Selasa, 07 September 2010

Aku Bisa

Aku Bisa

Di duakan
Enak nggak sih ?
Sakit hati nggak kira – kira ?
Eh tapi kalau di duakannya karena ada sebab tertentu ?
Lain cerita kali ya
Rela nggak buat ngelepasin ‘dia’ buat orang lain ?
Hm, buat kekasihnya yang baru ?
Rela nggak ? Ikhlas ?
Akan butuh berapa lama untuk melepasnya ?
Pasti sulit


***

Bulan memancarkan sinar terang malamnya. Telah menjadi tugasnya untuk menerangi dunia yang kelam ini. Ditemani oleh teman setianya, selalu bersama menyinari sang alam. Bintang. Setia menemani bulan tanpa kenal lelah. Walau cahayanya tak bisa menyamai bulan, dengan mengerahkan segala kekuatannya bintang ikut menerangi bumi. Dan tak sedikit yang menyukai kehadiran mereka di langit.

Restoran yang cukup ternama itu sebagian besar di penuhi oleh beberapa pasang insan yang meluangkan waktu malamnya untuk sekedar melepas rindu mereka. Saling bertukar cerita.

Begitu pula yang dirasakan kedua sejoli ini. Cukup lama rasanya mereka tidak makan malam di restoran seperti ini. Semua itu bermula dari kelulusan mereka dari sebuah SMA yang cukup terkenal di kota kecil namun ramai penduduknya itu. Universitas yang berbeda membuat jarak kecil di antara mereka.

5 tahun menjalani hubungan asmara itu tidak mampu menghilangkan rasa canggung saat mereka bertemu. Diam. Itulah yang mereka biasa lakukan jika bertemu. Namun tak berlangsung lama.

“Shill, gimana kuliah kamu ?” tanya lelaki berparas tampan itu sambil menyeruput minumannya. Kulitnya putih, matanya agak sipit. Pembawaannya gagah.

“Biasa aja kok. Kenapa kok tiba-tiba nanyain kuliah aku ?” jawab Shilla. Heran karena Alvin-kekasihnya menanyakan tentang kuliahnya. Dulu, semasa SMA, boro-boro menanyakan tentang sekolah, membahas nama pelajaranpun tidak pernah.


“Ya aku pengen tau aja, nggak boleh ?”

Shilla tersenyum, “Bolehlah, kuliah kamu juga gimana ?”

Alvin memutar bola matanya, “Masih jalan ditempat, hehe, habis siapa suruh kalo ujian soalnya bikin pusing”

“Bukan soal-nya Vin yang bikin pusing, kamu-nya aja yang nggak pernah belajar”

Alvin menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, “Yaaa habis mau gimana lagi”

“Kamu mau semester ini nggak lulus ?”

“Yee, ya nggak lah ! Kamu mah doa’in nya yang kayak gitu, pacar sendiri juga”

“Hahaha, habis kamu belaga sih, sukanya desain grafis tapi kuliahnya malah milih
jurusan kedokteran”

“Disuruh sama mama, lagian aku juga mau nyobain sih”

“Jalanin aja Vin, udah masuk semester akhir kan ? Bentar lagi ujian, kamu belajar yang serius”

“Iiih, sok nasehatin deh” Alvin mencubit pipi Shilla dengan gemas.” Iya aku tau kok, pasti aku akan belajar” Alvin memberi senyumnya, mendekatkan wajahnya, “Buat kamu”.

Shilla refleks menjauhkan wajahnya, “Iiih apa sih, buat kamu lah. Masa buat aku sih”

“Hahaha, cuma bercanda kok Shill” Alvin tertawa, diliriknya Shilla yang cemberut karenanya.

“Bercanda doang Shill, nggak usah cemberut gitu napa” ujar Alvin

“Nggak lucu tau bercandanya”

“Iya iya, kalo nilai ujianku bagus, kamu mau ngasih apa?” tanya Alvin sambil
menopangkan dagu pada tangannya.

Shilla mengerutkan keningnya, “Engg, apa ya ?”

Alvin menjentikkan jarinya, “Lukis aku”

“Yaaah, itu sih udah banyak Vin. Basi ah”

“Yee, bukan sekedar sketsa asal Shill, bukan yang biasa kamu kasih ke aku”

“Trus ? Apaan ? Yang gimana ?”

“Yang menimbulkan kesan dalam Shill, yang nggak mungkin aku dan kamu lupain”

“Ooh, jadi lukisan aku selama ini nggak meninggalkan kesan nih buat kamu ?”

“Bukan, bukan gitu”

“Trus gimana ? Kalo lukisannya udah jadi kan…”

“Ada-in pameran Shill, pameran lukisan. Biar karya kamu itu bisa dinikmati orang
banyak”

“Pameran lukisan ? Hahaha, kamu pikir gampang bikin pameran ?”

“Gampang aja, tinggal kumpulin karya lukis kamu, trus cari sponsor deh”

“Itu sih dipikiranmu aja Vin gampang, tapi, boleh deh, kapan-kapan ya”

Alvin tersenyum, “Pintaaar, nah, sekarang makan dong makanannya, kasihan, udah dimasak trus udah ditata secantik ini nggak dimakan sama kamu”

“Iya, aku makan”

“Bagus, makan yang banyak ya, aku nggak mau liat pacar aku kurus”

Shilla hendak menyuapkan makanannya, “Kamu maunya aku gendut ?”

“Bukan ! Wah wah nggak lah, kalo kamu makan kan jadi sehat, kalo sehat jadi tambah
cantik”

“Teori darimana tuh ?”

“Dari dokter”

“Dokter mana ? Ngaco tuh dokternya”

“Dokter Alvin laaah, siapa lagi coba ? Hehehe” Alvin menyeringai lebar, nyengir.

“Kamu tuh ya, isengnya, jahilnya, jayusnya, nggak ilang-ilang sampe udah mau jadi calon dokter gini” Shilla menggeleng-gelengkan kepalanya, nggak habis fikir dengan
tingkah Alvin.

“Tapi suka kan ?”

Shilla tersenyum , mengedikkan bahunya sambil menyendokkan steak itu ke mulutnya.

“Kalo jawabannya begitu, berarti iya”

“Ih ? Aku nggak bilang iya lho yaa”

Alvin menyeruput jus jambunya, “Aku maunya iya”

Shilla tersenyum, ‘sikap itulah yang membuat aku nyaman dan sayang sama kamu Vin..’ batinnya.

***

Nuansa hijau menyelimuti setiap sudut kamarnya. Nampaknya pemilik kamar itu menyukai warna itu. Di dinding kamarnya, bergantungan fotonya dari ia masih kecil, sampai saat ini.

Perempuan itu tersenyum ketika menemukan sebuah sketch book bercover foto sepasang kekasih yang duduk saling bersandaran dan ditangan mereka menggenggam sebuah eskrim coklat. Perlahan, ia membuka lembaran sketch book itu, di setiap gambar, di halaman bawahnya terdapat keterangan tentangnya.

Shilla membuka lembar pertama, disana terdapat sketsa lukisan anak laki-laki yang sedang ujian. Rautnya menunjukkan tampang lelah dan putus asa.

Shilla tersenyum melihatnya, menatap halaman bawahnyanya. Kembali tersenyum melihat deretan tulisannya semasa SMA dulu.

Lihat deh cowok ini, keren yah ?
Namanya Alvin. Dia sekelas sama aku
Lihat deh tampangnya pas ulangan, lucu ya
Kelihatannya dia semalam nggak belajar deh
Aku nggak nyangka bisa sekelas sama dia
Bersyukur banget deh aku bisa sekelas sama dia


Tulisan Shilla yang ini, ditulis saat ulangan harian biologinya yang pertama di kelas sepuluh. Shilla yang suka pelajaran biologi, selesai paling pertama , sedangkan Alvin tertinggal sendirian karena belum selesai mengerjakan soal.

Sewaktu Masa Orientasi Siswa, Shilla melihat cowok ini makan dikantin dengan sahabatnya yang juga mengikuti MOS di SMA itu.

Sahabatnya yang melihat Shilla sedang melihat ke arahnya, mengenalkan Alvin pada Shilla. Alvin mengulurkan tangannya, Shilla yang melihat itu langsung menyambutnya dengan gembira.

Shilla kembali membuka lembar selanjutnya. Gambar Alvin sedang bermain gitar di kelas. Dilihatnya kembali halaman bawahnya.

Ini Alvin, dia lagi main gitar
Mau deh suatu saat dia mainin gitarnya dihadapanku
Melantunkan lagu yang dipersembahkan buat aku
Aaa >.< sepertinya aku terlalu berharap lebih sama dia


Shilla tertawa kecil, mulai membalik halaman selanjutnya.
Gambar Alvin sedang memakai kemeja sekolahnya di depan rumah Shilla. Shilla tersenyum melihatnya.

Pulang sekolah dia main kerumahku
Aku kira dia minta di ajarin suatu pelajaran sama aku seperti biasanya, tapi anehnya besok kan libur
Eh tapi dia bawa gitar, bukan bawa buku pelajaran
Dia menyatakan cintanya, memintaku untuk jadi pacarnya
Jelas saja aku langsung terima, bahagianya hari ini
Aku jadi agak canggung sama dia
Tapi dia tiba-tiba mainin gitar nya, melantunkan sebuah lagu cinta buatku
Nggak nyangka, dia yang iseng bisa romantis…


Shilla kembali tersenyum mengingat masa itu. Masa yang indah. Ketika akan membalik ke lembar selanjutnya, sebuah pesan singkat masuk ke telefon genggamnya.
Shilla menutup sketch booknya, menaruhnya kembali ke dalam laci dan melihat handphone-nya.

From : Patton
Shilla, ke rumah sakit deket kampus Alvin deh sekarang
Lo akan tau sesuatu, cepetan buruan dateng
Oya, gue ada di depan ruang tunggu di lantai satu deket apotik


Shilla mengerutkan keningnya, ‘ada apa sih ?’ batinnya

To : Patton
Kenapa sih ?
Yaudah gue kesana sekarang
Tunggu ya


Shilla langsung bergegas menuju rumah sakit yang dimaksud.

Agak kaget juga ia menerima sms semacam itu dari sahabatnya, Patton. Terakhir ia mendapat sms seperti itu sewaktu Alvin kecelakaan motor 3 tahun lalu.

Dengan hati yang berdebar-debar Shilla menuju ke rumah sakit. Berdoa semoga keadaan

Alvin baik-baik saja. Tanpa kurang suatu apapun.

***

Ruang tunggu lantai satu itu lengang manusia. Sepi.

Shilla tergopoh-gopoh menuju ke ruang tunggu. Dengan nafas yang masih tersengal.

Melihat Patton yang tengah bersandar di dekat pintu sebuah ruangan, Shilla langsung menghampiri.

“Patt, kenapa ?” tanya Shilla

“Tenang Shill, nafas dulu”

“Iya, kenapa sih ?”

Patton menunjuk kaca di sebelahnya, “Liat aja”

Shilla bingung, namun segera mengintip lewat kaca pintu.

Shilla mengerutkan kening, mencoba mengingat wajah perempuan yang dilihatnya itu.
Perempuan yang bersama Alvin sekarang.

“Lo tau Shill, siapa cewek yang di dalem itu ?” tanya Patton.

Shilla menggeleng, “Nggak tau Patt, saudaranya kali “

“Mungkin ya” jawab Patton bingung, aneh dengan apa yang ia lihat.

“Permisi dek, saya mau ngecek keadaan pasien” ujar suster yang tiba-tiba datang.

Patton mendapat akal, “Suster yang nanganin pasien di dalam ?” tanyanya

Suster itu mengangguk, “Iya, ada apa ya ?”

“Cowok itu siapanya ?” tanya Patton sambil melirik ke kaca

“Ooh, Alvin maksudnya ? Yang saya tau sih itu pacarnya, udah beberapa bulan ini dia
dateng kesini buat nemenin dia untuk kemoterapi. Kalo nggak ada cowok itu, pasien nggak mau makan, nggak mau minum obat. Susahlah pokoknya, untung aja pacarnya perhatian yaa”

JDAR !!

Hatinya bagai tersambar petir mendengar apa yang sedang tertangkap pendengarannya.

“Serius ?” tanya Shilla ragu

“Iya, ada apa ya ? oiya, kalian mau masuk ?” tanya suster itu sambil memegang handle pintu

“Oh, nggak usah sus, kita pulang aja. Yuk Patt, makasih sus” ujar Shilla sambil meraih tangan Patton dan menariknya keluar.

“Mari sus” Patton menganggukkan kepalanya.

***

“Nih minum” Patton memberikan sebotol teh dingin pada Shilla

Shilla mengangkat wajahnya, “Makasih ya”

“Engg, sorry ya Shill, gue cuma mau ngasih tau itu”

“Iya nggakpapa kok, justru gue berterima kasih banget sama lo , Patt”

“Eh beneran deh Shill, gue nggak ada maksud apa-apa”

“Iya Patt, gue percaya, lo kan sahabat gue dari kecil, oiya, sejak kapan lo liat
mereka..”

“Seminggu lalu sih, mereka lagi jalan berdua di deket klenteng”

Shilla diam. Nggak. Nggak. Mimpi doang kali nih. Shilla mencubit lengannya pelan. ‘sakit’ batinnya.

“Eh sorry Shill, gue Cuma curiga aja, jadi gue kasih tau lo. Awas aja nih Alvin, gue nggak terima”

“Udah Patt, nggak usah. Gue bisa selesai-in sendiri kok”

“Bener ?”

Shilla mengangguk dan tersenyum

‘apa boleh buat ? kalo Shilla udah begitu, gue cuma bisa berharap yang terbaik buat dia’ batin Patton.

***

Masih dengan handphone yang ia genggam kuat-kuat. Shilla menahan batinnya supaya tidak meledak-ledak. Marah ? iya. Tapi nggak bisa.

“Yaah, kamu nggak bisa nemenin aku ya sore ini ? yaudah deh nggakpapa, iya, bye” Shilla menutup telfonnya dengan hembusan nafas pasrah.

Saat ini Shilla sedang bersembunyi dibalik gedung rumah sakit, menelfon Alvin.
Memandang Alvin dengan perih. Teringat masa-masa indahnya dengan Alvin dulu.

Sejak engkau mendua
Entah apa yang kurasakan


Seandainya Alvin bisa jujur dari awal, mungkin dia nggak akan se perih ini. Kosong. Hampa. Itulah yang dirasakan hati Shilla saat ini.

Memandang perih
Menyimpan luka


Saat-saat yang seharusnya ia lewati bersama Alvin, hilang begitu saja. Hilang hanya untuk perempuan itu.

‘Sial, gue harus cari tau tentang cewek itu’ batin Shilla.

***

Ruang lukis di gedung universitas itu agak lengang. Senja yang datang membuat mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Takut akan gelap malam yang ada di sana. Suasana mencekam terkandang muncul disana.

Patton yang baru selesai membuat partitur lagu serta liriknya, menghampiri ruang lukis. Patton dan Shilla memang satu universitas, universitas kesenian.

“Shill, udah tau belom ?” tanyanya

Shilla terperanjat kaget,“Wey, ketok pintu dulu napa Patt, kaget kan gue”

“Ehehe, sorry Shill. Lagian ngapain di ruang lukis ini sendirian ?”

“Liat aja”

Patton mengalihkan pandangannya pada objek yang sedang digambar Shilla.

“Ngapain kayak gitu digambar ? Nyakitin hati aja”

Shilla tersenyum, “Bukan sepenuhnya salah dia kok”

Patton mengerutkan keningnya, “Terserah lo deh”

Shilla tertawa kecil, “Udahlah dibawa santai aja, oiya tadi nanya apa ?”

“Siapa Shill ?” tanya Patton.

“Apanya yang siapa ?”

“Cewek itu” tunjuk Patton pada lukisan Shilla yang hampir selesai

“Mantannya” jawab Shilla sambil menggigit bawah bibirnya , masih mencoba
menyelesaikan lukisannya.

“Mantannya ?”

“Iya”

“Tau darimana ?”

“Temen gue, ada yang satu SMP sama cewek ini, yang bikin gue sakit hati, ternyata
dia diputusin Alvin pas selesai MOS SMA”

“Eh ?”

“Iya, udah lah yuk pulang” Shilla meletakkan semua peralatan lukisnya. Berdiri,
mulai melangkah keluar,

Patton masih bingung , lalu melirik ke tempat Shilla duduk, “Eh tunggu Shill ! serem
nih ruang lukis !”

***

Sudah setengah tahun ia menyelidiki dan membuntuti Alvin saat ke rumah sakit.

Belakangan, diketahui mantan Alvin itu mengidap kanker otak stadium awal. Untuk mencegah terjadinya penjalaran akar kanker yang lebih lanjut, di adakan kemoterapi sesegera mungkin.

Namun Ify, mantan Alvin itu, seperti yang sudah dijelaskan di awal, tak mau pergi kemoterapi jika tak ditemani Alvin. Ia masih mencintai Alvin. Ia tidak mau makan, tidak mau berobat. Oleh sebab itu ibu Ify menghubungi Alvin. Memohon pada Alvin supaya ikut berpartisipasi demi kesembuhan Ify.

Kini, karena permintaan Ify, rupanya mereka mulai menjalin kembali hubungan yang telah berakhir.

Shilla yang mengetahui itu hanya bisa pasrah, ia tahu semua itu dari teman SMAnya yang dulu satu SMP dengan Alvin.

Ia tau semuanya, masa lalu Alvin, semuanya.

Setelah putus dengan Ify, dua bulan kemudian Alvin menjadi pacarnya.

Alvin putus dengan Ify karena sikap Ify yang kadang egois dan pencemburu. Dan lagi,
Alvin telah menemukan pengganti yang pas dengan kriterianya.

‘bukan sepenuhnya salah Alvin juga, karena kehadiran gue juga rupanya..’ batin Shilla, meringis.

***

Café itu agak redup. Namun suasana romantis menyelimutinya dengan hangat. Sehangat pasangan yang sedari tadi saling melontarkan kata sayang dan berbagai puiian.

Shilla yang memakai jas coklat panjang dan topi baretnya yang senada, terus mengikuti kemana saja Alvin dan Ify pergi.

‘Sakit juga ya rasanya di dua-in. dulu gue cuma bisa nasehatin temen-temen supaya sabar aja. Sekarang gue alamin juga deh yang macem begini’ batinnya.

Sebuah keputusan terlintas di otaknya, ya, mungkin dengan cara itu dia bisa melepas.

***

Suasana mendung mengiringi batin kedua manusia yang sedang dilanda perasaan yang tak karuan.

“Kenapa harus putus sih ? kita kan bisa LDR ?” protesnya, tak terima diputuskan begitu saja

“Takutnya aku nggak bisa serius Vin, aku mau lanjutin sekolah seni aku disana dengan serius, tanpa mikirin yang lain”

Muka Alvin memerah marah, “Nggak bisa gitu dong, jangan ambil keputusan sepihak. Aku nggak mau kamu putusin”

“Kalo kamu aku putusin, Ify bakalan cepet sembuh karena dapet perhatian full dari kamu”

Demi aku yang pernah ada di hatimu

Alvin membelalak, “Kamu tau?”

Shilla mengangguk, “Udah lama Vin”

“Bener deh Shill, aku udah nggak ada rasa lagi sama Ify. Itu semua aku lakuin supaya Ify cepet sembuh dari kankernya, kalo udah sembuh total, aku bakalan ninggalin dia”

Pergi saja dengan kekasihmu yang baru

“Kalo kamu ninggalin dia, dia bakalan sakit lagi Vin”

“Tapi aku udah nggak sayang lagi sama dia , Shill”

“Bohong ah”

Alvin diam. “Kamu tau dari kapan ?”

“Udah lama kok, jadi kita udahan aja ya ?”

Dan aku yang terluka oleh hatimu

“Yaudahlah, kalo itu mau kamu. Tapi Shill, aku lebih sayang sama kamu ketimbang dia”

“Tapi, karena aku kamu putusin dia kan ? sebagai cewek, aku juga nggak terima kalo diperlakukan kaya gitu Vin”

“Iya, aku tau aku salah. Salah di semua hal, salah karena…”

“Udah Vin, aku udah cukup tau”

Mencoba mengobati perihku sendiri

“Maaf ya , Shill”

“Kamu udah aku maafin, bilang sama Ify juga, aku minta maaf sama dia”

Alvin diam, mencoba mencari kebenaran lewat mata Shilla.

“Kapan mau pindah ?” tanya Alvin kemudian. Oke, sekarang dia hanya milik Ify. Agak nggak rela juga ngelepas Shilla.

“Besok”

“Aku anterin ya”

“Jangan, ntar Ify cemburu lho”

“Ah peduli amat”

“Hei, jangan gitu, hargain perasaannya”

“Iyaa”

Shilla tersenyum. Senyum terakhirnya untuk Alvin sebagai kekasih.

Aku yakin bisa
Aku bisa tanpamu


***

Suasana mendung itu mengingatkannya pada kejadian 2 tahun lalu. Saatnya mengakhiri hubugannya dengan Alvin. Masih membekas rasa sakit hatinya. Berkali-kali ingin melepas. Namun apa daya, Alvin selalu hadir di ingatannya.

Sampai pada saat ini
Aku memulihkan rasa di hatiku


Memulihkan hati yang sakit tak mudah. Butuh meditasi atau bertapa di gunung tua sepertinya.

Memang, ia yang memutuskan untuk mengakhiri semuanya, yang dikiranya akan lebih mudah untuk rela.

Ia memoleskan lagi kuasnya pada kanvas. Objeknya tidak pernah berubah, hanya dia.
Dia yang belum bisa sepenuhnya ia lupakan.

***

2 tahun kemudian…..

Suara burung menemani paginya. Sinar terang mulai masuk menembus jendela kamarnya. Menerpa wajah cantiknya. Membuat mata indahnya menyeruak dengan cairan bening menggenang di mata.

Tangannya menggapai-gapai laci kecilnya. Mencari jam tangannya.

“Aaaaaa, jam 7 ! Udah aja nih telat ke pameran !” Shilla langsung beranjak dari tempat tidurnya.

***

Sambil mengetuk-ngetukkan kakinya, laki-laki tampan itu menunggu wanitanya.
Memandang setiap sudut taman yang ada di rumah wanitanya.

“Ma..maaf Vin lama” ujar wanita muda itu dengan kursi rodanya.

“Iya nggakpapa, ayo berangkat, sebentar lagi pameran lukisannya bakal dimulai”

Wanita itu menunduk, melihat tangannya. Kulitnya mulai memucat, kakinya sakit jika digerakkan. Perlahan hampir seluruh bagian raganya tergerogoti oleh penyakit itu. Yang membuat lelakinya kembali padanya.

***

Gedung yang menjulang tinggi dengan aneka kendaraan yang padat kembali menjadi
panorama di sekelilingnya. Cukup puas ia menuntut ilmu di negeri paman sam.

Dengan dress selutut dan jaket panjang yang ia kenakan, dengan langkah pasti ia keluar dari mobilnya.

Gadis tinggi dengan rambut hitam panjang yang diikat asal itu berjalan anggun ke gedung.

“Pameran Lukisan ‘My Life’ “ ujarnya. “Akhirnya gue bisa juga ngadain pameran lukisan” ucapnya bangga.

***

X-Trail hitam itu berhenti di parkiran sebuah galeri seni yang sedang mengadakan pameran lukisan.

Seorang laki-laki dengan paras tampan turun dari mobil. Dengan berlari kecil membuka pintu belakang, mengambil kursi roda dan diletakkannya di depan pintu samping.

Digendongnya keluar kekasih yang 4 tahun ini menemaninya. Bukan, ditemani lebih tepatnya. Di letakkannya ia di kursi roda. Dengan senyum, ia mendorong kursi roda itu pelan.

Wanita itu terus menunduk, apa gunanya ia sekarang. Dengan badan yang rentan, lemah, ia putus asa. Ia lelah menjadi beban kekasihnya, ia lelah menjadi penghalang cinta kekasihnya pada mantannya. Ia tau, tindakkannya dulu salah. Maka, detik ini ia membulatkan tekad. Toh, waktunya juga tak lama lagi.

“Kenapa fy?” tanya Alvin

“Nggak, ayo Vin cepet, aku mau liat lukisannya”

Alvin tersenyum, “Iya, pelan aja ya”

***

Rasa sejuk mulai terasa ketika mereka masuk ke dalam gedung. Alvin agak kaget ketika melihat lukisan pertama yang ia lihat.

“Kenapa berhenti Vin ?” tanya Ify sambil berusaha menengok ke belakang. Tapi sulit rasanya menggerakkan kepalanya. Bicara saja lelah. Membuka matanya pun sungkan.

Lukisan pertama yang menyambut mereka adalah lukisan remaja laki-laki yang sedang tertawa. Alvin tau betul, itu dirinya.

Ify menoleh ke objek yang dilihat Alvin. Batinnya miris. Tapi ia tau, ia tau sesuatu.

“Nama pelukisnya siapa Vin ? Itu yang di gambar kamu kan ?” tanya Ify

“I..iya, itu aku. Nama pelukisnya ….”

“Siapa ?”

“Asshilla… “

“Kayaknya aku tau, mantan kamu ya ?”

“Udahlah, ayo lanjut” Alvin mendorong kursi rodanya pelan. Ingat . Ingat lagi dengan cintanya untuk Shilla.

***

Shilla tersenyum puas dengan respon para pengunjung pamerannya. Tak menyangka karya-karyanya dikagumi oleh mereka. Total pengunjung yang ia peroleh pun bisa dibilang istimewa karena baru untuk memulai.

Shilla kembali menelusuru koridor gedung pamerannya yang sudah sepi. Semua lukisan merupakan kehidupannya. Semua yang ia lukis ada di hadapannya.

Shilla berhenti di sebuah lukisan. Lukisan terakhirnya untuk Alvin. Di lukisan itu, terdapat Alvin yang sedang mendorong kursi roda Ify di tengah hujan di depan gedung rumah sakit.

Shilla meringis, hatinya masih suka sakit kalau mengingat Alvin.

“Shilla…” Shilla menengok, hatinya tercekat.

“Alvin ?” ujarnya.

“Fy ? Ini kamu Fy ? Bukannya waktu itu kamu udah kemo…”

“Maaf Shilla, waktu itu aku nggak tau kalau kamu udah jadian sama Alvin…” Ify menunduk, kalau saja tindakkannya dulu itu tepat, tentu kejadiannya tidak akan seperti ini.

Shilla berlutut di depan Ify, meraih tangannya yang dingin.”Nggak Fy, kalo ada
Alvin , kamu akan cepet sembuh, walaupun kita belum saling mengenal jauh, tapi aku pengen kamu sembuh”

“Waktu dulu, yang kalian tau aku masih stadium awal, itu bisa-bisaannya mamaku aja, disitu aku udah stadium akhir, hidupku bergantung sama obat-obatan aja, sebenernya juga percuma sih diobatin, toh aku juga bakalan mati..”

“Hush, fy, jangan ngomong gitu” sahut Alvin cepat.

“Biarin, Shill, aku nggak tau waktu yang tepat kapan, aku juga takut waktuku nggak cukup, jadi, aku mau balikin Alvin ke yang seharusnya milikin dia” ujar Ify tulus

“Maksud kamu apa ?” Shilla bingung, apakah hatinya boleh berharap kembali ?

Ify menggenggam tangan Shilla erat. Tangannya yang lain meraih tangan Alvin. Menyatukan keduanya.

“Mau kan kalian balikan lagi ?” tanya Ify , memandang harap.

Shilla diam. Begitupun Alvin, sebetulnya ia mau. Tapi, rasa simpatinya untuk Ify dan sedikit rasanya bilang tidak.

Shilla ? sama, namun nalurinya sebagai perempuan, tahu betul apa yang dirasakan Ify.

“Demi aku “ kata Ify .

Shilla dan Alvin saling membuang muka. Tangan mereka masih dalam genggaman Ify

Saling diam diantara mereka membuat Shilla canggung kembali. Dilihatnya kembali tangannya yang masih dalam genggaman Ify. Shilla merasa aneh ketika genggaman itu mulai mengendur diiringi dengan menutupnya mata Ify.

Shilla segera melepaskan genggamannya. Alvin yang merasa genggamannya terlepas segera menoleh.

“Fy ?” panggil Shilla

“Fy ? kok tidur sih ?” tanya Alvin bingung

Alvin terperanjat, ia segera mencari pusat nadi Ify. Nihil. Tak ada denyut disana.
Alvin menggeleng, matanya mulai menghasilkan cairan bening. menggenang, tanpa mengalir.

Batin Shilla terguncang. Perlahan butiran bening mengalir dari sudut matanya.

***

Pemakaman Ify berlangsung lancar. Mama Ify berkali-kali mengucapkan terima kasih pada Shilla dan Alvin.

Shilla berjalan keluar pemakaman dengan hati yang tidak stabil.
Bagaimanapun juga ia tau, ia masih begitu menyimpan banyak rasa untuk Alvin.
Tapi, akankah mudah untuk kembali merajut itu semua menjadi jalinan baru ?

***

Malam itu seharusnya menjadi malam yang buruk untuk Alvin. Namun rasanya memang sudah hilang untuk Ify. Dilepaskan pun mudah saja.

Namun Alvin ingin menyelesaikan ini semua sampai tuntas. Status hubungannya dengan Shilla.

Keduanya saling diam. Yah, seperti biasa.

“Gimana kuliah kamu ? jadi ambil spesialis ?” tanya Shilla

“Jadi, kuliah aku baik kok” Alvin meraih minumannya, menyeduhnya.

“Spesialis apa ?”

“Penyakit dalam, aku pengen neliti lebih jauh tentang kanker”

“Aku tau, kamu nggak pengen ada orang yang menderita kayak Ify kan ?”

“Iya tapi nggak juga sih, menurutku penyakit kanker itu keren”

Shilla kaget, “Hah ? Darimana sisi kerennya ?”

“Badan jadi tambah kurus, cocok buat orang gendut kaya kamu”

“Eh iyaya ? Aku gendutan ?”

“Yap”

“Lah kok cocok sih buat orang gendut ?”

“Biar jadi kurus, obat diet terbaru “

“Iiih, teori darimana tuh ? sama aja kayak bunuh secara perlahan”

“Emang, teori dokter laah”

“Siapa ? Aku nggak pernah tau tuh”

“Dokter Alvin, hehe” Alvin menyeringai lebar

“Iiih, mentang-mentang udah jadi dokter, mau ambil spesialis, jadi sombooong” Shilla
memalingkan wajahnya.

“Hehe, serasa pacaran ya”

Shilla menoleh, “Maunya”

“Tapi mau kan ?”

Shilla meraih minumannya, mengedikkan bahunya.

“Kalo jawabannya begitu berarti iya”

“Ih ? Aku nggak bilang iya lho yaa”

Alvin mencubit pipi Shilla gemas, “Aku maunya iya”

Shilla tersenyum, “Iya aku juga maunya iya”

“Apa – apa ? Aku nggak denger “ Alvin mendekatkan wajahnya dengan tampang menggoda.

“Nggak – nggak , nggak ada siaran ulang”

“Huu, tapi makasih ya, aku janji nggak akan ada yang bisa bikin aku ngeduain kamu lagi” Alvin menyerahkan kelingkingnya.

“Janji ?”

“Liat ini liat kelingking aku, ayo”

Shilla mengaitkannya, tersenyum. Senyum pertama sebagai kekasih yang kembali. Kembali merajut cinta yang telah lepas. Mendekatkan kembali dua insan yang jauh.

***

Sejak engkau mendua
Entah apa yang kurasakan
Memandang perih
Menyimpan luka

Sampai pada saat ini
Aku memulihkan rasa di hatiku
Baru aku bisa
Bisa bicara

Demi aku yang pernah ada di hatimu
Pergi saja dengan kekasihmu yang baru
Dan aku yang terluka oleh hatimu
Mencoba mengobati perihku sendiri
Aku yakin bisa
Aku bisa tanpamu

Sampai pada saat ini
Aku memulihkan rasa di hatiku
Baru aku bisa
Bisa bicara

Demi aku yang pernah ada di hatimu
Pergi saja dengan kekasihmu yang baru
Dan aku yang terluka oleh hatimu
Mencoba mengobati perihku sendiri
Aku yakin bisa
Aku bisa tanpamu ( Flanella-Aku Bisa)


***

Mencoba tak ada salahnya
Kadang pilihan yang menyakitkan itu berbuah manis
Sebenarnya yang kita butuhkan hanya ikhlas
Dengan itu ‘dia’ akan datang
Merelakan , melupakan, mengikhlaskan, memulihkan
Sulit rasanya dilakukan
Tapi ,
Jangan gegabah berpendapat bahwa semua itu akan sia-sia
Pasti ada yang ingin ditunjukkan-Nya padamu
Yaitu, kebahagiaan
Di setiap detik, dapat memutuskan sesuatu
Di setiap waktu, dapat mengubah segalanya
Di setiap kesempatan, dapat mengganti takdir
Di setiap kata, dapat menafsirkan arti kalimat
Di setiap cinta, dapat memunculkan arti sesungguhnya
Di setiap keputusan, dapat menghadirkan ‘dia’ kembali


TAMAT

Huooo nggak pede hadir kembali.
Semoga suka ya, aku cuma pengen negasin bahwa setiap keputusan yang menyakitkan atau kurang menyenangkan itu pasti ada sesuatu yang akan ditunjukkan oleh yang Maha Kuasa.
Sama aja kaya kalimat :
‘dibalik kesulitan itu pasti ada kemudahan’
‘dibalik kesedihan pasti ada kebahagiaan’

Kritik dan sarannya ya :)
Habis baca jangan lupa komentar.
Tuh, aku bikin happy ending . aneh ya ?