Kamis, 18 November 2010

Miss you - Cerpen

Merindukamu

Dia yang…
Engg
Dia...
Ah, aku tak tau apa yang harus aku deskripsikan tentangnya
Banyak hal yang tidak bisa aku ungkapkan
Sulit, susah, ruwet
Tentangnya begitu sulit dari mulutku untuk mengungkapnya
Padanya begitu susah untuk bilang apa yang aku rasa
Ruwet bagiku pada hubungan ini
Yaah, satu hal
Dimataku, dia hampir perfect
Rupanya, badannya, otaknya, sifatnya, sikapnya
Satu yang nggak bikin perfect
Yup, bukan dari dia
Bukan dari dia
Sekali lagi bukan dari dia
Ingin membenci “itu” tapi…
Nggak, nggak, aku nggak boleh
Bagaimanapun juga, “itu” dia yang juga aku sayangi
Yang juga aku hormati
Aku harus menghargainya
Tapi, satu hal lagi
Aku akan terus menyimpan semuanya
Sampai menemukan ‘hawa’ sesungguhnya
Aku pun berharap dia adalah ‘hawa’ku
Aku berharap dengan usaha
Bukan suatu hal mudah untuk merindukannya
Aku tau, karena itupun aku berusaha tabah
Dengan berharap keajaiban
Yang aku mau datang padaku


***

Siang yang panas. Terik matahari yang menyengat membuat peluh seorang pemuda tampan itu makin berproduksi. Terus berpeluh tak membuatnya berhenti memantulkan bola basket yang telah menjadi pacar keduanya. Eits, bukan pacar betulan. Maksudnya, kecintaannya dan saking dekatnya hubungan antara pemuda itu dengan basket membuatnya tidak dapat lepas.

Letih pasti datang. Yakin. Namun keletihannya segera sirna ketika dilihatnya malaikat hatinya itu. Matanya seakan memancarkan sinar. Bbaaah, sumpah. Pemuda tampan itu selalu ‘melting’ ketika kontak mata dengannya. Salting. Bingung mau ngapain.

“Yeah ! istirahat dulu ya semua, nanti dilanjut lagi” ucap pelatih .

“Yes ! Akhirnya istirahat jugaaa ” teriak pemuda itu.

“Heh, elo yel. Dasar dudul” hardik temannya, Rio.

Gabriel-pemuda tampan itu hanya memberikan cengirannya

“Habis, panas banget disini. Sumpah demi apapun, Bandung terlalu panas buat gue.

Pengen deh rasanya pindah” keluh Gabriel

“Halaah, katanya cinta sama basket” goda Rio sambil mengusap peluhnya dengan kain
lap. He’eh, bukan kain lap yang biasa buat dapur, kain lap yang buat main basket itu.

“Cinta gue cuma buat Ify, pe’a”

“Ify mantan gue dudul”

“Mantan gebetan doang dih, bangga lagi”

“Anjir, sial” Rio menempeleng kepala Gabriel kasar.

Gabriel mengusap kepalanya.Melirik ke arah malaikatnya itu.

“Ify !” panggil Gabriel.

Ify yang sedang menyetel suara keyboardnya langsung menoleh ketika namanya disebut.

Begitu tau siapa yang memanggilnya, Ify tersenyum.

“Hai” sapanya , kemudian kembali berkutik dengan keyboardnya.

“Cieeeee” ledek Rio sambil mengibaskan baju basketnya.

“Apa sii, sirik deh”

Rio menjulurkan lidahnya.

Gantian Gabriel yang menjulurkan lidahnya.

Gantian lagi Rio.

Gabriel lagi.

Rio.

Gabriel.

“Eh lo berdua kaya apa deh maen julur-juluran lidah”

Rio dan Gabriel menengok ke asal suara.

“Kaya apaan, Kka ?” tanya Rio masih dengan lidah yang menjulur. Nggak deng, bercanda.

“Apa ya ?”

“Apa ?” tanya Gabriel.

“Au ah susah ngomong sama lu berdua” Cakka yang kesal berlalu dan kembali ke lapangan. Waktu istirahat sudah habis karena pelatih telah mengomandokan untuk kembali ke lapangan.

“Apaan ?” tanya Rio sambil menaikkan alisnya.

“Bentar, gue kayanya tau”

“Apaan?”

----------------- hening

“Anjir, lo tau nggak binatang yang suka julurin lidah ?”

Rio diam. Matanya mendelik, “Waah, apa tau tuh si Cakka. Liat aja ntar palanya gue
masukin ke tong sampah”

***

Sejuk menyelimutinya ketika masuk ke ruangan itu. Terasa keheningan datar yang datang pada tubuhnya. Dingin menerpa wajahnya.

Jelas saja, AC selalu menyala di kamarnya.

Ia melempar tas ransel hitam sekolahnya ke tempat tidur.

Membuka sepatunya, kaos kakinya. Mencopot dasinya, sabuknya, membuka kancing baju kemeja sekolahnya.

Beranjaklah ia ke lemari pakaiannya di sudut kamar yang lumayan besar. Langkahnya menuntun kakinya pada sebuah ruangan kecil pada kamarnya. Kamar mandi.

***

Sambil menggesekkan handuk pada rambut basahnya, ia bersiul ria. Otaknya memutar kejadian bulan lalu. Saat ia berhasil mendapatkan cinta Ify.

Cengiran lebar ia kembangkan.

“Hehehe” Gabriel terkekeh. Walau kurang pantas dan kurang tepat disebut gila, tetap saja pandangan kakaknya ketika memasuki kamar Gabriel menjadi aneh.

Gadis semampai itu mengerutkan keningnya, merasa ada yang tidak beres dengan adiknya yang ‘kata teman-temannya’ itu, ganteng. Shilla hanya mengelus dada.

“Eh gila, dipanggil mama tuh, suruh makan. Ngapain sih lama – lama di kamar mandi ?”

“Berendam di aquarium kak, berusaha mendepin badan ke dalem situ, susah” jawab Gabriel asal sambil menjemur handuknya di gantungan handuk.

“Sarap lo ah, udahlah ntar ke bawah ya, makan biar badan lo gemukan dikit gitu biar bagus” ujar Shilla , berbalik dan menutup pintu kamar adik tersayangnya itu.

“Iye bawel, suka-suka gue lah makan kek, enggak kek” Gabriel menggerutu sambil
menggaruk belakang kepalanya dan melempar dirinya ke kasur.

Pintu terbuka. Shilla melongok dari belakangnya, “Apa ? Buruan makan !”

***

Kelopak matanya tertutup indah. Dapat terlihat wajah teduhnya saat terlelap. Garis wajahnya yang tegas, membuat para kaum hawa mendecakkan lidah tanda kagum. Hidungnya yang mancung, menambah kesempurnaan pada parasnya.

Ia selalu terjaga. Bahkan pada saat tidur.

Sebuah suara kendaraan membuat kelopak matanya agak bergerak.

Perlahan, ia mulai membuka matanya. Tergenang sebutir cairan bening di sudut matanya. Menetes pelan. Mulutnya agak terbuka, menguapkan nafas. Tangan lentiknya bergerak menutup mulutnya.

Ia gerakkan badannya untuk bangun. Kakinya ia paksa untuk berdiri, masih dalam keadaan mengantuk, ia mengintip ke sudut jendelanya.

Sedikit memicingkan matanya, ia menyeka tirai jendela.

“Ooh, pak pos” gumamnya. ‘pak pos dateng subuh-subuh begini ?’ batinnya.

Kakinya kembali menuntunnya untuk beranjak ke sudut lain. Ia duduk di kursi belajar.
Melihat ponselnya yang menyala dan bergetar, tangannya kembali ia tuntun untuk meraihnya.

Sebuah pesan singkat rupaya. Jemarinya mulai bergeser ke beberapa tombol di barisan
tengah.

Drrt, bzzt, drrt, bzzt

Getar lagi. Pesan singkat lagi.

“Wow 6 sms” gumamnya. Biasa saja sih, banyak yang suka memberinya pesan singkat. Bahkan banyak yang menelfonnya.

“4 missed calls” gumamnya lagi.

Dilihatnya missed calls yang ada.

Ify (4 missed calls)

“Yaah, sayangku nelfon sampe 4 kali kok gue nggak denger yah ?” gumamnya. Segera ia memencet tombol berwarna hijau di ponselnya itu.

Ia dekatkan ponselnya itu ke telinganya. Sambil menunggu, ia mengetukkan jemarinya di meja dan mengetukkan kakinya hanya sekedar membuang jenuh.

“Maaf, nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif…”

“Sial, mailbox lagi ” ia segera membuka pilihan lain di ponselnya.

Ia buka inbox, masih ada 6 sms yang belum dibaca. Ampun deh, cowok semua. Padahal ia sempat berharap paling enggak ada satu aja cewek yang sms. Ralat. Maunya sih semua yang sms dia cewek. Dasar cowok, udah punya cewek satu masih belum puas.

From : Rio
Bro, ada pertandingan minggu depan. Gue juga baru tau tadi malem dari pelatih, pagi ini kita mesti latihan serius. Lawan kita nggak main-main.


“Anjiiir, masa minggu depan ? minggu depan kan ulang tahunnya Ify . Ah, lomba laknat nih” gerutunya sebal.

To : Rio
Oke. Walaupun agak nyebelin karena pertandingannya minggu depan, demi basket bakalan gue lakonin


Ia membuka sms selanjutnya, sms ke 2.

From : Cakka
Pertandingan woy minggu depan


Ia segera mengetik balasan

To : Cakka
Udah tau Kka, nanti latihan jam berapa ?


Ia kembali pada sms ke 3. ‘Susah juga jadi orang populer’ batinnya. Ia terkekeh kembali.

From : Sivia
Boy, pinjem resident evil-nya hari senin. Awas lu ga bawa, nggak gua kasih contek


“Wets, anak satu ini” serunya. Baginya, walaupun rupa Sivia cantik, tinggi semampai dan tubuhnya agak berisi namun stabil, sifatnya dan sikapnya tidak bisa dibilang sama dengan rupa dan body-nya. Itu baginya. Tidak pernah lembut, selalu kasar. Tapi sebenarnya dia baik, hanya kurang dilatih lebih santun. Pernah dia bilang ke Sivia, “Sampe lo nggak berubah walaupun sedikit, gue cemplungin lo ke kali, kalo perlu gue kursusin lo di keraton solo. Biar kaya raden ajeng kartini”. Haha, ia hanya ngasal. Ia juga nggak tau persis sih tempat tinggal R.A.Kartini dimana. Padahal tempat tinggal R.A.Kartini kan di Jepara. Lha ? Malah jadi ngebahas
R.A.Kartini .

To : Sivia
Iye santai. Besok beneran gue kirim lo ke Solo, Vi.


Segera ia buka sms ke 4 nya.

From : Alvin
Ini siapa ?


‘He ? Alvin ? Kok dia tau nomer gue ? kayanya gue juga ngga pernah sms dia deh’ batinnya bingung. Setahunya, Alvin itu gebetan Sivia. Ia berfikir lagi. Aaah, itu dia.

To : Alvin
Gue Gabriel, temen sekelasnya Sivia. Kayanya waktu itu dia sms lo pake hp gue, sorry ya


Gabriel kembali membuka sms ke 5 nya. Capek juga.

From : Ify
Kok nggak di angkat sih ?


“Aduuh maaf sayang, nggak denger aku” gumam Gabriel.

To : Ify
Maaf. Tadi aku tidur dan hpnya di silent. Maaf ya. Tadi kamu udah ku telfon balik, tp nggak kamu angkat.


Gabriel membuka sms terakhir yang masuk.

From : Ify
Gab, minggu depan ada pertandingan ya ? aku ikut yaa :)


‘Wuoooo anjir Ify baik banget deh sumpah, beda sama mantan mantan gue sebelum dia’ batin Gabriel terenyuh.

To : Ify
Boleh, trus ultah kamu gmn dong ?


Gabriel melempar ponselnya ke tempat tidurnya. Ia rebahkan tubuhnya sampai terangkat dan terpental di tempat. Ia raih kembali ponselnya. Membuka kontak, di deretan huruf ‘I’ ia menekan sebuah tombol panggilan.
Ia dekatkan kembali ponsel ke telinganya. Kali ini langsung terputus. Entah apa sebabnya.

***

Dentingan di jam bekernya membuat ia terbangun. Dengan asal ia menyambar jam tanpa dosa itu. Mata tajamnya terbelalak ketika melihat arah jarum jam.
Dengan terburu-buru ia menyambar handuknya dan masuk ke kamar mandi.

***

Sinar matahari menembus jendela kamarnya, seakan menyinari wajah sendunya. Seakan ingin mengeringkan air matanya.

Gadis itu masih dengan mata yang sembab. Lingkaran hitam mewarnai wajahnya. Matanya masih bengkak akan sebuah sebab. Sebab. Itu…

Batinnya menjerit pahit.

Ingin rasanya ia memberontak dengan itu.

Muak rasanya ia.

Hidup apa ini…

Tanpa berkomunikasi

Tanpa alat komunikasi

Hanya dikurung seharian dirumah

Keputusan macam apa ini hah ?!

Semua itu bermula ketika mamanya tau ia berpacaran. Padahal ia tak berniat merahasiakannya. Dan ia juga berusaha agar nilainya tetap stabil, bahkan setelah pacaran pun nilainya meningkat.

Masih bingung ia dengan keputusan mamanya itu. Apa maksudnya coba, menghalanginya berhubungan dengan kekasihnya ?

Apakah mamanya tidak mengerti bahwa ia juga punya hak sebagai seorang remaja yang ingin mencoba mencintai ? Walaupun ia mengerti, tugasnya saat ini hanya belajar.
Tapi namanya juga remaja, ingin mencoba hal baru di hidupnya.

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Turun perlahan, lama-lama jatuh ke
tangannya. Ia menatap tangannya benci, bukan benci terhadap tangannya. Ia benci, mengapa ia harus menangis karena hanya cinta ? Cengeng. Masa iya harus menangis hanya karena satu hal itu. Ia usap air matanya, ia seka butiran itu.

Ia berbalik dari posisinya sekarang ini, ia mengambil sebuah notebook. Mengambil pulpen. Ia tercekat ketika melihat pulpen yang di ambilnya itu. Pulpen pemberian Gabriel. Air matanya jatuh lagi, jatuh di notebooknya.

Kenapa gue mesti home schooling sih ? Padahal jelas-jelas lebih enak di sekolah biasa. Nggak mahal, nggak ribet, asik, banyak temen. Emang salah ya kalo gue pacaran ?Padahal minggu depan Gab ada pertandingan, gue mau nonton, gue mau nyupport dia, gue mau nemenin dia saat sebelum dan sesudah pertandingan, gue..gue mau selalu disisinya. Apa itu salah ?

Gue masih nggak ngerti sama keputusan Mama, tiba-tiba aja Mama mau gue home schooling. Mending kalo home schoolingnya disini, di Bandung. Ini, di Medan. Baaah, jauh amat.

Besok pagi gue udah berangkat ke Medan. Yang masih gue nggak ngerti, kalaupun pindah kenapa harus home schooling sih ? Nggak bisa ya kalo sekolah biasa aja ? Trus kenapa hape gue mesti disita ? Trus gue bolehnya make telfon rumah doang. Lebih parahnya, gue nggak boleh keluar rumah ! Mau jadi apaan gue ? Berasa dipingit tau nggak !

Reaksi pertama Mama pas tau gue pacaran, biasa aja. Tapi begitu tau nama pacar gue, Gabriel Stevent Damanik, Mama agak kaget, panik dikit, trus tiba-tiba uring-uringan. Persis gejala gila. Mama gue rada-rada sih sebenernya, tingkahnya agak aneh, gue juga heran. Trus masa tiba-tiba dia bilang “Kita pindah ke Medan, kamu home schooling. Nggak ada hape, nggak ada main keluar. Dirumah sama mama, tugas kamu cuma belajar”

What ?! Bisa mati gue kalo belajar terus menerus ! haha, lebay dikit nggakpapa lah ya~


***

Sejak pukul 7 tadi, ia terus menggenggam ponselnya. Nama itu selalu tertera di layarnya. Dahinya terus berkerut, satu pertanyaan itu terus membayanginya.

“Kok nggak bisa dihubungin ?” “Kok nggak ada kabar ?” “Kok rumahnya kosong ?”

Oke. Itu bukan satu pertanyaan.

“Kenapa yel ?” tanya Rio sambil meregangkan tangannya. Pemanasan.

“Ini, si Ify nggak bisa ditelfon, di sms, failed, rumahnya kosong pula. Gue nggak tau dia kemana, dia juga udah nggak masuk seminggu kemaren, tanpa kabar” Gabriel terus mencoba menghubungi Ify. Apa daya, nihil.

“Iel !” seru sebuah suara.

Gabriel menoleh, lidahnya berdecak.

“Apa Siv ? Bisa pelanan dikit nggak sih ngomongnya ? Sakit kuping gue ini !” seru
Gabriel sambil mengusap telinganya.

“Sorry, sorry, gue baru dari rumahnya If..”

“Ify ?” potong Gabriel.

“Iye, jangan dipotong dulu omongan gue”

“Iya, apaan ?”

“Ify pindah ke Medan”

“Medan ? Serius ? Aaah gue tau, ngerjain gue kan lo, Vi ? Nggak mempaaaan !” Gabriel menempeleng kepala Sivia sambil mengacak rambutnya.

“Issh, apaan sih ? Gue serius, situasi begini ngapain gue ngerjain lo ? Kurang kerjaan amat” Sivia melengos. Bibirnya mengerucut.

“Pertandingannya mulai 5 menit lagi woy” ujar Cakka yang baru datang.
Melihat Sivia yang cemberut dan kesal, Cakka bingung, menoleh ke Sivia, ke Rio, ke
Gabriel, “Kenapa ?”

“Ify pindah ke Medan beneran, Vi ?” tanya Gabriel tanpa menghiraukan pertanyaan
Cakka.

Cakka masih bingung, “Woy, pada kenapa sih ?”

“Iya, gue serius. Ify pindah ke Medan seminggu lalu, bertepatan hari ini. Hari
Minggu. Gue tau ini dari penghuni rumahnya yang baru, katanya dia juga baru hari ini pindah kesana. Masih ada hubungan saudara katanya, tapi pas gue tanyain alamat rumahnya Ify yang di Medan, katanya dia nggak tau”

Gabriel mengerutkan keningnya. Berfikir sesuatu.

------hening

Arrgghhh. Otaknya mumet. Seminggu ini latihan kurang serius gara-gara mikirin Ify yang nggak bisa dihubungin.

“Gabriel, ayo ke lapangan. Pemanasan dulu” ujar pelatih.

“Wey pada kenapa sih ?” tanya Cakka lagi, bingung dia. Daritadi nanyain nggak ada
yang nanggepin.

“Vi, ntar kita cari info lebihnya tentang Ify. Yang gue pikirin sekarang adalah, gue dan dia belum ada kata –putus- jadi gue masih agak legaan. Gue pertandingan dulu ya, doain gue”

Sivia tersenyum , “Untuk saat ini, lo jangan mikirin Ify dulu. Itu masalah pribadi, sekarang lo fokus deh ke pertandingan lo, ini tanggung jawab bersama. Jangan kecewain sekolah kita”

Gabriel tersenyum pahit, “Oke”

“Ayo, Kka ke lapangan” Gabriel merangkul sebelah tangan ke pundak Cakka dan
mengajaknya ke lapangan.

“Kenapa sih yel ?” tanya Cakka lagi, helloooo nggak ada yang jawab pertanyaannya daritadi.

“Ntar gue ceritain, kita pertandingan dulu”

***

Dentuman bola basket serasa menjauh darinya. Seakan benda bulat itu enggan hinggap di tangannya. Lelah rasanya ia mengejar. Staminanya terkuras habis.

“Iel ! Ambil bolanya !” seru Rio.

Duk !

Akibat matanya yang kurang awas, kepalanya terantuk bola basket. Badannya terjatuh.

Priiiiiit.

Bersamaan dengan itu, peluit pertandinganpun selesai.

Gabriel menengadahkan kepalanya ke papan skor.

Sial. Ini semua bikin gue hancur.

Bayangkan, 82 – 67. Jauh sekali.

82 untuk lawannya, 67 untuk sekolahnya.

Gabriel menunduk, menyesali.

***

Kepalanya terbalut perban. Pusing juga kepentok bola basket dari lawan kuatnya itu.

“Gabriel, kamu apa-apaan sih ?” bentak Sivia yang datang dengan tampang kesal.

“Sorry, gue ngecewain sekolah kita. Secara nggak langsung gue jadi penyebab
kalahnya, sorry” Gabriel mengambil tas disebelahnya, menarik resletingnya.

“Hey, nyadar dong lu. Bukan secara nggak langsung, menurut gue, lo itu sumber dari kekalahan sekolah kita. Bayangin aja, setiap di oper, nggak diambil, padahal ada kesempatan bagus. Begitu dapet bola, lo nggak pernah mecahin satu skorpun! Dan parahnya itu kapten ! Ini cuma dari gue, gue nggak tanggung sama pelatih ya, dia pasti akan lebih marah dari gue” Sivia mendecakkan lidahnya, melipat tangan di depan dada.

Sivia berbalik.

“Mau kemana , Vi ?”

“Pulang”

“Yaah, gue kan tadi udah bilang mau nebeng”

“Hih, sorry aja ya. Gue nggak mau ditebengin sama anak kaya lo. Gue harap lo sadar, banyak yang kecewa sama kekalahan ini”

Gabriel bingung. Ia menggarukkan kepalanya. Pusing ternyata berefek pada kulit kepala. Aneh.

Langkah berat menghampirinya. Oh my god. Pelatih.

Gabriel sedikit melirik, “Mampus gueee, tampang pelatih udah kaya gitu. Habis deh gue dimarahin” batinnya .

Ia mengelus-elus lukanya. Berpura-pura sakit. Semoga marahnya nggak lama-lama.

Rio yang mengintip dari balik ruangan, terkekeh geli. “Percuma yel, lo mau pura-pura begitu juga bakalan nggak ngaruh kalo sama pelatih mah” gumamnya.

“KENAPA KAMU MAINNYA BURUK KAYA TADI ? SAYA TAU, TAPI KAMU NGGAK BOLEH CAMPURIN URUSAN PRIBADI SAMA BASKET ! BEDA, KAMU HARUS TAU, REPUTASI BASKET KITA BISA JATUH !”

“Oh my, mampus gueeeeee !” batinnya. Cengiran ia berikan.

“APA KAMU NYENGIR-NYENGIR ? BERIKAN ALASAN !”

***

Jalannya terpincang-pincang ketika memasuki rumahnya. Kali ini ia jatuh terantuk trotoar di jalan. Sepertinya hari ini ia sedang sial.

Shilla yang sedang menyirami tanaman di taman depan, mendecakkan lidahnya.

“Kenapa lagi lo dek ? Karma ya ? Sukurin ! Makanya jangan durhaka sama kakak !”

***

Gabriel menatap kakinya. Perban lagi.

Saat ini ia demam. Udah kepala di perban, badan bersuhu tinggi, kaki kepentok trotoar. Tinggal tunggu sial menimpa tangannya aja nih.

Gabriel menyingkap tangannya, takut akan bahaya menimpanya. Hadeuuuh, lebay deh.

Gabriel kembali meraih ponselnya, menatapnya lama.

Berbagai fikiran berkecamuk di otaknya.

AAAAAAAAA

Gila. Cuma gara-gara Ify doang Gabriel begini.

Jemarinya kembali menari di ponselnya. Tujuannya berhenti pada abjad “S”.

Yaah, dia masih marah. Marah nggak sih ? Mau nanya seputar Ify juga -_____-.

***

Bosan dengan semua sudut yang ada di rumahnya, Ify memutuskan untuk kabur . sekedar melepas jenuh. Sekedar refreshing. Nggak boleh ? Walaupun ia belum bahkan tidak hafal jalan di Medan sama sekali. Yaah, anggap aja Medan sama kaya Bandung deh.

“Aduuh, dikunci pula ini rumah” gumam Ify. Dibukanya laci di sebelah pintu. Tempat segala kunci berada. Sampe kunci serep pun ada.

“Rumah depan mana rumah depan” gumamnya lagi sambil mengobrak-abrik isi laci yang begitu banyak kunci di dalamnya.

“Naaah ini dia !” serunya. Ups, terlampau kencang. Usaha kaburnya bisa terancam gagal nih.

Tap tap tap tap.

Langkah berat itu datang. Waaah, pasti mama nih.

Ify cepat-cepat mengambil kunci depan rumahnya.

“Ify., mau kemana kamu ?”

‘Mampuuuuussssss’ batinnya.

Ify berbalik, memperlihatkan barisan giginya yang berpagar.

“Mau jalan-jalan lah maa, aku kan hari ini ulangtahun masa nggak boleh ngerayain diluar ?” pinta Ify memelas.

“Nggaaaak, kamu nggak boleh keluar. Kecuali sama mama , papa, atau kakak-kakak kamu” Mama Ify berkacak pinggang.

“Ayolaah Maa, lagian kenapa sih aku dikurung begini ?” tanya Ify sambil memainkan kunci rumahnya.

‘akhirnya anak ini nanya sebabnya jugaa’ batin Mama Ify.

“Ma ? Kasih tau dong” pinta Ify lagi

“Yaudah, Mama kasih tau, kamu ganti baju ya”

“Buat apa ?”

“Katanya kamu mau ngerayain, kita makan di luar. Mau kan jalan-jalan ?”

“Mau !”

***

Gelap. Yap, kata itu ada di otaknya sekarang.

Matanya menerawang memandang langit. Badannya menyender pada sofa.

Kakinya ia naikkan satu ke sofa. Ia angkat satunya lagi. Tangannya bergerak memeluk kakinya. Mengaitkan keduanya.

Jendela sengaja ia buka lebar-lebar.

Aaah, seandainya ada dia. Gue nggak bakalan kalah. Heh, kalo begini mah namanya nyalahin dia. Nggak, nggak. Ini semua cuma karena gue yang susah terfokus sama satu hal dan kurang berlatih. Iye iye iye, gue harus lebih giat dan berusaha lagi.

Gabriel beranjak dari sofanya. Menahan tangannya pada kusen jendela.

“Happy birthday, sayang. Aku harap kita bisa ketemu. Aku kangen” gumamnya. Tangannya menjulur meraih ujung handle jendela. Menutupnya.

***

Krik.krik.krik.

----hening

Diam. Gadis itu membelalak. Ia tahu, ia tahu, mamanya itu suka bertingkah konyol. Tapi, se-ber-lebihan inikah ?

Wow, tepuk tangan. Salut deh buat Mamanya.

“Fy ? Kok diem sih ?” tanya Mama Ify sambil mengaduk chocolate shake milknya. Aaiiih, ibu-ibu gaul.

“Mama ?”

“Ya ?”

“Serius ?”

“Iya dong”

“Itu beneran ide mama ?”

“Iya dong, brillian kan ? Dan mama sangat sangat sangat seneng. Seneeeeng banget,
wuuu bahagia buat kamu juga kan ?” Mama sangat excited. Sampai-sampai roti lowfat yang mama makan banyak berlubang akibat tertusuk garpu.

“Bahagia sih bahagia ma, tapi nggak gini juga kali”

“Loh ? Kenapa ?”

“Konyol tau nggak”

“Memang, itu tradisi keluarga kok”

“Masa ? Kayanya mama sama papa dulu nggak gitu deh”

“Memang enggak, ini tradisi naluri ke-ibu-an mama kok”

“Maaaa, stop untuk bertingkah aneh”

Mama Ify hanya terkikik.

“Tapi Mama jadi ngasih suratnya ?”

“Iyalah”

“Mama gila ah”

“Biarin, eh kamu mau nggak tuh pizzanya ?”

“Kenapa ?”

“Kalo nggak mau, sini buat mama”

“Ogah, ini pizza aku”

“Makanya dimanakan atuh neng, biar padetan dikit gitu badan kamu”

Ify terkekeh. Asik sekali punya mama gaul begini. Bisa di ajak share.

Papa ? Tunggu entar malem yah Pa, aku mau share sama Papa juga. Selalu itu. Kakak ? Aku menunggumu kaak, cepatlah kembali dari negeri tetangga itu !

***
Cahaya kekuningan yang terbias di kasurnya, membuat matanya bergerak perlahan.

Buruk. Bête.

Itulah gambarannya saat ini.

Bayangkan. Hari ini adalah first month anniversary-nya dengan “kekasihnya”. Kemarin adalah ulang tahun “kekasihnya”. Kemarin dia sial. Gila.

Oh, apakah ada yang lebih buruk dari ini ?

Oya, tentu ada.

Gabriel menggeliat. Ah, hari senin. Rasa bencinya pada senin mulai datang.

“GABRIEEEEL, BANGUN !”

‘wets, si kakak, teriak kenceng bangat’ batin Gabriel kaget.

“IYA KAAAAAK” balas Gabriel tak kalah kencangnya.

Klek. Krieeet. Suara handle pintu terbuka.

“Iel, kok masih tiduran ?” Shilla menghampiri tempat tidur Gabriel. Menggerakkan tangannya.

“Wets, mau ngapain gue lo kak ?”

“Nggak usah banyak tingkah” Shilla meletakkan tangannya ke kening Gabriel. Wow, panas banget.

“Jangan sekolah dulu deh hari ini, liat noh sekujur badan lo panas mana penuh perban gitu lagi”

“Iye, udah ah gue mau mandi”

“Mau pake air anget ?”

“Boleh, cepet ya”

“Iya iya”

‘Asik. Asik. Sakit enak juga. Dimanja sama Kak Shilla’ batin Gabriel. Jahil banget sih, masih sakit juga.

***

Merasa bosan dengan hari ini, hari yang seharusnya bahagia, ia bangun dari tempat tidurnya.

Melongok ke luar jendela, “Ada yang masukin surat ?” gumamnya.

Gabriel menuju ke kotak pos. merogoh surat yang ada di dalamnya.

Wow, ada 2. Yang satu pasti barusan, soalnya masih baru. Yang ini, sama aja. Masih keliatan baru juga.

“Yang ini, ngg, buat Shilla, ooh buat Kak Shilla, nah yang ini, lah nggak ada apa apa ini polos banget amplopnya, udah buat gue aja”

Gabriel berlari kecil menuju dapur, menghampiri Shilla yang memang sedang cuti kuliah. Shilla kuliah di universitas setempat, belum cukup mandiri untuk nge-kos atau apalah. Keuangannya sendiri saja belum dapat ia kendalikan dengan mahir.

“Kak, ini ada surat” Gabriel menyerahkat amplop coklat itu.

Shilla tersenyum, “Oke, makasih dek, itu apaan ?” Shilla menunjuk sesuatu di tangan Gabriel yang lain.

“Nggak, udah ya gue ke kamar dulu” Gabriel segera melangkahkan kakinya ke kamarnya, masih di lantai satu.

“Eh, mau makan apa ?” tanya Shilla

“Hah ? Tumben kak, gue mau makan masakan lo deh, apapun”

“Oke, eh ini nih makan, bawa aja ke kamar” Shilla menyerahkan sepiring jambu klutuk yang telah dipotong dan ia bersihkan.

“Wuaa, oke kak” Gabriel meraihnya dan segera berlari ke kamarnya.

***

BRAK.

Gabriel menggebrak meja belajarnya.

“Au, anjrit sakit lagi” Gabriel mengibas-ibaskan tangannya.

Dibacanya lagi surat putih polos itu.

Ini Gabriel ? Saya harap kamu nggak berkomunikasi dulu sama pacar kamu saat ini. Saya tau keadaan dia gimana. Kamu nggak usah khawatir. Dan kalau bisa kamu menjaga. Dalam arti apapun. Keep your heart ? Kamu bisa contact sama pacarmu lewat hubungan internet. Entah video call, apalah. Saat ini pacarmu ada di Medan bersama keluarganya. Saya harap kamu bisa bersabar selama beberapa waktu. Jangan harap ada yang memberi tau kamu tentang alamat dia sekarang. Setidaknya sampai kelulusan universitas ?

Satu hal yang nggak saya sangka. Akhirnya, finally, wow !
And you will know all of this. Cause you leaved from Ify ? yes ? Your girl ?

Be your … ( maybe someday you will know who am I and I will be your … )


“Anjrit, surat kaleng bukan nih ? Tapi keliatannya nggak deh, tapi...” gumam Gabriel.

“Kalo dipikir-pikir, gue sama dia belum putus kan ? wow, entah berapa lama nggak ada dia, hidup gue tanpa dia, tapi, satu hal yang gue yakin, dia juga jaga hatinya buat gue di Medan sana”

***

Sinar terik terus menyergap tubuhnya. Walaupun begitu, semangat dalam jiwanya terus berkobar. Batinnya tidak sabar untuk hari ini, hari yang dijanjikan Mamanya untuk kembali ke kota kembang itu.

Tangannya terus menggeret sejumlah koper dari rumahnya ke bagasi mobil.

“Fy, udahlah kamu tunggu di mobil aja, biar gue sama Papa yang masukin ini semua ke mobil”

“Nggak kak, aku mau bantuin”

“Iyadeh yang mau pulang ketemu pacar”

Ify menyeringai. Mengedipkan sebelah matanya, “Daripada lo kak, nggak punya sama sekali”

“Heh, sial”

“Uooo !” Ify berlari ke sudut lain, berlari dari kejaran kakaknya, Zahra.

***

Januari 1993

Keadaan rumah sakit yang lengang membuat ibu muda itu makin uring-uringan.
Pasangannya, hanya menggelengkan kepala melihatnya.

“Angel, kamu harusnya berdoa dong nggak usah mondar-mandir nggak jelas gitu” ujar pasangan ibu muda itu, tersenyum.

Angel, begitulah ibu muda itu disapa, menoleh. Mengerucutkan bibirnya, dan kembali berjalan ke sisi lain, kembali lagi ke sisi sebelumnya. Mondar-mandir. Aneh tingkahnya, padahal bayi kecilnya, masih dalam ruang operasi. Menyembuhkan suatu yang kurang wajar padanya. Mengoprasi sebuah penyakit dalam tubuhnya, tidak parah, namun jika dibiarkan dapat berbahaya di kemudian hari nanti.

Klak, klak, klak, klak, klak.

Sebuah langkah seorang wanita mendekat, jelas saja, itu bunyi sepatu hak tinggi.

“Angel..”

Mendengar suara yang sangat familiar, Angel menoleh.

“Aren ? Kamu jadi pindah ke Kanada ?” Angel memeluk Aren, sahabatnya.

“Iya”

“Sama anakmu ?”

“Nggak, biar dia di asuh sama neneknya”

“Kapan pulangnya ?”

“Aku nggak tau, nggak ada dalam bayanganku buat kembali kesini”

“Aku mau buat sebuah perjanjian”

“Nggak usah yang muluk, Ngel”

“Kita pasti bakalan ketemu lagi kok”

“I hope so, but I don’t know about that, jangan berharap Ngel, aku rasa sulit”

“Atau..”

“Atau apa ?”

“Our child ?”

“Mau jodohin gitu ?”

“Nggak kok, kita biarin mereka memilih sesuka mereka. Tapi, kalau mereka bertemu dan terikat sebuah hubungan, segera aku ungsikan Ify, anak aku, ke kota yang agak jauh dari anak kamu, siapa namanya ?”

“Gabriel”

“Gabriel siapa ? lengkapnya dong “

“Gabriel Stevent Damanik”

“Nah, aku pisahin mereka sebentar, lalu aku berikan surat ke anakmu itu supaya
menjaga hatinya”

“Untuk apa ?”

“Hanya mengajukan sebuah syarat kok. Itu mauku”

“Syarat ? Maumu ? Enak aja ! Kalau begitu aku juga mau mengajukan”

“Apa ?”

“Kita harus bertemu dalam pertemuan rahasia, setelah itu kita mengulang masa-masa
kita ! ”

“Dimana ?”

“Di tempat dimana mereka pertama kali bertemu, deal ?” Aren mengajukan kelingkingnya.

“Deal” Angel meraihnya. Tersenyum.

“Ngel, aku pergi sekarang. Aku yakin Ify berhasil dengan operasinya, akan aku doakan selalu untuknya, untuk pertemuan mereka, untuk pertemuan kita”

Angel tersenyum, memeluk sahabatnya itu lagi. Terakhir untuk pertemuan mereka selanjutnya.

“I’ll miss you, my besties”

“I’ll miss you , too”

***

Ada satu hal
Terkadang kita tidak perlu serius memikirkan suatu hal
Bukan sama sekali
Hanya saja kasihan otakmu
Biarkan hatimu saja yang bekerja akan itu
Bukan, bukan
Bukan sama sekali
Kadang kala manusia ingin punya sedikit waktu luang
Biarkan hatimu, otakmu sendiri tanpa kehadiran “dia”
Bukan, bukan
Bukan sama sekali
Boleh memikirkan, jangan berlebihan
Berikan sedikit waktu luangmu, tanpa “dia”


***

Finally, happy ending !

Entah kenapa akhir-akhir ini gue lagi nggak mood buat sad ending. Haha. Tapi tetap ada penyiksaan, haha :)

Wooooow. Cerpen terlama yang pernah dibuat karena nggak sempet -________-. Maaf banget hasilnya kurang memuaskan.

Disini gue cuma mau jelasin. Hidup kita kan nggak melulu sempurna, bahagia. Kadang kita juga kenal sial dikit kan, haha. <-- nggak jelas

Ya begitulah, remaja kan juga nggak selalu ada hal berkutip kan (baca : cinta ).

Thanks thanks :)

Dan anehnya, di cerita ini gue bayangin gabrielnya adalah naufal. Sedangkan Shillanya itu gue. Woo maunya -______-.

3 komentar:

  1. ahahaha... Keren Tyanaaaa... Unik banget nih yang ceritanya kayak gini. Lagian bahasanya ringan, jadi enak dibaca :)

    BalasHapus
  2. iya kak makasiiih :)
    iya nih ini kelamaan dibuatnya jadi begini deh

    BalasHapus
  3. keren nih keren... ayoo semangat buat berkarya...

    numpang share link yaa, kalau mau berkunjung juga boleh
    obat kista tradisional.
    obat pelangsing herbal.
    thanks before..

    BalasHapus