“Berarti lu sebel juga dong Fy sama Rio”
“Iya, tapi sebel dalam hal lain. Dia tuh cueknya kelewatan, kok lu bisa-bisanya sih Vi bertahan sama Rio? Udah mau dua tahun lagi”
“Bisa dong . lagian Rio nggak cuek-cuek amat kok sama gue”
“Kok gitu? Kenapa bisa?”
“Karena gue, nggak mau nyesel karena nggak nikmatin waktu gue sama Rio. Selama Rio masih milik gue, gue masih seneng-seneng aja dan sangat bersyukur. Jadi ya gue nikmatin aja selagi Rio masih milik gue. Gue nggak mau nantinya gue kaya dulu, nggak nikmatin waktu bersama pacar gue”
“Jiaaah Vi, kalimat lo. Yaudeh, ke kantin yuk”
“Yuk, eh bentar, ngambil duit dulu”
***
Kamar bernuansa hitam putih itu dihiasi dengan berbagai figura dan lukisan. Pemilik kamar itulah yang mendesain. Foto yang ada di figura itu-pun hasil karya fotografinya. Lukisan? Itu juga karyanya. Pemiliknya tertarik akan seni fotografi dan seni lukis. Dari kecil, pemiliknya suka mengikuti ayahnya yang seorang fotografer serta ibunya yang pandai melukis.
“Rio, ajak Sivia main kesini dong”
Rio yang sedang asyik bermain playstation langsung memilih tanda pause pada gamenya.
“Ha? Nggak salah denger gue kak? Ngapain sih? Nggak usah kali” tolak Rio
“Sivia koleksi novel kan? Gue kan kuliah sastra yo, ya jadi gue mau berbagi ilmu aja sama dia, mau tau tanggapannya tentang sastra kaya apa”
Rio kaget, tau darimana dia tentang Sivia sedemikian jauh?
“Tau darimana lo kak?”
“Yee, gue sering kali ketemu dia kalo di toko buku, trus sering juga ngobrol di chat lewat internet”
“Yaudah itu juga cukup kan kak?”
“Gue mau liat Sivia kayak gimana”
“Bukannya udah tau? Kan foto profilnya ada fotonya pasti udah taulah mukanya kaya apa”
“Bukan yo, bukan. Gue mau tau Sivia lebih jauh”
Rio diam, nggak ada salahnya juga sih ngajak Sivia kesini. Tapi masa iya sih cewek yang main ke rumah cowoknya? Nggak ah, apa kata temen-temennya nanti.
“Yo? Kok diem? Ya yo ya? Ajak Sivia kesini dong”
Rio akhirnya mengangguk pasrah.
“Yeee ! lo baik deh yo, nggak nyesel gue punya adik baik kaya lo” seru kakaknya sambil mencubit pipi Rio.
***
Malam itu Rio sedang melukis, tiba-tiba teringat olehnya sesuatu yang disampaikan kakaknya. Rio memutuskan untuk menelefon Sivia.
Sivia yang sedang di curhati oleh Dea lewat sms pun kaget. Tumben Rio menelefonnya.
“Halo, malem Vi”
“Halo juga, malam yo, kenapa?”
“Kakak gue mau ketemu sama lo”
“Kakak lo? Kak Shilla?”
“Iyalah, siapa lagi”
“Oke, kapan?”
“Besok sore bisa? Pulang sekolah deh”
“Bisa aja sih, tapi guenya pulang dulu ya. Ganti baju”
“Iya, udah ya bye”
“Bye”
Wow, Sivia masih agak tidak percaya dengan kejadian barusan. Rio menelefonnya masih dapat dihitung dengan jari selama hubungannya berjalan. Dan biasanya juga Rio menelefon, mengajaknya pergi berdua, main kerumahnya, semua hanya karena urusan pelajaran. Coba saja mereka tidak satu sekolah dan tidak satu angkatan, pasti Rio akan lebih jarang lagi menelefon Sivia. Rio dan Sivia beda kelas, selalu beda kelas.
Sivia yakin, malam ini pasti ia akan memimpikan Rio. Pasti, dan itu harapannya setiap malam. Dan dalam batinnya, ia berharap Rio juga akan berharap memimpikannya. Yah, semoga saja.
***
Suasana kelas Sivia pagi itu agak sunyi, semuanya diam menunggu pengumuman. Pengumuman apa? Pengumuman siapa saja yang akan ikut pertukaran pelajar. Dan Sivia termasuk salah satu peserta yang ikut test kemarin. Sebagian besar penduduk di kelasnya yang mengikuti test itu.
“Pagi anak-anak” salam Pak Duta
“Pagi pak”
“Bapak akan memberitahukan kalian perihal pertukaran pelajar”
Kelas Sivia yang biasanya ramai, ribut, dan nggak bisa diam, sesaat langsung berubah 180 derajat akan hal ini.
“Semua yang mengikuti test kemarin, lulus test dan diperbolehkan mengikuti pertukaran pelajar”
Kelas yang tadinya diam tak bersuara, langsung ribut dan berisik bagaikan suara terompet pada pertandingan bola piala dunia.
“Tenang anak-anak. Tentunya sebelum kita berangkat ke arah tujuan pertukaran pelajar kita, yakni di Australia, kalian yang mengikuti akan diberikan beberapa materi tambahan untuk menyeimbangi pelajaran disana”
Dan beberapa pemberitahuan lain mengenai pertukaran pelajaran itu pun, terus diberikan Pak Duta.
***
Di perjalanan pulang, Sivia teringat akan pertukaran pelajar itu dan segera memberitahu kabar bahagia itu kepada Rio.
“Rio..”
“hmm”
“Lo inget nggak yo?”
“Nggak”
“Bentar dulu napa, dengerin gue dulu”
“hmm”
“Gue ikut yo, gue dan yang lain lulus tes sarap itu !”
“Bagus deh”
“Gitu doang?”
“Mau lo?”
“Ya nggak sih.. eh yo, belok kiri dulu, kan gue mau ganti baju dulu baru ke rumah lo”
“Oh iya, maaf”
Sivia tersenyum, hatinya sangat tersentuh bila ada anak lelaki yang meminta maaf langsung dan dengan mengucapkan kata “maaf” daripada “sorry”. Kesannya lebih dalam menurutnya.
***
“Jadi lo mau ke Australia Vi? Hebat”
“Hehe, makasih kak. Udahlah kak, ngomongin yang lain aja”
“Oh iya iya oke, eh lo haus nggak Vi?”
“Haus sih”
“Bentar ya, Rio ! Minum dong buat Via, daritadi nggak ada minum dateng”
“Iya kak, bentar !” sahut Rio dari arah dapur-sepertinya.
***
Sivia asyik memerhatikan Rio yang sedari tadi bermain basket di halaman rumahnya yang cukup luas dan ada ring basketnya.
Dan memang, saat itu malam hari, malam jum’at pula. Rio sedang ngapel ke rumah Sivia. Bukan ngapel biasa, Rio habis minta di ajari bahasa inggris oleh Sivia. Karena besok ia ada ulangan bahasa inggris. Nggak hanya itu, Rio juga meminjam catatan matematika Sivia , karena besok catatan matematikanya akan diperiksa oleh gurunya.
Setelah lelah berkutat dengan bahasa inggris, Rio merasa lelah dan meminjam bola basket Sivia yang adalah pemberiannya ketika Sivia ulang tahun kemarin, dan sengaja ia beli kalau sedang bermain ke rumah Sivia.
Sivia hanya tertawa ketika mendengar penjelasan Rio saat ditanya mengapa ia membelikan sebuah bola basket untuknya. Ternyata, haha. Namun Sivia tetap senang. Diam-diam, ia sering memeluk bola basket itu ketika ia ketakutan sendirian dirumah.
“Rio, gue mau ke toko buku, mau ikut nggak?” tanya Sivia ketika Rio mengembalikan bola basket itu padanya.
“Males ah, gue nggak ikut”
“Oh yaudah, sampe besok ya yo”
Rio mengangguk dan menyalakan motornya lalu pulang kerumahnya.
Sivia masuk ke dalam rumah dan masuk ke kamarnya.
Ia memeluk bola basket itu, dan berbicara kepadanya, seolah bola basket ia adalah Rio.
“Rio, yang membuat aku suka dan bertahan sama kamu adalah, aku yakin, kamu nggak bisa dan nggak bakalan membual sama cewek. Sama aku aja nggak pernah kan?”
Sesederhana itu keyakinan Sivia, sesederhana itu pula harapan Sivia. Tapi tidak sesederhana itu cintanya pada Rio.
***
Sivia pulang dari toko buku dengan kesusahan. Ia yang diwakilkan untuk membeli buku referensi luar negeri oleh teman-temannya. Dengan susah payah Sivia menenteng semua belanjaan yang dibelinya. Mana adiknya menitip dibelikan mainan yang ia tak tahu bentuknya.
Di jalan, Sivia sedang menunggu bis lewat. Namun di terminal itu, ia melihat ada seorang pemuda yang penampilannya nggak karuan.
‘tuh orang kenapa lagi? Jangan-jangan..’
“Au !”
Pemuda mabuk itu melemparkan botol minuman kerasnya-terlihat dari botolnya yang berwarna hijau secara brutal. Dan botol itu pecah setelah terbentur kaki Sivia.
“kamu ! kenapa ninggalin aku.. huahuahuhuhu” ujar pemabuk itu. Lalu ia pergi menjauh.
Sivia dibuat bingung olehnya, ‘iih gila nih orang’ batinnya. Lalu melihat pecahan botol itu.
‘hiii, mabok tuh orang’
Sivia melihat bis tujuannya mendekat segera mengambil barang barangnya dan menyetop bis itu dan naik dengan tertatih-tatih.
***
Rio mengendarai motornya dengan pelan, ia sedang dalam tujuan kerumah Sivia untuk mengembalikan catatan matematika Sivia yang ia pinjam.
Dari kejauhan, ia melihat seseorang yang sangat familiar dimatanya. Namun segara ditepiskannya dugaan bahwa seseorang itu adalah
“Sivia..” gumamnya ketika melihat seorang gadis berjalan dengan membawa tentengan yang kelihatannya banyak.
“Naik” perintah Rio ketika dirinya sampai di tempat dimana Sivia sedang duduk untuk istirahat sebentar.
“Ngapain pegangin kaki? Ayo naik” perintahnya.
Sivia mendongak ke atas, “Rio?”
“Ngapain disitu aja? Ayo naik”
“Iya iya”
“Sini, bawaannya” Rio mengambil beberapa kresek yang berisi buku.
***
Sesampainya dirumah Sivia…
“Permisi, tante..” salam Rio sopan
“Eh Rio, Sivianya lagi pergi tuh”
“Nggak kok tante, ini Sivia”
“Hai Mami” ujar Sivia sambil nyengir
“Yaudah tante tinggal ya..”
“Eh tante, minjem kotak P3K ya”
“Itu ambil aja di kolong meja, tante masuk dulu ya”
“Iya tante”
Mata Rio mengekor pada sosok Mami Sivia sampai tak terlihatdi dalam rumah.
“Nih Via, tuh obatin kakinya”
“Iya” Sivia mengambil alkohol dan mulai menuangkannya pada kapas.
“Heh, cuci dulu pake air lukanya”
“Ih sok tau”
“Siapa yang sok tau? Emang gue tau kok, apa salahnya sih nurut sama gue”
“Iya deh iya” Sivia beranjak ke taman rumahnya, ada keran disana.
“Via..” Rio mencegah Sivia dan menuntunnya kembali duduk.
“Gue aja yang ambil airnya, kasian kaki lo” Rio mengambil lap yang ada di kotak P3K dan menuju ke keran air.
‘bilang aja lo kasian sama gue yo, ya tuhan, makasih udah ngasih aku pacar kaya Rio’ batin Sivia terharu.
“Nih, usapin dulu kain basah ini di kaki lo yang memar”
“Iya”
Rio mengambil alih lap itu, “Gue yang obatin”
“Pelan-pelan”
“Iya, jangan bawel”
Sivia benar-benar terharu, 1 tahun lebih hubungannya dengan Rio, baru kali ini Rio perhatian sekali padanya. Ada apakah?
Cakka yang kebetulan lewat, tersenyum melihat pasangan yang sedang saling ribut karena salah satunya kakinya sedang sakit dan yang satu lagi dengan iseng agak menekan luka pada kaki pasangannya.
“Lo harus buktiin yo, lo nggak boleh ngecewain Sivia kaya gue ngecewain dia. Lo nggak boleh menyesal kaya gue, lo nggak boleh ngeremehin cinta yang udah Sivia kasih ke lo, atau enggak, lo bakal berakhir sama kaya gue dan Sivia dulu..” gumamnya.
***
1 bulan itu dilalui Sivia dan Rio dengan bahagia. Rio menunjukkan kemajuannya dengan tidak bersikap terlampau cuek seperti yang dibilang Ify. Tidak hanya pada Sivia tentunya, dengan teman perempuannya yang lain bahkan.
Namun sial untuk Rio, setiap ia mengajak Sivia makan siang sepulang sekolah, Sivia selalu ada pelajaran tambahan untuk pertukaran pelajar.
Siang itu Rio akan mengajak Sivia dinner. Dinner biasa, namun agak tidak biasa untuk mereka nantinya.
“Via, makan malam yuk diluar”
Sivia tertegun sejenak, “Ulang yo”
“Via, makan malam yuk diluar. Puas?”
“Haha iya”
“Yaudah, gue jemput lo jam setengah 7 ya. Jangan lama”
“Emang gue pernah ngebiarin lo nunggu lama?”
“Nggak sih, yaudah , duluan ya”
“iya, bye”
“bye”
***
“tante, anaknya saya ajak dinner ya. Boleh ya?”
“Boleh, jangan lama-lama ya yo, jangan terlalu malem”
“Iya tan, beres”
“Nah tuh, Sivia nya, tante masuk ya, hati-hati ya di jalan”
“Iya tante”
Sivia salim pada Maminya dan memberi senyumnya pada Rio.

Menatap indahnya senyuman wajahmu
Membuatku terdiam dan terpaku


“Rio? Kok diem?”
“Eh yaudah yuk berangkat”
“Mana motornya?”
“Eh belum tau ya?”
“Apaan?”
“Lo sih, setiap gue ajakin pasti nolak”
“Kan bukan mau gue juga yo..”
“yaudah, kita sekarang naik mobil”
“Mobil?”
“Iya, ada masalah?”
“Nggak sih, emang lo bisa?”
“Bisa dong, udah ah yuk berangkat”
Sivia tersenyum dan segera menyusul Rio yang sudah lebih dulu pergi ke mobilnya.
***
Suasana café itu memang nggak mewah, namun cukup romantis untuk seorang Rio.
“Bentar ya Vi, mau ke belakang dulu”
“Ke belakang? Toilet?”
Rio hanya mengedikkan bahunya sambil berlalu
“Rio rio, malu-maluin aja deh. Masa mau dinner ke belakang dulu?” gumam Sivia
Café itu mengalunkan lagu yang sedang naik daun pada tingkat lagu teratas di Indonesia.
Sivia mengalunkan lagu itu pelan sambil menghayatinya, memejamkan matanya sembari mengetuk-ngetukkan tangannya di meja.
“Sivia, dengerin deh”
Sivia membuka matanya, “Iya, apa?”
“lagu ini, anggap yang nyanyi gue. Sekarang, lo dengerin dan hayatin sepenuh hati, dan lo bakal tau seberapa besar gue sayang sama lo”
“Rio? Lo gombal atau…”
“Nggak, ini beneran. Sekarang, lo diem dulu. Dengerin lagunya dan hayati”

Menatap indahnya senyuman wajahmu
Membuatku terdiam dan terpaku


Sivia tersenyum, “oh, jadi gitu yo, pantesan lo suka buang muka kalo gue senyumin”
“Udah dengerin aja”

Mengerti akan hadirnya cinta terindah
Saat kau peluk mesra tubuhku


“Nggak harus gue peluk kan?”
“Nggak harus, sikap lo selama ini udah nunjukkin lo yang terindah buat gue”
“Wow, Rio sekarang jago gombal”
“Udah bawel, dengerin dulu”

Banyak kata yang tak mampu ku ungkapkan kepada dirimu

“Pantesan nggak pernah bilang I Love You”
“mau bilang sekarang?”
“Boleh”
“Kapan-kapan ya”
“Ih..”

Aku ingin engkau slalu
Hadir dan temani aku


“Mau nemenin gue terus kan?”
“Mau, tapi pertukaran pelajar itu…”
“Makanya, gue kurang seneng soal itu. Tapi buat lo, oke lah nggakpapa”
“Gombal..”
“Serius, nggak”

Di setiap langkah yang meyakiniku
Kau tercipta untukku


“Makin lama hubungan kita terjalin, gue makin yakin lo buat gue. Karena gue nggak yakin, kalo bukan lo, cewek lain nggak akan bertahan sama sikap gue”
Sivia tersenyum , “Makasih yo..”

Spanjang hidupku

“Selamanya ya?”
“Apanya?”
“Sama gue”
“Iya, dengan kehendak tuhan tentunya”
Malam itu , Rio benar-benar jadi pria penggombal. Sivia agak risih sih, tapi ia menghargai usaha Rio yang mencoba perhatian padanya. Dengan cara yang ‘Rio banget’ tentunya.
***
Suasana bandara itu agak sendu. Sesendu cuacanya. Gerimis mengiringi kepergian Sivia dan teman-temannya ke Australia. Rio menatap Sivia dengan pandangan tajam.
“Rio, sini sebentar”
Sivia menarik Rio ke tempat yang agak jauh dari teman-temannya.
“Rio, jangan gitu kenapa liatnya, risih tau”
“Jangan lama-lama ya Vi”
“Nggak kok, Cuma 3 bulan aja”
“Itu lama banget”
“Jangan dirasain lah, lagian kita masih bisa smsan, telfonan”
“Mahal Vi..”
“Ya kan masih ada fasilitas internet, masih bisa ym-an, fb-an, twitter-an apa kek masih banyak”
“Iya sih..”
“Kita jadi berubah gini, ya, lo jadi manja ya..”
“Nggak”
“Iya”
“Nggak”
“Iyaa”
“Iya deh ngalah”
“Haha, udah deh, bentar lagi berangkat” Sivia berbalik dan….
“Vi..” Rio meraih tangan Sivia guna mencegah Sivia pergi
“Ku ingin kau tau, ku slalu milikmu, yang mencintaimu spanjang hidupku”
“Gombal ah, lagian bukan kata-kata lo”
“Biarin” Rio melengos lagi
“Eh iya, ini ada syal buat lo. Gue belajar dari Kak Shilla, susah tuh buatnya” ujar Rio sambil memberi Sivia sebuah tas berisi syal.
“Makasih Rio”
“Iya, aku kan sayang kamu..”
“Aku ? kamu?”
“Kenapa? Nggak boleh?”
“haha, oke oke boleh kok”
“Iya, aku kan sayang kamu, sayang”
“Sayang? Haha, coba ulang semuanya”
“Aku sayang sama kamu, sayang”
“haha, iya makasih, kok lo tumben sih begini yo? Kemaren-kemaren juga masih gue-lo dan nggak mau bilang sayang sayangan langsung ke gue”
“Hahaha, ya nggakpapa. Lagian kan kau tercipta untukku”
“Iya iya, aku tercipta untukmu deh..”
“Udah yuk Vi, balik ke temen-temen”
“Yuk” Rio merain tangan Sivia erat. Sivia menatap Rio bingung.
“Meluknya gini aja ya? Gue meluk tangan lo” ujar Rio sembari tersenyum, senyum pahit.
“Iya boleh boleh”
***
“Eh, pada darimana lagi?” tanya Cakka
“Cakka? Kok lo ada disini?”
Cakka melirik ke arah Aren yang ada disebelahnya, “Lupa kalo dia pacar gue?”
“Oh iya, haha lupa” ujar Sivia
“Makasihnya Kka, lo yang bikin gue sadar sama sikap yang kata orang terlampau cuek” ucap Rio penuh rasa berterima kasih.
“Iya, sama-sama. Kalo lo nggak berniat untuk berubah, semua juga nggak akan terjadi kan?”
“Iya, makasih ya”
“Iya, udah mau sampe kapan lo bilang makasih ke gue?”
“Udah, sampe tadi aja cukup”
“Cakka ! Rio ! Kita berangkat ya ! Bye, sampe ketemu 3 bulan kedepan !” teriak Sivia sambil melambaikan tangannya.
“Iya, hati-hati ya Via !” teriak Rio tak kalah kencang.
“Buset, lo berdua ya, hahaha” ejek Cakka sambil tertawa
“Udah yuk, pulang”
“Tapi hujan..”
“Yaudah, gue duluan ya”
“Iya, hati-hati”
“Sip, pasti”
***
Jalanan yang lengang jarang kendaraan, membuat Rio menambah kecepatan mobilnya dengan brutal.
Drrt..
Handphone Rio bergetar di dashboard mobilnya. Rio mengambil handphonenya cepat. Sebuah sms untuknya.

From : Sivia
Sms terakhir nih di Indonesia
Bentar lagi harus matiin hp
Bye , sayang. Iih, geli juga bilangnya.
Hahaha, apa? Aku tercipta untukmu?
Iya iya. *jangan dibales ya*

Rio tersenyum, senyum Sivia terus membayanginya.
Rio terus memandangi layar handphone nya.
TIIINN !!
Sebuah klakson dari arah berlawanan dari arah depan terdengar begitu kencang. Rio hilang kendali. Dengan masih dalam keadaan menggenggam handphonenya tadi, ia membanting setir mobilnya ke arah lain. Tabrakan tak ter-elakkan lagi.
BRAAAK !!!

Meski waktu akan mampu
Mengambil sluruh ragaku
Ku ingin kau tau ku slalu milikmu
Yang mencintaimu
Spanjang hidupku


Cinta memang tak selamanya indah
Tak selamanya bahagia
Tak selamanya berakhir dengan hati yang berbunga
Ada kalanya cinta membuat kita sakit
Membuat kita menangis
Dan kadang berakhir dengan akhir yang buruk
Bahkan tragis



TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar