Sabtu, 19 Februari 2011

Untitled for Us - Part 4

Part 4 : Funone Café

***

Dengan balutan hubungan itu, dia pergi.

***

“Jadi? Gimana, Tiara?” tanya laki-laki dengan wajah berlekuk tegas itu dengan perasaan hati yang begitu gemetar. Ini adalah saat dimana ia untuk pertama kalinya mencoba memberanikan diri untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya ia kurang yakin. Tapi, ini adalah keputusannya. Sudah bulat, ia tidak menemukan sisi dimana ia harus berhenti.

Lingkaran, tidak mempunyai sudut dimana ia harus berhenti.

“Haha. Yang gue suka ya elo, Alvin.” jawab seorang yang bernama Tiara itu dengan wajah gembira dan hati yang sama gemetarnya.

“Hah?” Alvin nampak kurang yakin. Benarkah? Apa ini artinya…

“Iya.”

“Makasih ya.” ujarnya lega. AKHIRNYAA !

“Yah, sama-sama.”

“Kita pacaran nih?” Alvin mencoba meyakinkan apa yang ia dengar lewat handphonenya.
Mungkin saja sinyalnya sedang tersendat, sedang error atau apalah.

“Iyalah.”

Aaah, rasanya bahagia. Ralat, sangat bahagia.
Senyum terkembang lebar di setiap sudut bibirnya. Mulutnya mengulai senyum yang ia yakin mungkin tak akan pernah habis untuk 'gadisnya' saat ini. Baru dimulai detik tadi.

Tanpa ia sadari, ada sebuah rasa yang menyeruak dengan luas begitu memilukannya. Alvin bahagia, sangat bahagia. Namun, ada rasa yang mengganjal dan entah apa.

Satu, ini tidak munafik. Lihat sendiri kan? Alvin bahagia, Tiara bahagia.

Dua, atau ini munafik? Alvin tidak menyadari, rasa apa yang mengganjalnya.

Tiga, seharusnya ini lebih membahagiakan dari ini.

Dan ini memang sungguh bahagia. Mungkin akan selamanya.

***

Disinipun sama. Masih ada suara adzan yang berkumandang membangunkan gue yang tengah asyik bertamasya di pulau kapuk ini.

Gue mengerjapkan mata. Mencoba membuat diri sendiri sadar akan keberadaan gue saat ini.

Oiya, di Graha Hotel. Gue merasa mengganjal sesuatu di bawah tubuh gue. Gue menggeser posisi. Aih, novel kocak ini telah berhasil gue bikin lecek dibagian belakangnya.
Gue mengajak tubuh gue sendiri untuk bangun dilanjutkan dengan menunaikan ibadah sholat subuh. Gue menoleh ke sisi tempat tidur yang lain, ada Noura dengan senyumnya di kala tidur. Begitu teduh, sedap dipandang.

Pantesan Kak Rama naksir.


***

Pagi hari yang masih berlangit redup di Bandung, sebenarnya juga sama saja ketika gue ada di Jakarta. Yah, makin kesininya Bandung panas juga, walaupun nggak sepanas kota Jakarta tercinta gue itu. Kayaknya sih. Ini kan masih pagi banget juga, belum terasa panas. Lagian ini juga masih di hotel, pake AC kan. Jadi ya intinya, gue sok tau.

Gue mengaduk campuran susu kental manis rasa coklat itu dengan segelas air dingin. Sarapan yang biasa gue santap di pagi hari. Biasanya sih pake roti coklat keju. Atau bakpao. Tapi adanya hanya ini, yah mau gimana lagi? Syukuri apa yang ada~

Lagian juga pagi-pagi begini tumben gue kehausan. Engg, biasanya juga sih.
Yaudah, gue memutuskan minum susu aja. Padahal entar mau olahraga. Nggak ada hubungannya juga sih. Tapi, setau gue, kalau habis olahraga terus minum susu, itu nggak baik buat kesehatan. Eh? Atau?


“Mau olahraga ya, Liv?” tanya Noura sambil mengikat rambut panjangnya.

“Kok tau?” tanya gue dengan cueknya, masih mengaduk susu di bagian bawah yang masih menggumpal. Kayaknya nggak enak aja gitu minum susu pas masih ada gumpalannya. Kurang mantap.

“Itu udah lengkap pakaiannya.” jawabnya.

Gue liat diri gue sendiri yang udah memakai celana training biru donker dengan kaos berlengan pendek bergambar Mickey Mouse dibalut dengan jaket coklat gue yang, ehm, baru. Dipadu dengan bergo putih yang setia menutupi aurat gue. Iya kok, gue emang udah memakai kerudung dari SD. SD gue dulu, SD Islam. Keterusan deh sampe sekarang, Alhamdulillah.

Kalo seorang fashionist atau apalah namanya ngeliat gue, pasti dia mencak-mencak sendiri. Semua yang gue pake benar-benar tidak match. Bodolah, gue emang nggak begitu peduli penampilan. Catat, enggak begitu ya, bukan enggak sama sekali. Beda sama kakak cewek gue, Kak Audi, yang emang condong peduli banget sama fashion. Yaah, setiap orang punya karakteristik berbeda-beda.

“Ikut dong,” pintanya.

“Yaudah, paling bentar lagi sepupu-sepupu buluk gue dateng kesini.”

Hahaha. Yang buluk hanya Bang Dion doang loh. Bang Daru mah nggak. Kalo Bang Dion, cuma menang tinggi doang. Otak mah kalah jauh. Tapi gitu-gitu dia laku banget, jomblo nggak pernah sampe 2 bulan.

Eh? Enggak juga deh. Bang Dion juga pinter matematika. Pinter IPA juga deh (bagian reproduksi doang). Lainnya? Haha-haha.

Enggak deng. Bang Dion juga pinter. Ranking juga di kelasnya.

Tapi, tetep aja pinteran Bang Daru.

Bang Daru itu ya, cakep, cool, pinter, ramah, baik, perhatian, keren, wah banget deh pokoknya. Rasanya gue udah berkali-kali bilang deh.

Bang Daru itu sosok kakak yang benar-benar bikin gue envy setengah mampus sama Bang Dion. Pasti enak deh punya kakak keren.

Gue kembali melihat Noura, ia langsung beranjak menuju kamar mandi untuk mengganti baju-sepertinya. Dan gue membawa gelas melamin berisi susu coklat dingin dan segera menegaknya dengan rakus hingga habis.


***

Gedung-gedung serta toko-toko yang menawarkan sejumlah kebutuhan warga sekitar memang belum membuka waktunya untuk berdagang. Namun hawa berbelanja yang memang telah mendarah daging di otak gue telah membuncah untuk dituruti. Tenang, ATM ada di gue. Bebas dipakai kapanpun.

“Masih sepi yah,”

Gue menoleh ke arah Noura, “Iyalah, orang lagi liburan, lagian juga masih jam 6 pagi.”

“Disini ada nggak ya cewek cakep? Lumayan buat cuci mata. Katanya mojang Bandung cakep-cakep, hahaha.”

Gue menunjukkan tampang beler. Tanpa dibuat-buat beler juga kayaknya gue udah ada bakat bertampang beler. Maklum, kakak-kakak gue juga beler. Adik gue juga beler. Kayaknya anak-anaknya nyokap-bokap gue beler semua. Aduuh. Ngapa jadi ngomongin beler?! Beler lu, dasar.

“Playboynya keluar deh, inget ada Rasya yang setia menunggu di Jakarta, Bang.” ujar gue bijak. Tumben nih gue bijak, harusnya gue masuk rekor MURI nih. Lumayan, nampang nama.

“Iyaaa nggak apa-apa laah, mumpung Rasya-nya nggak ada ini kan? Hahaha. Enggak deng, bercanda doang gue.” sanggah Bang Dion sambil menyeringaikan giginya.

Bang Dion itu tinggi banget. Sekarang aja, tingginya sudah mencapai 180 sentimeter padahal masih kelas 2 SMA. Sedangkan Bang Daru yang lebih tua setahun di atasnya, cuma 175 sentimeter. Cuma? Gue aja cuma 160 sentimeter aja nggak protes kok. Suram.

“Huuu. Takut diputusin kan.” ujar Bang Daru sambil membetulkan letak kacamatanya.
Gue sendiri lebih mengalihkan otak gue kemana tepatnya letak Funone Café berada. Biar entar siang gampang gitu lho buat kesananya
.

“Cari Funone Café yuk.” ajak gue.

“Elu Zev, pasti deh sukanya nyari restoo mulu. Udah gendut tambah gendut lu.” ejek Bang Dion.

Dalem. Iya gue tau gue gembul, tapi nggak usah frontal gitu juga bisa kali.

“Wah, offense nih,” tegur Noura sambil bertolak pinggang. Membuat wajah tambunnya memunculkan semburat ‘gendut’ di pipinya.

“Hahahaha, mampus lu Bang, gue ada temennya, weeeek.” Gue pun tak kalah untuk menyudutkan Bang Dion. Dan biasanya, kalau kita semua yang sedang berkumpul sudah tengkar untuk urusan fisik, ada Kak Rama yang mendukung Bang Dion ngeledekin gue, tapi tetep membela Noura. Curang banget emang. For your information, berat Kak Rama hanya 55kilogram untuk tinggi sekitar 175 sentimeter. Jadilah trio jangkung nan kurus, yaitu Bang Daru, Bang Dion dan Kak Rama, ngeledekin gue habis-habisan kalau mereka mendapati gue sedang asyik melahap sesuatu atau saat gue sedang mengunyah apapun itu.


“Yaudah cari Funone Café dong, bantuin guee,” lanjut gue lagi. Gue beneran pengen liat aslinya deh. Fotonya sih ada. Sketsanya doang sih, itu juga yang gambar Ayah. Nggak begitu bagus. Soalnya Ayah lagi males dan sibuk, katanya. Sama juga sih kayak yang di Jakarta. Tapi jiwa gue ini kan jiwa berkuliner ria.

“Ntar aja deh, balik ke Hotel yuk, gue masih ngantuk.” tawar Bang Dion sambil menguap lebar-lebar. Liat mulutnya kebuka bak kudanil nggak dikasih makan setahun gitu rasanya pengen gua garuk tuh.

“Yaudah, ayuk balik ke hotel.” ujar Bang Daru meng-iya-kan. Nampaknya lelaki berumur 17 tahun itu juga ingin kembali ke pulau kapuk penuh iler miliknya.

“Zev, habis ini belanja yuk,” ajak Noura nggak nyambung. Ini bocah emang kadang rada beler. Mungkin belernya ketularan Kak Rama. Nggak heran, Kak Rama emang membawa dampak buruk bagi siapapun yang dekat sama dia.

“Tokonya belum buka, Nouraku sayaaang, sekarang masih jam 6 pagii.” jawab gue sambil menyeka beberapa helai rambut gue yang ingin menyembul di pelipis kiri gue.

“Iya sih, yaudah yuk balik. Kita sarapan,” ajak Noura lagi. Ini bocah, bocah beler banget. Yang namanya pengen kurus itu, kalau habis olahraga jangan makan dulu atuh. Nah, sekitar setengah jam setelah olahraga, baru deh boleh minum sama makan. Kalau main makan aja habis olahraga sih ya sama aja bodong, gendut-gendut juga.

“Ngomong-ngomong, kita balik ke Hotel ke arah mana yah? Gue nggak inget jalan.” tanya Bang Daru sambil melengak-lengok ke sudut manapun yang dapat ia jangkau.
Oiyayah. Mampus gue. Masa iya belum ada sehari di Bandung udah nyasar duluan sih? Lucu bangeet. Kelitikin dooong. Jayus abis.


“Nggak tau.” jawab gue. Yah, pasrah dah. Kalau begini mah seharusnya ada Kak Rama. Biasanya kan dia suka menghafal jalan. Maklum, dia mempunyai bakat alami atau telah terlatih secara otodidak menjadi sopir.

Wajah Noura terlihat panik, “Aku nggak tau, yaah gimana dong,”

“Tenang aja, aku tau kok,” ujar Bang Daru akhirnya.

AH! BANG DARU ! YOU’RE MY HERO !


***

Tanpa memerdulikan tulisan ‘CLOSED’ yang tertera di depan pintunya, ia tetap mencoba membuka pintunya. Ternyata pintunya tidak terkunci, atau lebih tepatnya, sudah dibuka.

Tubuhnya yang menjulang tinggi menyebabkan dirinya harus sedikit menundukkan kepalanya ketika memasuki sebuah café di kawasan entah apa namanya.

“Permisi,” ujar laki-laki itu dengan melangak-melinguk di dalam café redup bernuansa modern itu ke segala arah.

Seorang perempuan tinggi, putih serta memiliki wajah manis datang, “Ya, maaf siapa ya?”

“Saya Rama, saya ditugaskan oleh Ayah saya untuk bekerja sambilan disini untuk menjalani hukuman,”

“Ayah?”

“Iya. Oiya nama Ayah saya, Bapak Irwan Ghazali, direktur utama. Ini kartu namanya,” Rama memberi sebuah kertas kecil ke arah wanita itu. Rama melihat nickname yang ada pada baju perempuan itu, Okta.

“Oh, anaknya bapak direktur? Kok bisa dihukum sih?”

Rama menghela nafas, “Aduh mbak, bisa ketemu sama yang punya café aja nggak? Saya harus langsung kerja soalnya,”

‘atau enggak, gue bisa mati laper disini karena nggak punya duit..’ ucapnya dalam hati.

“Oh boleh-boleh, silahkan ke sebelah sini, mari..”

Rama hanya memainkan alisnya dan mengikuti mbak-mbak itu.

“Gitu kek dari tadi..” gumam Rama sambil membetulkan letak tas selempangnya.

“Hah ? Apaan?”

“Nggak,”

Rama terus mengikuti Okta sampai ke sebuah ruangan di sudut café.

“Nah, ini ruangannya.”

Rama memandang ke sekelilingnya dengan mengerutkan keningnya, “Ya makasih.”

“Sama-sama.”

***

Café memang salah satu tempat favorite gue. Tempat favorite gue sih simple aja ; kamar gue, tempat makan, tempat belanja. Di tempat-tempat itu, gue bisa jadi diri gue sendiri. Tapi, di tempat lainnya juga sih.

Dan sekarang, pukul 12 siang. Waktunya makan siang. Perut gue minta diisi.

Taksi yang gue tumpangi menuju tikungan ke kiri. Sampailah gue di sebuah tempat.
Setelah gue membayar jumlah biaya yang ada pada argo taksi, gue langsung keluar taksi dan melihat ramainya kendaraan yang berparkir di tempat ini.

Wow. Funone Café di Bandung sedikit lebih kecil sih dari yang di Jakarta. Eh? Apa sama aja ya? Nggak tau deh, hehehe. Gue nggak ngukurin sih, nggak ada bakat jadi kuli bangunan.

Arstitektur bangunan café ini sih simple aja ya. Yah, di bagian atas café, ada suatu tulisan ‘FUNONE CAFÉ’ besar-besar dengan tulisan font Billo Dream. Lucu deh. Luar cafenya terlihat dengan dinding batu-bata di bagian bawahnya dan ada nuanasa krem di bagian atasnya. Keren abis. Sama aja sih yang seperti di Jakarta. Cuma kok segala yang ada di Bandung jadi mendadak keren sih ya? Apa gue aja yang norak?

Gue masuk ke dalamnya. Begitu gue masuk, gue disambut seorang pelayan perempuan. Wajahnya menunjukan dengan jelas bahwa dia adalah seorang bule.


“Welcome to Funone Café, have fun.”

Heh? Iye dah mbak. Iye iye aje.

Gue ke meja resepsionis yang berada persis di depan pintu masuk.


“Siang, meja untuk berapa orang?”

“Satu aja.”

“Silahkan ke meja nomor 5 di sebelah sini,”

Mbak-mbak yang berdiri di belakang meja resepsionis itu menoleh kebelakangnya, ada laki-laki yang berpostur tinggi nampak sedang mengelap meja, “Kamu, yang baru, ini anterin nona ini ke meja nomor 5 ya.”

“Meja nomor 5? Oke.”

Gue sepertinya akan diantar oleh seorang pelayan pria. Tinggi juga. Tapi kok rasanya familiar ya?

“Kesini nona..” ujarnya sambil keluar dari belakang meja resepsionis.

Wow. Gue boleh ngakak nggak?

Cowok itu, pelayan itu, kakak gue! Dan tentu saja, Kak Rama menyadarinya.


“Zeva, elu ngapain disini? Bikin malu aja. Gangguin gue mulu, lu.”

“Ih, emangnya kenapa? Orang gue laper kok, udah buruan anterin gue ke meja nomor 5 deh, lo kan pelayan disini, gue tamunya. Tamu adalah raja, tau.”

“Ah, bacot lu. Yaudah ayo sini.”

Gue ngakak, dalam hati. Pembalasan, dimulai.

Pakaian yang Kak Rama kenakan, simple aja sih. Cuma kaos hitam yang memiliki kerah putih dengan celana hitam panjang dengan beberapa kantong di bagian paha dan lutut.
Itu baju pelayan khasnya funone café. Di sisi kiri kantung bajunya, terdapat nickname kecil bertuliskan ‘Al’. Woooo Al, Al. Namanya panggilan di sekolah tuh. Sok keren aja. Temen gue yang namanya Al, jauh lebih keren daripada kakak gue. Tapi gue udah naik level. Iya, gue sama Al yang temen gue, itu temen les. Cuma gue udah naik level soalnya waktu itu dia sempet keluar tempat les dan masuk lagi.

Seragam pelayannya nggak keren. Lebih nggak keren lagi saat dikenakan oleh kakak sedeng gue.


“Nih,” Rama dengan santainya mengeloyor pergi ke arah meja resepsionis.

Lah lah?,
“Eeh, gue mau makan.” cegah gue. Apa-apaan tuh?

“Yaudah, mau pesen apaan?” tanyanya sambil mengeluarkan sebuah kertas kecil serta pulpen kecil.

“Ih kok nggak ramah sih?”

“Buat apaan gue ramah sama lu?”

“Gue tamu tauu!”

“Iya gue tau, siapa juga yang bilang lo lagi dihukum hah?”

“Au ah, gue mau makan sekarang.”

“Yaudah mau makan apa?”

“Peanut donnut nya satu, pizza ukuran kecil yang bertabur sosis satu, sama hot chocolate.”

“Peanut..”

“Eh bentar, tambah sama orange juice deh.”

“Oke, jadi peanut donnut, small pizza sosis, hot chocolate, sama orange juicenya masing-masing satu,”

“Yap, cepet ya nggak pake lama.”

“Bodo amat,”

“Anj….”

Gue berfikir. Gue harus bales kak rama.

Tapi..

Satu,

gue nggak tau mau ngebales dengan perbuatan apaan.

Yah, mungkin gue emang dikasih hati nan baik sama Allah. Jadi yaaa, gue tidak mempunyai bakat apapun untuk menyakiti dan melukai serta menjahili orang-orang, terutama kakak sedeng gue yang emang sehari-harinya nyiksa gue. HAHAHA. Gue yakin lo
mau muntah.

Mana lagi makanan gue? Ini cacing-cacing udah pada teriak-teriak minta dikasih makan nih.


-

“Silahkan nona, ada lagi?” seorang pelayan perempuan yang memiliki lesung pipi serta berwajah manis, dan yaaah lumayan tinggi, menghampiri gue yang lagi asik mencoba menghubungkan koneksi handphone gue dengan koneksi wi-fi di café redup ini.

“Nggak ada, makasih ya.” sambut gue dengan senyum.

Pelayan itu mengangguk seraya pergi ke arah sebuah pintu di satu sudut.

Gue menatap makanan yang telah tersaji dengan begitu ‘apik’nya. Susunan atau tata makanan yang ada disinipun sama. Tidak ada yang berbeda. Situasinya-pun sama. Jadi apa yang beda?

Ini menjelaskan, memang semuanya butuh perubahan.

Ah, mikir apa sih gue. Perasaan nggak nyambung sama sekali.

Lebih baik makan saja semuanya tanpa memrotesi apapun
.

***

Gue menapaki kaki gue di trotoar jalan kota Bandung yang telah gelap. Gue sih pernah ke Bandung sewaktu study tour, tapi yaah mana gue hapal gitu jalanannya. Mana ini sudah malam lagi. Gue menatap jam tangan yang melingkar di lengan gue. Hem, jam 8. Lama juga ya gue jalan-jalan di Mall-nya setelah makan siang. Dan gue tengah membawa seplastik makanan dan voucher pulsa titipan sepupu-sepupu gue dan Noura. Dan niatnya, gue mau makan malam dulu.

Gue membuka aplikasi twitter pada handphone gue. Seperti biasa, gue membaca timeline yang ada sambil ketawa-ketiwi. Semua status temen-temen gue isinya begini ;


“Bosen abis dirumah, ga kemana-mana”

“Otp w/ @...”

“Otw to PIM”

“Asik besok ke Ancol”


Itulah ya, aneka ragam status remaja labil zaman sekarang. Tapi, ini ada satu status yang paling, ah, apa ya?

tiarabellaa :p haha RT @alvinpratama :/ RT @tiarabellaa suram, pulsa habis

Apaan? Apaaan? Apaaaaan?

Apa yang suram? Apaan yang begitu?

Maksudnya mereka sms-an?

Gue jadi curiga, masalahnya udah hampir seminggu lebih gue nggak buka tweetnya Alvin.
Gaswat.


tiarabellaa :p haha RT @alvinpratama :/ RT @tiarabellaa suram, pulsa habis

gatau haha RT @mahesaandika lo jadian ya sama tiara? PJ njiiiiir !

au ah RT @abiialfian publish kek relationshipnya

youknowmesowell

mengapa hatiku cenat-cenut :/

--‘’ parah abis

anjir lola banget nih modem kampret

ga, biasanya udah tidur RT @tiarabellaa emang kenapa? RT @alvinpratama tumben ..

tumben belum tidur RT @tiarabellaa anjir kocak nih ftv


……

God ! Itu statusnya? Alamaaaak, jadian bener dia sama Tiara? Tiara anak X-7 yang cantik itu? Yang pinter itu? Yang tinggi itu? Yang putih itu? Yang hampir perfect itu?

…… *hening*

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA !!!!

Nggak ah, itu hanya perasaan gue aja kali. Selama ini kan gue yang nge-ceng-in dia sama Tiara.

Boong ah.

Serius ih parah. Oke, gue harus sms Aufa.


To : Aufa X-9
Fa, Alvin jadian ye sama Tiara?

Oke. Gue mengangkat kepala gue.

Anjir asing banget ini wilayah.

Nah lo mampus. Ini dimana?

Bagusnya, gue nggak bawa peta atau apapun. Pulsa sepupu-sepupu gue pada habis. Anjir mampus ini dimanaaaa?

Oke slow, Liv, slow. Lo yang jelas masih di Bandung dan lo ada duit.

Laper lagi.

Nggak, tenang, gue ada makanan banyak di plastik
.


‘Auuuuuuuu’


Hahaha. Suara apaan tuu? Anjing ya? Asu.

Gue memberanikan diri menengok ke belakang.

M-a-m-p-u-s. Beneran ada anjing loh di belakang gue. Dan gue nggak kenal sama sekali ini jalanan. Ini nampaknya masih di jalan raya, hanya saja agak sepi.

Aduh gimana dong. Kata Ibu dulu, kalau ada anjing jangan lari.

Eh tapi ini gue sendirian.

Oke, mungkin jalan ini salah. Gue nengok kanan-kiri. Oke, kiri kosong dan kayaknya menuju ke jalan raya yang ramai. Gue memasukkan handphone gue ke tas selempang gue.
Dan,

LARIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII


‘Guk. guk guk guuk. auuu, guuk, gukgukgukgukguk’

“Ibuuuu! Tolong-tolong ada anjing! Tolongin guee! Aaaa! Astaghfirullah ya Allah tolong aku ya Allah tolooong! Aduh ini jalan kemana lagi? Yah anjingnya masih ngejar ah mampus!”

Gue terus berteriak seperti itu sambil terus berlari kencang. Sumpah ya kalau lo ada di posisi gue, itu mana anjingnya gede banget mana warnanya item lagi. Horor abis.

Gue berbelok ke kanan. Dan menemukan suatu bangunan rumah. Au deh itu rumah apaan. Dan dalam keadaan seperti ini, gue beneran nggak bisa mikir ini rumah apa. Bodo amat dah, orang pintu pagarnya terbuka ini.

GREEEEK. Gue menutup pintu pagar itu dan menghembuskan napas lega.

Alhamdulillah. Tadi itu horror banget.

Gue menoleh ke belakang gue. Ini rumah siapa? Lampunya sih nyala. Dan gue menoleh ke sekeliling. Oh, ini kos-kosan. Baguslah. Berarti ada orang.


“Sorry mbak, siapa ya? Kos-an udah penuh.”

Aiih. Siapa juga yang mau ngekos? Ogah dah.

“Nggak kok, ini saya tadi cuma menghindari anjing aja.”

“Ooh iya, di deket sini emang suka ada anjing keliaran kalau udah jam 8 lewat.” jawabnya sambil mengusak rambutnya sendiri. Huu sok keren lo. Tapi ganteng euy.

“Kenapa?”

“Dilepasin gitu aja sama majikannya.”

“Aih, lain kali bilangin tuuh jangan dilepas, bikin orang jantungan aja.”

“Lah, jangan sama saya dong.”

Gue berfikir, “Iya sih.”

“Terus mbak sendiri mau ngapain kesini?”

“Nggak ngapa-ngapain. Kan tadi udah bilang.”

Kami berdua hening agak lama, sampai si ganteng itu membuka mulutnya, “Oh, yaudah saya masuk dulu ya.”

“Iya. Saya juga pulang dulu.” Gue langsung berbalik dan menuju pintu pagar. Keluar dari kos-kosan itu, gue membuka aplikasi twitter lagi. Dan berencana mengecek twitter Tiara.

-

Bodoh. Semestinya, gue tanya dulu jalan pulang ke mas-mas ganteng tadi! Tulil. Gue berbalik, kembali ke kos-kosan tadi. Untuuung aja, belum jauh.

“Misi,”

Ia yang tadi menoleh, “Eh mbak yang tadi, kenapa?”

“Boleh tunjukkin jalan saya pulang? Saya bukan orang sini jadi nggak tau jalan.”

Ah bodolah. Bodo amat nggak kenal juga. Lagian ini darurat banget pake nyasar segala
guenya.


“Boleh, boleh. Sebentar,” ujarnya sambil mengambil sebuah jaket berwarna hitam.

“Iya.”

Ya Allah, semoga dia buka orang jahat. Gue nggak biasa minta tolong sama orang yang gue enggak kenal sebelumnya, yah tapi mau bagaimana lagi? Gue sama sekali asing sama jalan ini.

“Mari,” ujarnya dingin. Ini bocah cuek, ramah, apa gimana ya?

Gue hanya bisa mengangguk.


“Tadi tuh kos-kosan ya?” tanya gue iseng.

“Iya, mbak.”

“Ngekos juga disana?”

“Nggak kok, saya disini Cuma liburan aja, saya mah tinggalnya di Jakarta.”

“Oh ya?”

“Iya, di daerah pusatnya.”

“Oh gitu. Masih sekolah?”

“Iya, masih kelas sepuluh.”

“Oh ya? SMA mana?”

Kayanya gue iseng banget nanyain. Ini bocah lumayan juga sih, ganteng.

“SMA Negeri 1 Galileo.”

Gue tersontak. Wow, samaan dong.

“Iya? Waah.”

“Kenapa mbak?”

“Sama dong,”

“Lho? Mbak dari Jakarta juga?”

“Iya, kelas sepuluh juga. Eh jangan panggil mbak dong, nggak enak, kita kan sama-sama kelas sepuluh.”

“SMA mana mbak?”

“Sama kaya situ. Ih dibilangin jangan panggil ‘mbak’.” ujar gue lagi. Ya nggak enaklah, tampang gue kan muda banget gitu ya jadi ya nggak pantes dipanggil mbak
juga, haha. HA-HA.


“Masa sih? Saya nggak pernah liat mbak, eh lo tuh,”

“Gue juga kali, lagian gue juga nggak famous gitu.”

“Nama lo siapa?” tanyanya. Gile, main tanya nama aja.

“Oliv.”

“Oliv siapa?”

“Olivia Zevalione,”

“Ribet amat.”

“Emang.”

“Tapi, kayaknya pernah denger.”

“Oh ya?”

“Iya gue pernah denger.”

“Haha, lo di kelas berapa?”

“Sepuluh-lima.”

“Waah, eh, eh, sekelas sama Alvin dong?”

“Iya, lo tau Alvin?”

“Tau dong,”

“Naksir lo? Banyak saingan,”

“Tau aja lo, udah biasa, dari SD.”

“Dari SD?”

“Iya, udahlah jangan ngomongin Alvin.”

“Oke,”

“Eh lo ikut ekskul apa?” tanya gue. Kali aja gitu, se-ekskul sama Alvin.

“Futsal sama basket, tapi bentrok banget jadi gue mau pindah ke fotografi bareng temen gue juga,”

“Iya? Waah bakalan satu ekskul dong!” seru gue sambil menyengirkan cengiran gue.

“Hah?” dia bingung.

“Ekskul gue kan fotografi juga.”

“Iya? Sama apa?”

“Sastra, hehe.”

Dan gue terlibat obrolan nggak penting macam ngomongin saudara-saudara gue yang gila. Sampai ngomongin Alvin dan Kak Rama segala. Yah, Mahes satu ekskul dengan Kak Rama dalam ekskul basket dan dia juga satu ekskul futsal dengan Alvin.

“Nah, ini udah jalan besar. Tinggal naik taksi aja.” ujarnya sambil menaruh tangannya dalam kantong jaketnya.

“Oke, makasih banget yah, Mahes.”

“Iya sama-sama.”

***

Gue duduk diam sambil melongin twitter di pangkalan taksi. Entah kenapa, begitu sepi disini. Mana di sebelah kiri gue ada orang main gaple lagi.

“Lah itu tiara bukan? Kok dia ada di Bandung?” gumam gue sambil terus melirik –yang mungkin itu adalah Tiara- yang sedang bersandar pada tiang dan memainkan handphonenya sambil terus tersenyum bahagia.

Mungkin karena dia merasa dilihat, ia melihat balik ke arah gue. Gue langsung membuang muka.

Bukannya apa, gue nggak ‘sreg’ aja liat tampangnya.

Waduh.Bukan karena apa juga, fisiknya bikin envy banget. Kabur ah.


“Taksi, mbak?”

Gue mengangguk dan langsung masuk ke dalam taksi.

“Tujuan?”

“Graha Hotel.”

***

Yeeeeaaaay! Part 4 jadi ulala ulala *joget-joget*
Uwaah maaf, gambarnya lupa gue taruh mana. Jadinya nggak di post sekarang.
Ntar ya, di Part 5 yang nggak tau kapan bakalan gue post.
Secepatnya deh ;)
Kaya biasa, kritik, komen, dan saran selalu ditunggu.
Boleh lewat sms, twitter, fb, ym, apa aja deh :)
Byeee :) tunggu postingan selanjutnya yaaa ~

Minggu, 06 Februari 2011

Untitled for Us - Part 3

Part 3 : Bandung

***

Biru itu warna. Biru itu laut. Biru itu langit.

Biru itu, aku :)


***

Suara adzan berkumandang dengan gagahnya, tepat sekali menggedor telinga gue dengan telak. Aaah, masih ngantuk. Coba aja kalau hari ini nggak berangkat, gue molor deh sampe siang. Haha. Parah. Udah ah, gue sholat dulu.

Gue keluar dari kamar, ke kamar mandi, guna mengambil air wudhu. Tepat membatasi antara kamar gue dan kamar Kak Rama.


***

Sinar matahari Sabtu pagi menerpa mata gue ketika gue buka jendela kamar gue.
Huaahoaaaaaamm. Gue menguap. Wuah, masih ngantuk banget gue. Mana belum beberes baju untuk pakaian selama di Bandung lagi. Sumpah gue belom beres-beres baju padahal hari ini mau ke Bandung ! Anjiiir.

Gue mengambil koper agak besar dari lemari panjang gue. Yaah. Begitulah.Gue beranjak ke lemari pakaian gue. Gue buka.

Gue melihat sesuatu yang janggal di lemari pakaian gantung gue. Gue geser kasar baju gue ke arah kiri.

WHOA !

WOW !

APA INI ?

INI APA ?

Oke gue lebay banget. Jadi…

Gue mengambil sebuah gaun putih panjang.

Wow. Ini gaun kapan adanya ? Perasaan kemaren nggak ada.

WOW. PUNYA SIAPA INI ? SEUMUR-UMUR GAUN YANG PERNAH ADA DI LEMARI INI CUMA PUNYA KAK AUDI DEH -____- GUE NGGAK PUNYA !

Whoa. Eh tunggu, gue pernah punya juga sih. Terakhir gue punya gaun kaya gitu juga pas sd. Gue pake pas perpisahan untuk kelas 6. Yang khusus kelas 6. Itupun sekarang udah kekecilan. Eh iya deng, gue kayanya juga punya gaun yang gue pake waktu SMP. Ah, itu gaunnya beda. Bukan macam ini. Nah, yang ini nih.

Au ah.

Lanjut ah.

Tinit..tinit

Hoh ? Sms tuh ? Oiya hape di silent yah?

Gue noleh ke kusen jendela gue yang menjorok ke arah depan. Gue hampiri handphone gue yang tergeletak disana.

Eh,bener. Ada sms.



From : Noura
Liv, aku ada di depan rumah


Woah. Bagus, gue belum mandi.


To : Noura
Oke, Ra. Pastikan Rama nggak liat kamu ya.


Gue langsung berjingkat turun ke lantai bawah. Ke teras depan, tepatnya.

***

Senyum gue merekah lebar begitu melihat cengiran Noura yang begitu menawan. Yak, cengiran.

Noura, pacar Kak Rama.

Ya, gue tau. Sangat tidak pantas. Hoho. Tapi gimana ? Si Noura-nya juga kesengsem sih sama kakak sedeng gue yang satu itu.

Noura nggak sekelas sama gue. Yah, tapi kita cukup deketlah. Wong kita satu ekskul kok dulu. Dulu, waktu SMP tapi.


“Hei Noura ! Ayoo masuk. Sini kopernya gue bawain.” bisik gue sambil menggeret koper Noura. Lalu berjingkat sambil menggeret kasar kopernya secara cepat sehingga menimbulkan suara ‘gredekgredeeeekgergergergereeeeekgeredeeeek’ begitu.

Noura tertawa.

Buset, ini anak kenapa ? Ketularan gila-nya Kak Rama kah ? Woogh.


“Liv.”

Gue noleh, “Yap ?”

“Katanya nggak mau ketauan Kak Rama.”

“Ember cin” gue melebaykan suara gue jadi agak kebencong-bencongan. Ya. Ngakak aja nggak apa-apa kok.

Bego. Gue baru sadar satu hal.

“Yeah Ra, I know what you mean”

Yaiyalah. Ngapain juga gue jingkat-jingkat sambil menggeret koper dengan begitu
brutalnya ? Toh Kak Rama juga bakalan denger kali kalau gue menggeret dengan segitu
nafsunya. Tulil. Otak gue udah nggak beres nih. Mesti dibawa ke dokter THT.


***

Ayah melepas gue dan yang lainnya di bandara.

BANDARA ? KE BANDUNG DOANG PAKE PESAWAT ?

Oke gue hiperbolis banget pas tau Ayah nganterin kita ke bandara. Agak gila emang.
Yap, actually, gue emang di bandara soekarno-hatta sekarang. Iya, iya. Gue mau ke Bandung. Bukan ke Amerika seperti apa yang gue inginkan. You can laugh now.
Gue nggak ngerti. Ini apa bokap kelewat perhatian sama gue atau gimana. Kan ke Bandung doang gitu. Bisa pake bus aja kan ? Gue ke terminal sendiri juga bisa kok.
Tapi kata Noura, itu bahaya juga. Banyak copet. Yaudahlah. Masih banyak angkutan umum lain selain mobil pribadi.

Bisa pake kereta kan ?

Wogh. Gue emang seneng naik kereta, mamen. Yaah, nggak tau juga kenapa. Gue seneng aja gitu ngeliatin orang lalu lalang di stasiun kereta api. Gue seneng merasakan hembusan angin cepat yang menerpa wajah serta tubuh gue ketika kereta langsung lewat dengan jarak dekat.

WHOA. Beban serasa lepas gitu aja !

Naik pesawat sih gue seneng-seneng aja. Cuma.. kan mahal..

Gue sih lempeng-lempeng aja. Fine aja. Nggak ada masalah sih. Yang memberi biaya juga bokap kan.


“Udah ya Zeva, pesawat Ayah masih satu jam lagi. Tapi kan Ayah mesti ngurus bagasi sendiri.” ujar Ayah dengan wajah yang dapat ditebak, beliau agak sedih. Well, ini sih udah biasa. Woaa ! Ayah mau ke Singapore ! Ah, Shit ! Ini gara-gara nemenin Kak Rama.
Kalo enggak kan gue bisa ngikut Ayah kerja aja. Kak Rama mah tinggal aja dirumah sendirian. Nggak penting. Okay, slow. Rileks.


“Iya , Yah.” jawab gue lirih. Huah, laper. Gue belum sarapaaaan. Tadi kan gue sibuk beberes baju. Kalo nggak makan gue bisa demam woy ! Ah.

“Rama, Daru, Dion.” panggil Ayah tegas. Whoa. Apaan nih ?

“Ya, Ayah.” jawab Kak Rama sambil melengos. Dih, diajak ngomong Ayah juga.

“Iya, Om.” sahut Bang Daru kalem. Widiiiw, calm boy banget.

“Ya, Om ? Kenapaaa ?” ini lagi. Si Bang Dion nggak pandang itu masih Om-nya sendiri gitu, ih.

“Jagain Zeva sama Noura ya. Awas , jagain yang bener. Semua, Om berangkat dulu.
Assalamu’alaikum.” Ayah melambaikan tangannya. Semua kompak menjawab,
“Wa’alaikumsalam.”

Beda sendiri, Kak Rama dengan santainya bilang : “Oya dong, Ayah, aku pastinya bakal jagain Noura dengan sepenuh hati.”

OH GOD ! Gue dikasih kakak macam apaan sih ? Gue kok nggak disebut ? Setan banget emang nih orang. Pandangan gue beralih ke Ayah yang mulai menggeret kopernya. Gue berinisiatif manggil Ayah, “Ayah.”

Ayah menoleh, “Iya, Zeva. Kenapa ?”

Gue senyum, menyalimi tangan Ayah, “Hati-hati ya, Yah”

Ayah ikut tersenyum, “Iya, Zev.”

Lagi-lagi, yang lain mengikuti jejak gue atas menyalimi tangan Ayah.

***

Daritadi ya, yaampun. Gue berdesak-desakan bersama penumpang lain yang rela mengorbankan sebagian uangnya yang bernominal cukup banyak hanya untuk naik pesawat ke Bandung.

Aaahh. Gue pengen duduk. Gila, gue pegel.


“Mau ke Bandung juga , mbak ?”

Hoh. Gue nengok. Het, ada mbak-mbak norak. Dia kira gue mbak-mbak kali ye ? Main manggil ‘mbak’ aja nih. Sok kenal bener. Dia juga mbak-mbak kali, sobet banget lagi pake kacamata item segala. iPod terkalung di lehernya. Pake topi anak kecil yang ada bunganya itu lagi. Semua yang gue sebutin, yang jadi aksesori dia PINK lagi !

Oh, myyy. Ini sih mirip sama kakak gue banget, Kak Audi. Apa-apa piiiinnnkkk semua.
Nggak bosen apa yak. Gue juga sih, demennya warna biru. Sampe ya, waktu kecil, kita berdua kan sekamar. Sampe satu kamar di dominasi warna pink biru. Garis-garis memanjang gitu. Oleh Ayah, ditambahkan satu warna putih. Biar ada netralnya gitu.
Aiih.

Ada di sebuah sisi, untuk kepala tempat tidur, ada satu dinding warnanya : Biru,Putih,PINK !

Wogh. Entah kenapa, gue rada benci sama warna pink. Au ah, gue nggak peduli sama ‘benci jadi cinta’. Toh, waktu kecil juga gue dicekokin sama aneka baju dan aksesoris warna pink sama orangtua dan sanak family gue.

Waktu kecil. Gue rada iri sama kamarnya Kak Rama sama Ridhan. Warnanya simple banget. Cuma warna biru ! AH. WARNA FAVORIT GUE ITU !

Zzzt. Balik lagi ke situasi di ruang tunggu di bandara.


“Iya, Mbak” jawab gue malas. Gue memerhatikan tangannya. Wuih. Ada jam tangan Seiko disana. Wuah, keliatan banget. Ini sih bukan barang palsu. Warnanya, hem. Lumayanlah.
Warna perak/silver gitu. Tapiiiii, gue liat lagi di tangannya yang, ehem, kulitnya sama kaya gue, agak kecoklatan gitu lah, sawo matang. Wuih, gelangnya pink. Wogh.

PINK MANIAK !

Aiih, gue jadi kangen sama Kak Audi deh. Miss you so much, sist!

Haha, itu julukan gue buat kakak gue, Kak Audi.


“Zeva, ayok kesana.”

Wez. Bang Daru. Calm. Wiwiiwing. Gue bisa lihat rona wajahnya ketika sinar matahari menerpa…

“Oke, Bang.”

***

Entah ada angin apa.

Mungkin itu kata yang Kak Rama deskripsikan buat gue. Sampai sekarang, mungkin Kak Rama masih nggak ngerti sama jalan pikiran gue.

Haha. Bodo amat.

Katanya
, “Ngapain ajak Noura disaat gue dihukum ? Parah lo ah. Tapi nggak apa-apa juga sih.”

Bego. Gue kan ngajak Noura juga tujuannya buat nemenin gue. Ntar pasti kan Kak Rama kerja full time tuh di café entah apa namanya. Apa ya ? Fun-fun apa gitu. Bentar gue liat dulu di hape.

Hoh. Funone Café. Mantap. Gue udah liat café-nya di Jakarta. Lumayan bagus. Udah pernah makan disana juga. Sering, malah. Wooh. Makanannya enak. Wooh. Gue suka.
Mungkin itu salah satu faktor gue tambah gendut kali ye. Kau tau? Berat gue udah naik sekilo. Oh watde watde.

Dan setau gue, café itu punya saham apa gitu di kantor Ayah. Ah au ah, gue nggak ngerti nih yang beginian.

Udah ah. Gue tidur aja. Bentaran doang.


***

“Liv,Liv, bangun.”

Rama menoleh ke bangku pesawat di sebelahnya, “Kenapa , Ra?”

“Ini, Oliv belum bangun.”

Laki-laki jangkung itu berfikir, mulai memekerjakan otaknya secara brutal dan menyeringaikan gigi-gigi putihnya, “Udah, Rama aja yang bangunin.”

Sementara, Noura menangkap gejala usil yang telah ia kenal selama ini. Nggak sia-sia mengenal Rama lebih dari 4 tahun. Rama menoleh ke belakang, “Ah, itu dia.”
Noura mengerutkan keningnya heran, “Kenapa?”

Rama menyeringai lag. Kemudian memanggil pramugari yang ada dipesawat itu, “Mbak, rotinya satu.”

Pramugari itu memberikan sebungkus roti pada Rama. Rama membayarnya, “Thanks, Mbak.”

Noura bertambah heran. Terlebih ketika Rama membuka bungkus roti itu dengan terus menahan tawa. Aneh, “Ini kamu mau iseng apa…”

“Ssst.” Rama mengerucutkan bibirnya.

Blebeeeuuppp !

Dengan gerakan cepat, Rama menjejalkan roti itu ke mulut Olivia tanpa dipotong terlebih dahulu.

***

Ukhuk !

Bwah, bbrrppzzrrrbbb. Hoek.

Gue membuka mata gue. Anjrit mulut gue disumpel pake roti.

Gue menatap Rama yang sedang berpura-pura tidur. Gue anak baik, gue nggak ngebales perbuatan dia. Toh dia juga ntar dapet hukuman dari Ayah. Hahaha. Liat aja ntar.

Gue mengunyah roti ini sampai habis. Mubazir kan kalau nggak ditelan kembali.

Enak juga
.

***

Huumm. Suasana sore di kota kembang ini lumayan enak juga. Udaranya bersih. Dulu, gue sempet mikir saat perang dingin dirumah gue 2 tahun silam, gue mau hidup di Bandung aja. Kenapa? Gue juga nggak tau. Dan sebuah kota yang terlintas dalam benak gue yang masih seumur kacang itupun hanya Bandung. Kenapa? Nggak taauuuu!

Dan? Kesampaian?

Nggak tuh. Sampai saat ini gue masih di Jakarta dan sepertinya akan ‘stay’ di Jakarta sampai gue lulus SMA. Atau sampai kuliah? Au ah. Kelas sepuluh aja ribetnya udah kaya apaan tau. Waktu dapet angket penjurusan aja gue galau mau milih apaan.

Rencananya, gue dan yang lain akan ‘stay’ d Bandung (jangan lupa gue sekarang lagi di Bandung) sampai akhir liburan. Yaah, paling enggak tiga hari sebelum masuk sekolah pulang ke Jakarta deh. Kasihan juga kan bokap biayain gue disini yang dikit-dikit laper mesti ada makanan gitu kalau tidak gue langsung bakalan demam tinggi.

Eh serius loh. Gue nggak bisa kalau misalnya laper dan nahan laper. Harus langsung makan ! Ntar gue bisa langsung demam dan mual-mual. Ini sakit apaan yak ?


“Oke. Jadi kita mencar yah.” kata gue memulai pembicaraan begitu keluar dari bandara yang ada di Bandung, Husein Sastranegara. Gue tau nama Bandara ini juga pas gue nengok ke orang-orang yang megangin kertas gitu. Wakaka, maap saya tak gahoel.

“Iya gue tau, gue ke kos-kosan gitu kan?” jawab Kak Rama. Hiks. Kasihan juga sih Kak Rama. Gue, Noura, Bang Dion dan Bang Daru nginep di hotel yang ‘kayaknya’ lumayan bagus. Eh dia? Di kost-an. Mana bayar kost-an-nya mesti gajian dulu lagi dari hasil kerja sambilannya nanti. Hahaha. Besok kan Kak Rama mulai kerja, gue isengin ah.
Wohohoow.

Gue ngangguk. Haha, mampus lu kak.


“Noura, aku duluan yah. Kalo udah sampe hotel, sms ya.” ujarnya kalem. Huh, giliran sama pacar aja lembutnyaaa najong sekale.

Noura mengangguk. Tersenyum. Nyengir.

Hoh. Heran, ini pasangan suka banget sama yang namanya nyengir atau emang itu kewajiban serta rutinitas mereka pas ketemu gitu?

Bingung?

Nih, misalnya. Kan kalau orang pacaran ya biasanya senyum aja gitu. Senyum yang bikin dag-dig-dug-duar itu. Nah ini ? NYENGIR -___-

Masih bingung?

Yaudah, nasib.


“Duluan yah semua.” pamitnya sambil menyetop sebuah taksi. Wooh ! Sok kaya lu Kak !
Duit abis aja baru tau rasa lo ! Miskin-miskin dah, ATM lo kan di gue kak sekarang !
HAHAHAHAHA. Ah~ surgaaa. Gue menatap taksi yang membawa Kak Rama pergi sampai menghilang ditelan jalan. Byee, lihat besok , Kak. Gue mau bales dendam.


“Kita berdua gimana?” ujar Bang Dion. Ah, ini bocah…

Ini orang kelas 2 SMA apa gimana sih ya ? Kok bisa bloon gitu? Padahal juga dia pernah diginiin juga sama Tante Rini
.

“Oh, elo, Bang Daru, gue, sama Noura di hotel. tinggal naik bis aja kata Ayah sih. Lo kenal daerah sini kan, Bang?” jelas gue.

“Kagak.” jawabnya dengan tampang bloon. Wuanjrit. Nyante banget bocah. Oke ya Bang Dion, lo itu.. AAAAAA bikin gue stress mulu. Untung ada Bang Daru yang ganteng itu
yah jadi gue jaim deh
.

“Lah?”

“Gue kan kagak kerja sambilan disini.”

“Ah yaudah dah naek taksi aja deh. Pada nggak tau jalan kan?” saran gue. Bukannya
apa, gue juga takut nyasar. Bandung nih, bukan Jakarta. Di Jakarta aja gue masih sering nyasar.


“Yess.” seru Bang Dion sambil nyengir-nyengir najong.

Sialan. Pengen enak aja ini orang.


***

Yoah. Yihi. Youlehiihihoho. Ini hotelnya toooh.

Engg, lumayan bagus sih.

Bukan lumayan lagi !

ANJRIT KEREN BANGET !

Ada sesuatu labirin gitu dan, ah~

Gue akan tinggal disini. Selama seminggu lebih.

Tata letaknya itu bagus. Lokasi strategis. Desain bangunan ‘apik’ banget. Interior designnya juga mantap abis gan!

Lah? Ngapa gue jadi promosi sih?


“Silahkan, Mbak, kamarnya lewat sini.”

Panggilan mbak-mbak itu membuyarkan pandangan gue yang masih mengagumi arsitektur hotel ini. Mungkin ini hotel layak kali yah buat dijadiin hotel khusus buat kunjungan internasional gitu. Jadi pusat pariwisata nggak melulu Bali. Bosen kali aku ini.

Oke, gue mengikuti itu mbak-mbak sesuatu yang nganterin gue sama Noura ke kamar hotel kita. Sedangkan Bang Dion dan Bang Daru diantar oleh petugas hotel yang lain. Yah gue nggak tau namanya apa ya jadi gini, harap maklum saja yah.


“Makasih,” ucap gue sambil memberinya senyuman dan gue langsung membuka pintu hotel kamar gue.

Bruk. Gue langsung melemparkan tubuh gue ke kasur yang berada di sisi kiri, dekat jendela. Kamarnya lumayan luas. Luas banget malah.

Aaah, enak bangeeeet.


“Cuci kaki dulu napa, Liv.” Noura meletakkan kopernya disebelah lemari dekat kasurnya yang terletak di sebelah kamar mandi.

Gue cuma bisa nyengir.


***

“Anjrit, jadi ATM gua bener-bener di Zeva sekarang?”

***

Aaah. Seger banget deh habis mandi. Gue mengibaskan rambut gue dengan brutal.

“Tadi pingsan ya?”

Gue menoleh. Terlihatlah tampang kusut dari kekasih kakak gue yang satu itu. Eh, pacar kakak gue emang cuma sebiji itu sih. Kak Rama kan nggak laku. Eh? Yang nggak laku gue deh. EH ? AU AH ! Zzzzzt.

“Hehehe, udah sono gentian mandinya.”

“Huuu.” Noura langsung menyambar handuknya yang sedaritadi telah ‘nyangsang’ di kepalanya.

Posisi Noura padahal enak loh. Nggak enaknya sih cuma jadi pacarnya Kak Rama doang. Pasti menderita.

Gue melempar handuk gue ke gantungan di sebelum kamar mandi (gue nggak tau namanya).
Oiya ! Walk in closet eh, apaan gitu. Lupa guanya. Coba deh tanyain makanan. Gue pasti inget.

Coba tanya makanan apa aja yang suka lewat depan rumah gue. Cuma denger nadanya doang gua tau. Bener dah.

Oke gue sebutin.

Mulai dari pagi yak. Jam 6, biasanya ada tukang roti lewat. Widih, enak bener itu roti. Trus jam 6 lewat 15san gitu, ada tukang bubur sama bakpao. Kalau bakpao, gue sukanya yang rasa kacang ijo. Ih enak loh. Kalau bubur ayam, gue demennya pake sate usus, sate telor, nggak pake sayuran deh sama kacang-kacangan. Sama bawang goring juga ogah.

Trus pas gue pulang sekolah. Makmur tuh. Jam 4an gitu ada roti lagi lewat, es krim, ketoprak, rujak, bakso, mie ayam, somay.

Malemnya, ada bakso, mie ayam, nasi goreng, bubur ayam. Waah lengkap dah. Hidup bahagia.

Nah di hotel ? Tinggal peseen. Bayar dah. Hahaha. Nah, ketauan kan gue emang belum bisa dipercaya sama bokap ya gara-gara ini nih. Demen makannya keterlaluan.
Huaahm. Oiya ! Buka laptop ah.

Gue nungguin ‘loading’ yang tertera sambil nyariin handphone gue. Dimana yak? Lupa gue.

Naah, ini dia. Nyelip di tas selempang ternyata, haha. Seledor banget ya gue
.

‘Drrrt..sudah malam, ikan bobo..~’

Wahahaha. Ada sms. Iya iya, itu handphone gue nggak di silent. Iya iya, nada smsnya begitu.

From : Bang Daru
Kamar kamu dimana? Main uno yuk

Wahahaha. Boleh tuh boleh.

Eh? Gue nggak tau gue di kamar hotel nomor berapa. Lantai berapa juga nggak tau.
Gue bangun dari posisi gue tadi, duduk lendetan sama kasur sambil mangku laptop. Gue make sandal hotel, lalu menuju pintu kamar.

Niatnya sih mau liat di depan pintu kamar, tapi pandangan gue tertumpu pada kunci yang menggantung di sisi dinding sebelah kiri dekat pintu kamar. Aduh, ribet ya? Iya emang ribet kok.

OH. Gue di lantai 5 toh. Heh? Kamar 551. HOH. Okay.

Gue menatap layar ponsel gue dan mengetik sebuah balasan pesan singkat
.

To : Bang Daru
Lantai 5 nomer 551. Buruan bang, keburu malem. Aku mau tidur hahaha.

Gue kembali ke kasur gue dan mendapati Noura telah selesai mandi dan sedang mengoleskan sesuatu krim ke tangannya. Wuih rajin.

“Wes, mandi cepet bener.”

“Iyalah ngapain juga lama-lama. Engg, pinjem laptop dong.”

“Buat apaan?”

“Minjem aja,”

“Buat apaan?”

Noura terlihat ragu, “Nggak jadi deh.”

“Lho? Ini aku pinjemin. Tapi untuk apa?” ujar gue sambil menyerahkan laptop gue pada Noura. Kasian, dia lugu banget. Eh? Nggak ada hubungannya sih.

“Engg, jangan bilang siapa-siapa ya tapi.”

“Oke.”

“Aku mau browsing. Pengen liat satu web yang isinya jualan-jualan aksesoris gitu.”

“Oh kirain apaan,”

“Iya tapi ini buat Kak Rama,”

“He? Ngapain? Emang dalam rangka apaan?”

“Iih, seminggu lagi kan Kak Rama ulang tahun.”

Gue diem, “Emang? Oiyaya? Minggu depan tanggal 3 Januari ya? Oiyaa lupaa. Kasih kado nggak ya?”

“Kasihlah, kakak kamu itu.”

“Iya sih. Oiya kamu mau ngasih apa?”

“Nggak tauu, aku masih galau.”

“Jiaah, kok galau?”

“Iyahaha. Aku bingung mau ngasih apaan.”

“Udah kebanyakan ngasih hadiah ya? Hahaha.”

“Iya kayaknya. Nggaaak, aduuh bingung ini aku kasih apaan ya.”

“Menurut aku nih ya, Kak Rama bakalan suka dan selalu menjaga apa yang kamu kasih. Apapun itu, meskipun itu sebuah pulpen yang tintanya habis sekalipun.”

“Woow.”

“Kenapa?”

“Bingung jadinya,”


‘drrt..sudah malaam, ikan boboo’


“Heh? Itu apaan? Bunyi apaan? Ada anak kecil? Dimana?”

Gue memasang tampang beler, “Bukan Noura, ini bunyi sms dari hape aku, bentar yah bales sms dulu,”


From : Bang Daru
Yah kalo kamu ngantuk ya ga usah deh gapapa. Aku jg tidur duluan. Dion juga barusan aku liat udh molor gitu. Yaudah besok aja kita habis olahraga pagi ya main unonya.


Weee Bang Daru emang paling top begete dah. Udah cakep, ganteng, eh sama aja deng. Pinter juga, tinggi. Walaupun nggak putih tetep punya aura yang ‘wow’. Kenapa waktu itu diputusin sama Dara yah? Heum. Gue emang nggak ngerti yang macam itu dah.

Gue noleh ke sebelah gue. Het, si Noura malah udah tenggelam dalam laptop gue. Yaudah.

Gue beranjak ke koper gue. Ngambil sebuah novel komedi. Novel yang kayak parodinya novel aslinya itulah pokoknya.

Bukunya gue taruh di meja kecil yang menjadi pembatas antara kasur gue dan kasur Noura. Dan gue beranjak ke sebuah sudut kamar yang ada tekonya. Gue menyeduh kopi dan mulai menyesap aromanya. Ini kopisusu. Gue suka. Tapi kalau kopi doang tanpa gula? Itu sih senengannya nyokap gue. Ibuuu, aku kangen sama Ibu deh jadinya.

Huaa. Mendadak gue jadi agak homesick eh tau deh namanya apaan. Yang jelas, gue kangen suasana rumah gue yang dulu deh. Nasib anak broken home emang bener-bener nggak asik. Iyalah siapa juga yang bilang asik.

Selesai menyeduh kopi, gue langsung kembali ke tempat tidur. Baca novel sampai ketiduran seperti biasanya
.

***

Krik..krik..krik...
Garing yah? Jayus? Maaaaap :(
Janji deh part 4 cepet dilanjut nggak kayak part ini. udah lama, mengecewakan lagi.
Di part 4 juga bakal gue kasih denah cafenya.
As usual, comment please :D

Kamis, 03 Februari 2011

What If - Cerpen

What If

***

Seberapapun kita bersama, kau mungkin tak akan pernah tau satu hal.

Aku sungguh menyayangimu, sahabatku
.

***

Bruk. Aduh, ada yang menimpaku dari belakang dengan peluk. Siapa nih?

“Huaaaaaa, gue kangen sama Gabriel banget banget bangeeeet.”

Aku melirik ke belakang. Ah, dia.

“Mulai deh, lo.”

“Gue kangen Gabrieeeel.”

“Yaudahlah bilang aja sana sama dia, jangan ke gue gitu dong.”

“Kenapa sih? Lo nggak suka kalo aku cerita tentang Gabriel apa?”

“Nggak ah, gue mah biasa aja. Lo tuh yang lebay banget kalo cerita tentang Gabriel.
Siapa diaa coba?” ucapku sinis. Tidakkah dia mengerti? Yah, dia memang terlalu polos.

“Iyaya, dia siapa gue coba? Gue siapa dia? Hahahaha. Vin, lo tau kan?” ucapnya sambil
tersenyum masam.

“Apa?”

“Mau curhat, bodoh.”

Aku mengangguk.

“Gabriel?”

Wajahnya terlihat bingung. Ah, apakah dia belum tau yang kumaksudkan? Haruskah aku
beritau dia sekarang? Aku tidak tega bila harus membuatnya bersedih sekarang. Tapi, aku takut jika lukanya harus bertambah lagi saat ini. Apalagi, baru saja dia tertawa begitu lepas. Tawa lepas yang pahit. Aku tau dia sakit.

“Café yuk, Shill.” ajakku. Biasanya, jika Shilla sedang butuh tempat cerita atau aku sedang mengalami stress akan masalah orangtuaku, kami selalu ‘ngafe’.

“Yuk, traktir yah.”

“Huu, nggak modal.”

“Bodooo.” Ucapnya sambil menggelitiki leher dan pinggangku. Aku hanya tertawa saja
sambil meringis kegelian.

“Gantian aku gelitikin nih.”

Matanya membulat, “Enak aja, enak di kamu nggak enak di aku, Vin.”

***

Ya. Aku Alvin. Dimana aku adalah pribadi yang sulit. Sulit dalam banyak hal. Dalam pelajaran misalnya, aku sulit sekali memahami jika otakku enggan untuk berpikir. Tetapi jika aku mulai mengatakan, “Gila mtk susah banget,” teman-teman akan langsung menjitakiku sambil mengelitiki leherku. Tidakkah mereka paham bahwa aku kegelian? Dramatis abis.

Baiklah, sekali ini aku jujur. Aku memang suka pada Shilla. Yang awalnya aku kira, itu akan berlalu layaknya angin saja yang hanya mengisi hatiku sebentar saja.
Biasanya juga aku hanya suka, nembak, pacaran, putus. Selesai. Dan dengan mudah aku melupakannya. Namun dia? Awalnya aku biarkan karena kupikir itu hal biasa yang mungkin hanya sekedar kagum pada sahabat sendiri, yah secara, dia hampir sempurna dan aku melihatnya dengan sudut pandangku yang sering dia bilang bahwa aku ini ‘playboy’. Namun rasa itu makin lama tumbuh makin kuat dan akhirnya ‘sulit’ bagiku untuk melupakannya.

Mungkin aku memang salah.

Aku salah telah menyukai Shilla. Yang selalu hari-hari dan otaknya diisi dengan Gabriel, Gabriel, dan lebih banyak Gabriel.

Aku bahkan tau. Ia juga telah berkali-kali menyatakan bahwa ia menyukai Gabriel pada Gabriel sewaktu awal dia menyadari bahwa ia suka pada Gabriel. Tapi apa? Gabriel tidak pernah memberinya jawaban apapun.

Hingga sampai saat ini, hampir tahun ke 4 ia menyukai Gabriel. Ia masih belum dapat berpindah hati. Bahkan mungkin tak terlintas sama sekali dalam benaknya untuk melupakan si “the one” nya itu.

Aku sendiri? Ah, jangan tanya. Sejak aku benar-benar menyadari bahwa aku memang telah menyukainya di tahun pertama kita saling mengenal, aku telah mencoba untuk menyatakan cintaku padanya. Asiiik, kalimatku. Namun yaah, dia mungkin sesifat dengan Gabriel.
Dia hanya menanggapi dengan , “Iya? Waah kok bisa sih? Eh by the way makasih yah.
Nggak nyangka deh aku bisa disukain sama orang.” Ia mengucapkan demikian sambil menyeringaikan gigi putihnya yang begitu rapi. Aku sendiri hanya menanggapinya dengan senyum tanpa mengajukan pertanyaan lagi. Karena aku tau, begitu besarnya perasaan Shilla pada Gabriel. Aku mengerti ia. Hingga kini aku dan dia sama-sama telah sepakat melupakan kejadian itu. Yang menurutku, tidak perlu kami berdua ungkit lagi karena itu hanya membuatku salah tingkah.

Ini tahun ke 3 aku menyukainya. Entah sampai kapan. Biarlah waktu yang menjawabnya. Hanya waktu. Waktu. Waktu. Waktu. Waktu. Dan lebih banyak waktu yang aku perlukan untuk siap melupakannya dan terus mengingatnya bahwa ia tak mencintaiku sedikitpun dan ia adalah sahabatku.

Dan aku harus tau, mungkin memang tak ada jalan lain, selain terus move on darinya
dan terus menjaganya hingga ada tangan lain yang bersedia menopangnya.

Bukan aku lagi.

Bukan aku.

Namun aku selalu berharap, itu aku.

***

“Huaaa, Vin, kamu harus tau ini.”

Sesampainya di café dan ketika aku selesai memesan makanan yang aku inginkan dan yang ia inginkan, tanpa ba-bi-bu lagi ia langsung mengutarakan yang ia ingin ceritakan. Gabriel lagikah?

“Apa?”

“Aku punya 2 kabar. ada yang baik banget, ada kabar yang buruuuuuuk banget,”

Aku mengerutkan keningku, “Apaan?”

Shilla mengerlingkan sudut matanya, “Tergantung,”

“Kebiasaan deh, kalo ngomong suka ngegantung. ntar kalo gue gantung baru tau rasa
lo,”

Shilla menyeringai cerdik, “Kabar baik apa buruk duluan?”

“Bacot kau, kabar buruk dulu aja lah.”

“Kabar buruknya, enggg, gue tau kalo Gabriel suka sama Ify..”

“Lo udah pernah bilang, Shill.”

“Eeh, jangan dipotong dulu, ah.”

“Hmm.”

“Mereka jadian.”

Aku membelalak, bagaimana Shilla dapat mengetahui ini semua begitu cepat? Rasanya, baru kemarin Gabriel bilang padaku, bahwa dia memang benar-benar menyukai Ify. Dan aku hanya menghela nafas kecewa-juga lega-saat mendengar itu semua. Ah, entah seperti apa perasaan Shilla.

“Trus?”

“Yaah, begitulah.”

“Lo nggak sakit hati gitu?”

“Nggak.”

“He?”

“Ya sakit hati lah! Pake nanya lagi.”

“Trus lo mau gimana lagi setelah ini?”

“Yaah, gue juga udah lama tau kalo Gabriel suka sama Ify. Yaudahlah, biarin aja.”

“Move on?”

“Ogah, dah. Kayanya gue udah bilang berkali-kali deh sejak Gabriel pacaran pertama kali, Vin.”

“Hah? Gila lo, lo mau jadi orang ketiga gitu diantara mereka?”

“Ya nggaklah, gue juga nggak seegois itu kali, Vin. Gue juga ngerti, kalo gue ada di posisi Ify sekarang, gue juga…”

“Apa?”

“Au dah. lo nggak nanyain kabar baiknya nih?”

“Oke, oke. Kabar baiknya apa?”

“Gue dapet beasiswa kuliah di Sorbonne. Gue berhasil ! Yes !”

“Sorbonne? Paris?”

“Yap.”

“Prapatan ciamis? Hahahahaha.”

“Serius, Vin.”

“Iya, gue tau. Congrats, yah.”

“Kenapa? Lo nggak seneng?”

“Mau jawaban jujur atau bohong?”

“Jujur, doong.”

“Gue nggak begitu suka. Apalagi lo pernah bilang kalau lo, mau lupain Gabriel dengan cara ini juga. Gue nggak suka sama cara lo, Shill.”

“Lupain? Bukan woy ! Yaudah sih, ini hidup gue, lo nggak berhak ikut campur. Denger yah, disini, lo cuma sahabat gue. Bukan siapa-siapa gue.”

“Kok ngamuk sih? Yaudah, lo kapan berangkat?”

“Secepat yang gue bisa. Gue nggak akan kuat kalo liat Gabriel yang selama ini single dan gue suka, mendadak berduaan gitu sama Ify yang.. Ah, au ah.”

“Denger, ini hidup lo. Hidup lo, yaah masih panjang lah, tapi ya gue nggak tau juga kalo tiba-tiba lo mati gitu ya..”

“Asal banget lo kalo ngomong,”

“Biarin, hahaha. Udahlah, gue mau ngurus kucing gue.”

“Kucing? Lo aja alergi kucing kan.”

“Oiya mau ngurus rumah, berantakan.”

“Woo, alasan nggak mutuu.”

“Bodo. Udah, gue yang bayar.”

“Lah emang kan?”

“Iye, daah pulang dulu yee.”

“Bye, Viin !”

“Bye, Shill !” teriakku lagi. lantang. “Bye, maybe you never be mine..”

***

Aku membuka mataku ketika merasakan getaran serta nada yang mengalun dari ponselku pagi ini.

From : Shilla
Jangan lupa anter gue ke bandara yaah


Haha. Yaiyalah. Mana mungkin gitu gue lupa. Secara, gue sayang banget gitu sama Shilla.


***

Sudah 2 tahun sejak kepergian Shilla.

Aku merebahkan punggungku di kasurku yang tak lagi terasa empuk. Ah, mungkin aku tidak dapat move on dari Shilla. Buktinya? Tanpa Shilla ketahui, akupun juga mengikuti beasiswa ke Sorbonne gelombang ke dua. Tanpa tujuan, sebenarnya. Aku hanya ingin lebih lama menemani Shilla disana. Walaupun, sampai saat ini aku tak tau bagaimana caranya agar aku mendapat uang lebih untuk hidup disana. Tapi untuknya? Ah, aku akan coba.

Aku membuka laptopku, mencoba membuka jaringan internet. Hari ini aku sedang mencari informasi lebih lanjut mengenai lokasi tepatnya dimana universitas yang pernah menjadi tempat belajar orang-orang hebat itu berada.




Aku sendiri, tidak pernah ada niatan untuk bersekolah di luar negeri.

Lalu ini?

Hanya demi dia.

Shilla, sahabatku.

***

Aku Shilla. Aku menapaki jalan di tepi trotoar Universitas Sorbonne, Paris. Memang bukan universitas impianku. Tapi apa boleh buat? Pikiranku buntu saat itu. Masa silam yang aku tahu, hanya menyesakkan dada saja jika mengingatnya.




Aku yang memang tidak mengerti soal ‘pacaran’ atau apalah. Aku punya sahabat yang bernama Alvin. Dia agak playboy, menurutku. Tapi dia cukup romantislah. Prinsipnya? Mati satu, tumbuh semilyaaar. Wah, hiperbolis sekali ya. Tapi iya lho. Kenyataannya, pesona Alvin memang nggak tergantikan banget. Sosoknya sebagai seorang sahabat yang pernah mengutarakan perasaannya padaku, memang nggak akan pernah bisa tergantikan oleh sosok manapun. Gabriel sekalipun.

Tak satupun perempuan yang ia ‘tembak’ menolaknya. Kecuali aku, mungkin.

Aku memang tidak berhasil mengupayakan Gabriel sebagai pasanganku. Aku tidak begitu rela ketika ia bersama yang lain untuk kesekian kalinya. Namun apa daya, hanya pasrah yang aku bisa.

Semua kini hanya penyesalan. Hanya penyesalan yang tiada pernah berakhir.

Namun ini tentang Alvin.

Seberapapun aku mencari, ia kini memang hilang. Aku tidak pernah tau dimana ia. Bahkan saat ini ia tidak sadar. Ia tidak menghirup lagi apa yang aku hirup. Aku tidak pernah menyangka, sebesar inikah rasanya untukku? Tidakkah ia sadar bahwa aku, aku hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat. Titik. Tidak lebih dari itu. aku hanya.. hanya..

Aku memang menyayangi Alvin. Karena ia memang sahabat terbaik yang sejauh ini aku miliki. Akupun tidak sepolos yang Alvin kira. Sebenarnya, aku juga paham. Bahkan aku terlalu paham hingga aku memutuskan untuk melupakan kejadian ‘nembak’ darinya kala itu.

Aku, tidak pernah sedikitpun dalam benakku untuk melupakan Gabriel. Entah berapa besar keyakinan yang ada pada diriku hingga dengan begitu beraninya aku melangkah sedemikian jauh hanya untuk menunggu, menunggu, serta lebih banyak tungguan dariku untuk Gabriel.

Gabriel sudah punya Ify. Mereka serasi.

Aku tau itu, bahkan aku juga turut bahagia ketika itu. Turut bahagia, ketika melihat Gabriel bertambah ceria dan.. ah, aku tak sanggup melanjutkannya.

Aku melangkah sejauh ini, aku pun tidak tau untuk apa.

Langkah kaki menuntunku ke sebuah café di sudut kota Paris. Café kopi yang telah
setia kukunjungi karena sebuah rasa yang selalu menyesakkan namun menghangatkan.

Ini tentang Alvin.

Waktu itu, aku mendengar kabar darinya, bahwa setidaknya seminggu lagi ia akan kesini, ke Paris. Aku kira, ia hanya bercanda. Sedetik kemudian aku tersadar bahwa ia tidak bercanda. Ini serius.

Alvin sedang berada di Singapore saat itu. Ia sedang mengurus beasiswanya ke Sorbonne.

Aku harus apa?

Aku harus berbuat apa ketika mendengar bahwa pesawat tujuan Paris dari Singapore mengalami kecelakaan penerbangan ketika melintasi laut?

Menangis? Yah, aku sudah melakukannya. aku sudah benar-benar melakukannya. Aku menangis berhari-hari hingga aku tak tau harus berbuat apa hingga kini.

Aku tanya, jika kalian jadi aku, kalian akan berbuat apa?

Air mata mungkin dapat menetes terus-menerus dan dapat ku usap setiap kali alirannya melintasi sudut wajahku.

Namun kepergiannya?

Aku tidak dapat menolak kuasa Tuhan. Aku tidak dapat mengusap kejadian itu dan mengulang semuanya dari awal.

Aku tidak dapat mengalirkan air mata, sama dengan mengalirkan badannya yang mungkin terhuyung di laut yang terbentang luas. Sangat luas. Amat sangat luas.

Aku melihat keluar jendela, melihat berbagai gedung yang berdesain indah menjulang dengan angkuhnya di depan mataku. Bangunan kuno dan elit berpacu dengan laju indahnya. Pedih, sayang sekali Alvin tidak sempat melihat pemandangan yang lumayan memiriskan hati, untukku.

Disini, dimana aku mencoba mengalihkan hidupku dari mata Gabriel tanpa mencoba move on darinya.

Disini, dimana Alvin 'ingin' menemaniku dalam masa gelapku maupun terangku.

Aku menyesap aroma kopi hitamku. Aku sendiri tidak tau mengapa kini aku begitu menikmati aroma kopi hitam. Tanpa susu. Entah mengapa aku begitu menikmati aroma ini. Aku terus menyesap aroma sembari menutup mataku perlahan. Mencoba membaui kembali aroma Alvin yang selalu menyebarkan sensasi kopi.

Salahkah aku jika aku berharap ia masih hidup?

Salah. Ya, aku tau.

Orang yang sudah pergi memang tak mungkin kembali.

***

Hari demi hari berlalu dan kulalui di kota yang asing bagiku, bertambah asing ketika
awal aku mendengar kabar menyesakkan dan membuatku jadi tak lulus-lulus dari universitas ini. Hanya perasaanku saja, sih. Sebenarnya aku masih dalam taraf normal bahkan aku mungkin terlampau cepat. Bukannya aku bodoh.

Untuk menyelesaikan kuliahku, kini aku larut dalam balutan tugas essay yang memuakkan. Kata Alvin, aku ini pintar. Hanya saja, aku ini malas dan kurang teliti serta kurang konsentrasi. Namun sekarang? Rasanya, untuk mengikuti kelas saja aku malas. tak ada lagi yang menjadi penyaingku dalam bidang ini.

Matematika.

***

Hampir pingsan rasanya aku melihat layar televisi yang tertera di tempatku bersekolah saat ini.

AKU LULUS.

Yah, aku lulus…

***

Tetesan air mata mengalir begitu saja ketika aku, sampai di Indonesia.

Aku menatap gundukan tanah itu dengan miris. Andai saja, saat itu aku tidak memutuskan untuk pergi ke Prancis. Andai saja, saat itu aku lebih kuat dan tidak sembarangan memilih pilihan. Andai saja, saat itu aku lebih mendengarkannya. Andai saja, hatiku lebih kuat untuk memulai kembali asmara untuk yang lain, bukan Gabriel. Bahkan sampai saat ini, aku masih menunggu Gabriel. Kalau aku tak salah hitung, sudah 8 tahun aku menunggu.

Terlalu banyak ‘andai saja’ yang keluar dari bibirku saat ini.

Tetap ini yang aku sesali, dari dulu sampai sekarang,


‘andai saja, aku bisa menyayangi Alvin, sama dengan kasih sayangku untuk Gabriel. bahkan lebih…’


***

Tempat ini memang penuh memori, banyak kenangan dimana aku dan kamu, sebagai sahabat, berbagi kisah bersama. Dan tanpa kau sadar, kau membagi kasih…

***

Makasih, buat waktumu.

Terlalu banyak ucapan terima kasihku buatmu.

Aku hanya menyesal ketika aku mendapati diriku sendiri merasa kehilanganmu ketika aku mulai rindu dengan kehadiranmu yang biasanya aku tak hiraukan.

Ingat sebuah pertanyaan bodoh yang ku ucapkan padamu kala itu?

“Mengapa sebuah sesal harus datang terlambat?” tanyaku bodoh.

“Karena kalau datang di awal, bukan sesal namanya.”

“Lalu apa?”

“Itu namanya antisipasi…” jawabmu dengan asal.

“Bukanlah. Ngarang aja, lo.”

“Biarin, ngarang-ngarang gini juga bisa bikin lo sedikit senyum kan? Senyum dong.”

Aku teringat masa itu. Jadi aku tersenyum saat ini. Namun jangan harap senyum ini tulus atau apalah.

Senyum ini hanya untuk meratapi hidupku yang hampa. Tanpa Gabriel, tanpamu juga, Alvin. Aku juga mencoba memulai semuanya dari awal. Aku tidak mencoba mencari sahabat baru, tidak terlintas buatku untuk melakukan itu…

Aku masih ingat segala tentangmu, Vin.

Kau yang suka kopi tanpa gula. Suka memakai parfum kopi. Suka mengutak-atik matematika sampai aku gemes sendiri melihat tingkahmu yang seperti itu dan mulai mengikuti jejakmu untuk menelusuri matematika. Sampai saat ini aku menjadi lihai dalam matematika.

Namun satu yang tak bisa dan mungkin tak akan pernah bisa untuk aku mulai dari awal
lagi,

Aku masih menunggu Gabriel, Vin.

Shilla.
20.20 WIB. Bulletin Café, Jakarta, 2006.




Aku menatap lembaran ini dengan bingung, kapan aku pernah berfikir seperti ini?

Aku sadar betul, ini memang tulisanku. Aku memang pelupa sih orangnya.

Ah yaa, aku ingat. Ini sudah tahun keberapa sejak aku membongkar ‘time capsule’ ku yang kupendam di sebuah ruang kecil dibalik rumahku dulu. Namun itu hanya masa lalu yang kelam, masa dimana semua terpuruk sia-sia percuma.

Namun kan saat ini aku telah berkeluarga. Sudah 5 tahun malah. Bagaimana bisa lembaran suram ini ada dikamarku saat ini?

“Shill, ayo berangkat. Kasian itu bocah pada nungguin di mobil…”

“Iya, Gab…”

***

Aku tersenyum bahagia. Seakan moment bahagia ini baru sekali dalam hidupku. Senyumku terus mengembang seiring berjalannya waktu. Aku begitu menikmati apa yang aku lalui saat ini.

Lihat kan?

Aku mendapatkan semuanya,

Gabriel serta kebahagiaan lainnya

kecuali,

Alvin, sahabatku.

***

Krik...
Yap, ini cuma selingan aja kok buat menghibur diri sendiri~
Ini stress gara-gara belajar mtk yaah jadi begini *soalnya besok Try Out Mtk*
Seperti biasa, komentar, kritik, saran :D
Ini karakter paling bodoh tapi bernasib 'lumayan' baik ya?