Kamis, 26 Agustus 2010

Cinta Dalam Hati

Cinta Dalam Hati

Menyukai seseorang, tak semudah menghitung satu ditambah satu
Menyukai seseorang juga tak terhingga indah rasanya
Menyukai seseorang membuat kita pandai merangkai kata
Namun tak pelak bahwa menyukai seseorang itu menyakitkan
Karena belum tentu rasa suka kita dibalas oleh orang yang kita suka
Terkadang malah orang yang kita suka hanya menganggap kita sebatas teman
Tapi kita sudah berharap lebih kepada mereka
Atau lebih tragis, orang yang kita suka justru malah memandang kita dengan pandangan buruk
Entah apa, yang jelas mereka tidak menyukai kita
Sangat tidak suka
Cinta dalam hati pun begitu
Hanya memendam rasa sendirian tanpa teman
Hanya memendam rasa sambil berharap
Hanya memendam rasa sambil terus berusaha mempertahankannya
Entah mempertahankan untuk apa
Cinta dalam hati hanya bisa menunggu
Namun cinta itu baik
Bagaimana tidak ?
Cinta itu bahagia bila pasangannya bahagia
Tak perlu bersama dirinya
Asal pasangannya bahagia, tertawa, bersuka-ria
Cinta pasti akan ikut serta dengannya
Walau akhirnya cinta itu hanya sendiri tanpa teman
Sendirian
Itulah kata yang pantas untuk seorang yang sedang cinta dalam hati
Cinta itu akan terus tersenyum walaupun pasangannya tidak membalas perasaannya
.
***
Seakan turut berduka, cuaca pagi itu mengiringi kepergian seseorang dengan damai. Langit hitam, dengan sambaran kilat dan guntur yang terus bersahut-sahutan. Seakan turut menangis, bersedih, langit menurunkan air matanya ke bumi, mengguyur sang bumi dengan pedih.

Dengan langkah lesu, remaja perempuan itu keluar dari ruangan ICU. Masih dengan mata yang sembab, tubuh yang makin lama kian kurus , jauh lebih kurus dari sebelumnya, ia duduk di kursi tunggu di lorong rumah sakit itu. Tangannya meremas kertas itu dengan hampa. Tatapan matanya kosong. Ingin mengeluarkan air mata, namun sepertinya matanya tak kuasa menghasilkan air mata. Bukan karena apa, remaja perempuan itu telah menangis semalaman. Pasrah pada tuhan. Pasrah akan keputusan, akan takdir.

“Agni, ayo sayang kita makan dulu di kantin. Setelah itu kita ikut ke acara pemakaman papa” ajak Mamanya lembut. Keadaan Mama Agni pun lebih parah-jauh lebih parah daripada Agni. Lingkaran hitam pada bawah matanya menghiasi wajahnya yang cantik itu.

Agni mengangguk lemah. Batinnya masih terkoyak dengan kepergian papanya yang masih tidak bisa ia terima. Walau ia tau apa penyebabnya.

‘aku benci jantung papa’ gumam batinnya geram.

***
Kejadian itu telah berlalu lama. Saat itu Agni masih kelas 6 SD. Papa Agni meninggal karena gagal jantung. Usaha transplantasi akan dilakukan, namun semua itu terlambat.
Agni sudah tidak ingin bahkan mengenang semua itu sebagai kenangan pahit yang perlahan lenyap dari kehidupannya. Tapi masih ada satu hal yang tidak akan pernah bisa Agni lupakan, jantung. Organ tubuh Papa atau siapapun bahkan dirinya sendiri yang paling Agni benci. Konyol kedengarannya. Karena tanpa jantung manusia tidak akan pernah hidup. Tapi Agni sangat membencinya. Agni tau semua itu. Dan Agni juga telah berusaha menghilangkan kebenciannya itu. Namun tidak bisa.

Ada alasan mengapa Agni membenci jantung. Tentu ada. Semua pasti ada alasan. Agni juga mengidap penyakit jantung. Lemah jantung tepatnya. Itulah alasan mengapa ia membenci organ penting dalam hidup itu. Kondisinya itu lah yang membuat Mamanya jadi over protektif padanya. Membuatnya tidak bebas melakukan segala hal yang ia inginkan.
Agni menyembunyikan penyakitnya itu dari semua teman barunya. Teman SMPnya, teman SMAnya, semua temannya. Ia tidak ingin dikasihani, ia tidak mau semua orang menatap kasihan padanya. Agni mau semuanya berjalan seperti biasa, tidak ada apa-apa.
***
Ruangan dengan warna pelangi itu adalah miliknya. Nuansa ceria selalu terasa ketika memasukinya. Lantunan lagu juga pasti terdengar di dalamnya. Serta ada rasa sensasi kesejukan tersendiri ketika berada di dalamnya.

Itulah yang dirasakan oleh Dea, sahabat Agni saat ini. Mereka bertemu di SMA. Dea, dengan segala kekurang perhatiannya pada lingkungan, asyik mengunyah kue brownies yang ia ambil dari kulkas dari dalam kamar Agni. Dengan lahap kue itu raib olehnya. Dan dengan asyik pula ia menonton tv di sofa dengan kaki yang dilipat.

Agni yang melihatnya hanya tersenyum. Ia senang bersahabat dengan Dea. Sifatnya yang ceplas ceplos lah yang membuatnya tertarik untuk berteman dengan Dea.

Walau begitu, sebenarnya jiwa Dea rapuh. Seringkali bahkan selalu Dea bercerita pada Agni tentang semua masalah yang dihadapinya. Dengan sabar, Agni mendengarkan semuanya. Mereka berdua tanpa sadar telah saling membagi rahasia kepada masing-masing. Tapi satu hal yang Dea tidak ketahui, sahabatnya itu lemah jantung.

Entah apa yang akan Dea lakukan nanti jika mengetahuinya.

Apakah akan marah karena ia dianggap bukan sahabat oleh Agni ?

Atau ia akan menaruh perhatian dan penjagaan ketat pada Agni?

Atau ada kemungkinan lain?

Entahlah, semua akan diketahui nanti.
***
Masih di ruangan penuh warna, kamar Agni. Keduanya-Dea dan Agni diam untuk beberapa saat. Kemudian dilanjutkan dengan tawa Dea yang amat sangat lepas. Agni gusar melihatnya, dan menaruh telunjuknya di depan bibir, isyarat agar Dea diam sebentar.

Muka Agni merah padam. Ia tau hatinya sedang kenapa. Mengapa ia begitu gusar ketika melihat Alvin dekat dengan perempuan lain? Mengapa hatinya menolak kehadiran perempuan itu di dekat Alvin ? Agni mengerti, namun apakah salah hatinya seperti itu?

“Itu tandanya lo cinta, Agni..” ujar Dea setelah berhenti dari tawanya.

Agni melotot mendengarnya, lalu beranjak dari kasur empuknya itu dan mengambil sesuatu dari lemari kulkasnya itu. “Nggak, nggak, gue aja nggak ngerti cinta itu gimana”

“Lo nolak kehadiran dia sebagai cinta di hati lo?”

“Sebisa gue iya”

“Nggak bisa Ag, ngilangin cinta itu susah lho”

“Iya gue tau kok, udahlah de, nggak usah bahas dia lagi”

“Dia siapa?”

Agni berbalik, sekarang ia menghadap Dea, “ Alvin lah, siapa lagi. Nggak usah sok bego deh”

“Hahaha, iya iya. Tapi gue seneng bahas ini, lo kan nggak pernah cerita tentang ini sebelumnya”

“Ya itu semua memang karena gue nggak pernah cerita ini sebelumnya. Lagian juga sukanya udah lama”

“Hahaha, iya deh iya, tapi gue tertarik nih”

“Udah deh de, nggak usah bahas gue ataupun Alvin lagi. Lagian apa menariknya sih bahas ginian?”

“Au deh, gue tertarik aja”

“Lo tertarik gitu sama Alvin?”

“Nggak lah, tapi iya sih dia ganteng, tapi gue kan udah ada Rio, Ag. Lagipula Alvin kan sepupu gue.. gimana tertarik coba? Aneh lo mah Ag”

Agni duduk di sofanya, “Udah de, nggak usah dibahas. Nih, pilih mana? Bahas Alvin atau coklat swiss ini?” tawar Agni sambil mengacungkan dua bungkus coklat di genggamannya.
***
Pagi ini sangat pagi yang buruk untuk Agni. Bagaimana tidak? Ia kesiangan.

Agni terus berlari dengan kencangnya. Suasana jalan sudah ramai akan orang berangkat kerja.

“Mampus aja nih gue, telat kan, ah gila” gumam Agni ketika melihat jam tangan hitam yang melingkar indah di tangannya sambil terus berlari.

Rambut sebahu Agni yang memang selalu ia kuncir dengan asal, pagi ini lepas. Dan kuncirannya jatuh entah kemana.

“Ah elah pake jatoh segala kan” omelnya, namun tetap berlari dengan kencang, sedikit lagi gerbang ditutup.

Tidak dipedulikannya jantungnya yang seakan menekan dadanya. Sakit. Ya itulah rasanya. Namun bukan Agni namanya jika ia menyerah.

“Tunggu pak, jangan ditutup dulu” tangan Agni mencegah gerbang yang tinggal sedikit lagi ditutup dan akan menyebabkan bel berbunyi tanda masuk.

“Eh tumben neng Agni terlambat” ucapnya sambil membukakan pintu gerbang

“Iya, nih pak, aduh..” badan Agni terjembab ke arah dinding karena tersenggol seseorang yang entah siapa menabraknya.

Agni berbalik dan bersiap untuk mengomel. “Elo tuh kalo jalan liat-liat..”

Alvin-orang tadi, memalingkan mukanya cuek, “Maaf”

Pak satpam tadi melihat dua murid ini aneh, “Neng Agni, Mas Alvin, kok pada diem?
Ayo masuk, bapak mau nge-bel nih”

Agni langsung ngeloyor pergi begitu saja dan segera berlari kecil menuju kelasnya.
Tanpa menengok ke arah manapun, kecuali titik fokus matanya, kelas tercinta.
***
Suasana kelas 11 IPA 3 riuh. Patton, sang ketua kelas mendengar kabar bahwa kelas 11 IPA 2 kemarin ada ulangan matematika. Matematika yang bernotabene pelajaran pertama untuk hari ini, sukses membuat rusuh penghuni kelas 11 IPA 3.

Panik untuk Agni, tapi tidak untuk Ify, sang juara matematika.

“Mampuslah gue, dari awal bangun tidur sampe sekarang, siaaaal mulu” omel Agni sambil membuka resleting tasnya dan mengambil buku matematika.

“Haha, emang tadi lo ngapain aja Ag?” tanya Dea yang ikut nimbrung ke meja Agni dan Ify yang memang sebangku.

“Bangun tidur, kesiangan, pas pengen mandi, rebutan dulu sama Kak Gabriel, mana dia mandinya lama banget, luluran kali tuh orang, trus angkot pada penuh, terpaksa gue lari dari rumah sampe sini, eh nyampe gerbang, ditabrak sama…”

“Sama siapa?” tanya Ify dan Dea berbarengan

“Bu Uci, Bu Uci !” komando Patton yang langsung masuk ke kelas dan duduk rapi di tempatnya.

Spontan, Dea langsung kembali ke tempat duduknya, dan Ify-Agni juga membetulkan posisi duduknya.

“Bersiap, memberi salam” komando Patton

“Selamat Pagi Bu”

“Selamat Pagi anak anak, oke, sudah siap semua?”

“Siap untuk apa bu?” celetuk Cakka iseng, inilah strategi kelas 11 IPA 3 kalau ada ulangan. Pura-pura tidak tau, padahal sebenarnya tau.

“Ulangan”

“Hah ? ibu kan nggak ngasih tau apa apa” seru Cakka

“Sengaja tidak ibu beri tahu, ibu hanya ingin melihat sejauh mana kemampuan kalian dalam bab ini, ayo, semuanya siapkan alat tulis, jangan ada barang lain selain alat tulis di atas meja kalian. Yang mencontek, nilainya dikurangi 5”

“Yaaaaaaah” seru murid 11 IPA 3 kompak

Agni mendengus pasrah, yaah, nasib deh.
***
Kamar bernuansa pelangi itu seakan ikut mewakilkan sifat para remaja yang ada di dalamnya. Dengan “backsound” lagu Ungu yang sudah agak lampau, mereka ber-“curhat” ria sambil mengemil asik dengan derai tawa yang cukup renyah.

“Hahaha, lo sih Ra, tingkahnya konyol” komentar Ify dengan mulutnya yang masih penuh dengan roti panggang buatan Mama Agni.

“Habis bu Uci sih, masa keliling-keliling kelas mulu, yaudah lah gue bertingkah begitu” Zahra membentuk wajah cemberut dan bukannya bersimpati, kawan-kawannya justru tertawa terbahak-bahak, tak terkecuali Agni.

“Ahelah, udah bahas topik lain” ucap Zahra masih dengan kesal

Mungkin ini memang jalan takdirku
Mengangumi tanpa dicintai


“Lagu cinta dalam hati nih” komentar Zahra

“Eiya, kenapa ya, kebanyakan orang, lebih suka mendem perasaan sukanya ya daripada secara gamblang bilang dia suka sama orang itu?” tanya Dea sambil mengerling licik kepada Agni yang sontak tersedak saat meminum jus jambunya.

“Iya, gue juga bingung” sahut Zahra yang memang tertarik akan hal macam seperti itu

“Lo Ag? Tau nggak? Biasanya lo tau tentang beginian” sahut Ify

Agni tersenyum, otaknya mencoba merangkai kata , seperti biasa, Agni selalu menjadi tempat teman-temannya bercerita, “Kenapa orang lebih suka mendem perasaannya? Hem, menurut gue sih, itu karena mereka mungkin belum yakin sama perasaannya jadi dia masih bingung, atau nggak mau orang lain ikut campur dengan hatinya, atau juga, orang yang dia suka udah dimiliki sama orang lain, atau bahkan karena faktor lain”

“Maksudnya?” tanya Dea tak faham

“Nah, untuk kasus pertama itu, dia masih bingung sama perasaannnya, takut salah menilai perasaannya, apakah hanya sekedar rasa kagum atau memang bener-bener suka, cinta. Takutnya dia salah nilai perasaannya trus bikin orang yang bikin dia kagum jadi gede rasa, makanya menurutnya lebih baik teliti dulu perasaannya lebih dalam sebelum memproklamasikannya pada orang terdekatnya. Jadi menurutnya lebih baik simpan dulu perasaannya daripada menimbulkan komentar yang enggak-enggak”

“Yang kedua?” tanya Zahra penasaran

“Yang kedua, dia nggak mau orang lain ikut campur dengan hatinya. Mungkin dia cuma mau rasanya yang lagi berbunga-bunga itu nggak di-ikut-campuri oleh orang lain, istilahnya dia nggak mau ada orang lain yang ngurusin perasaannya deh, nggak mau ada yang ikut campur, dia risih mungkin. Mungkin itu tipe orang yang nggak suka curhat kali, jadi di pendem terus perasaannya”

“Ketiga?” tanya Dea dan Zahra bersamaan, Ify yang melihatnya hanya menggelengkan
kepalanya tanda maklum.

“Ketiga, orang yang dia suka udah dimiliki orang lain atau dia suka sama orang yang udah suka sama orang lain, bertepuk sebelah tangan gitu deh. Jadi gini, kita kan nggak bisa maksain hati kita buat suka sama orang kan? Bukan sepenuhnya salah kita juga kalo kita suka sama orang yang udah dimiliki atau suka sama orang lain, kita juga nggak bisa maksa. Rasa itu kan dateng sendiri, nggak bisa kita tolak. Lah gimana mau nolak? Sadarnya aja setelah kita nggak sengaja merhatiin dia lebih jauh. Jadi daripada nyakitin pasangan orang yang kita suka, mendingan kita simpen aja baik-baik perasaan suka kita sama orang itu. Tujuannya sih biar nggak ada pihak yang tersakiti dan dengan perlahan melenyapkan perasaan itu. Walaupun kita sendiri yang nantinya bakal sakit hati nggak ketulungan. Cinta kan baik, selalu bahagia jika orang yang dicintai itu bahagia”

“Trus?” tanya Ify

“Trus apaan?”

“Yang ke empat?” tanyanya lagi

“Yang keempat ya, hemm, faktor lain. Faktor lain kan banyak. Ada faktor karena dia masih mau mikirin karir atau sekolah dulu dibanding cinta, jadi dia sengaja mau nikmatin cinta itu sendirian. Atau juga karena faktor orang tua? Orang tua nggak ngizinin anaknya pacaran dulu, jadi anaknya itu mendem perasaannya. Bahkan ada, yang udah punya seseorang yang special kembali jatuh cinta sama orang lain, nah lho? Rumit kan kalo sampe terjadi pertengkaran hanya karena cinta? Jadi dia mutusin untuk mendem perasaannya aja, dia juga nggak mau 2 orang yang disayanginya berantem. Simpelnya sih gitu aja, masih banyak sih faktor lain, nanti juga pelan tapi pasti kita bakal tau kok. Yang penting kita menjaga hati aja”

“Masa sih? Kalo orangnya keburu mati gimana?” tanya Dea kritis

“Keburu mati? Maksudnya dia sakit parah trus belum sempet ngungkapin sukanya gitu ke orang yang dia suka?” tanya Agni meminta penjelasan.

“Iya mungkin, kan kayak yang di tv-tv itu”

“Menurut gue sih, mendingan bilang ke orang yang disuka dulu sebelum semuanya terlambat, biar nggak ada penyesalan dan kedua pihak sama sama lega”

“Maksudnya?” tanya Ify bingung

“Daripada mati ninggalin sesuatu yang belum tersampaikan? Nggak enak kan? Bebannya tambah berat dong, kasihan. Paling nggak, sebelum dia mati harus bilang bahwa dia suka sama orang yang dia maksud. Biar kedua pihak sama sama tau, dan ada kepastian tentunya”

“Nembak gitu?” tanya Zahra

“Nggak juga, bukan berarti ngungkapin perasaan kita ke orang yang kita suka itu nembak kan? Menurut gue sih enggak, soalnya nggak ada kata kata ‘mau nggak jadi pacar gue’ atau semacamnya, hanya bilang doang kan? Cuma ngungkapin doang kan? Nggak nembak kali menurut gue sih, biar hati kita lega-an dikit gitu kan orang yang kita suka jadi tau perasaan kita yang sebenarnya langsung dari kita, bukan dari orang lain. Orang lain kan bisa aja bilangnya kelebihan atau kekurangan dengan apa yang kita maksud”

“Berarti orang yang cuma bilang suka itu bukan nembak dong?”

“Menurut gue sih gitu , tapi tergantung juga sama yang bilang suka, maksud dia bilang gitu tuh nembak atau bukan. Kalo nembak ya syukur, masih ada yang mau sama kita, kalo nggak yaudah, syukur juga ada yang masih suka sama kita yang nggak sempurna”

“Gitu ya?”

“Iya tapi itu menurut gue, pendapat gue, pendapat orang tuh beda-beda loh”

“Iya sih, tapi balik lagi deh ke yang tadi, kalo lo jadi dia, lo bakal ngapain?” tanya Dea

“Kok gitu? Lo doain gue cepet mati gitu?” sahut Agni kaget

“Nggak Ag, bukan, misalnya nih ya, misalnya, lo suka sama orang dan lo ada penyakit trus lo diprediksi waktu hidup lo nggak lama lagi, lo bakal ngapain?” jelas Dea

“Sebisa gue, sekuat gue, walaupun nantinya gue bakalan malu banget trus nggak kuat liat dia lagi, gue akan tetep bilang, gimanapun caranya. Karena gue nggak mau mati bawa beban sepele kaya gitu, masa mati masih mendem rasa ke orang? Daripada mati penasaran trus gentayangan? Hehe nggak sih, kalo gue mah pasti bilang secepatnya”

“Gitu ya? Berani banget lo, Ag” komentar Zahra

“Gue setuju, walaupun orang yang disuka pada awalnya nggak tau kan perlahan bakalan tau dan merasa nggak enak hati, seenggaknya bahagiain dikit kek dan hargain dikit gitu sama perasaan orang. Masih syukur ada yang suka sama dia” sahut Ify
Dea terdiam, hatinya membulatkan tekad sesuatu, walaupun masih ada sedikit keraguan dihatinya, niat itu akan segera ia laksanakan.
***
Suara burung menghiasi indahnya pekarangan rumah bernuansa hijau itu. Diiringi dengan dentuman bola basket yang sesekali membentur dinding dan tak jarang menyenggol pot bunga milik nyonya rumah.

“Bang Alvin” sapa sebuah suara yang amat familiar di telinganya.

Alvin menoleh, melihat orang yang berdiri di depan pintu pagarnya, ia segera membuka pagar dan mempersilahkannya masuk.

“Eh Dea, kenapa?” tanya Alvin sambil memperhatikan Dea yang datang tiba-tiba kerumahnya. Habis Dea jarang sih datang kerumahnya, tumben.

“Ini, ada kue dari Mama” Dea menyodorkan sebuah kotak makan ke Alvin. Alvin segera meraihnya.

“Apaan nih?” tanyanya

Dea menyambar bola basket Alvin, “Liat aja sendiri”

Alvin membuka kotak makannya, “Wow chiffon, makasih ya” ucapnya.

“Iya, eh, lo tau Agni kan, bang?” tanya Dea. Nggak heran terkadang Dea manggil Alvin dengan sebutan ‘bang’. Alvin adalah sepupunya. Mama Alvin merupakan kakak dari mamanya. Bukan sepupu jauh.

“Tau kok, temen SMP gue”

“Pernah sekelas?”

“Bukan pernah lagi, 3 tahun sekelas mulu”

“Tau apa aja tentang Agni?”

“Hm, apa ya. Anaknya baik, agak ceplas-ceplos, kalo ngomong frontal, apa yang ada di otaknya langsung di omongin, doyan makan sama tidur di kelas, suka main basket..”

“Yeee kalo itu gue juga tau, gue kan sekelas sama dia dari kelas 10”

“Ya kalo gitu ngapain nanya ke gue?”

“Nanya aja, barangkali ada sesuatu yang nggak gue tau”

“Hmm, apa ya?”

“Apa? Yang aneh atau mencurigakan gitu?”

“Ada sih, gue juga bingung waktu tau, dia pasti selalu telat dateng kalo mau olahraga, nggak tau tuh ngapain dulu di ruang ganti”

“Maksudnya?”

“Masa nggak ngerti? Telat terus, datengnya pas udah pemanasan”

“Kira-kira dia ngapain?”

“Hmm, waktu itu sih gue pernah liat dia nyesek banget habis lari 20 putaran, ya tapi biasa aja sih, yang lain juga sama bahkan ada yang pingsan, tapi anehnya Agni sampe nyesek banget lah pokoknya”

“Trus?”

“Trus apa?”

“Dia bawa obat nggak?” kali ini Dea menanyakan dengan sangat hati-hati

“Obat? Nggak sih, tapi gue pernah mergokin dia lagi nangis di sekretariat olahraga waktu sore pas habis ekskul, dia megangin dadanya, kayak lagi kesakitan”

“Serius?”

“Iya, gue kan satu sekretariat sama dia, dia basket, gue futsal, yasudahlah satu jenis olahraga kan”

Dea melamun, hatinya masih ketar ketir dengan penjelasan Alvin. Ingatannya kembali memutar kejadian bulan lalu.

“Emang kenapa De?” tanya Alvin lagi. Dea sedikit kaget, namun segera mengendalikan dirinya.

“Nggak kok, eh, lo tau nggak bang waktu SMP Agni suka sama siapa?”

“Nggak tau, gue nggak begitu deket sih walaupun 3 tahun sekelas, jarang ngomong tapi yaa lumayan deket lah, lagian juga sikapnya sama sekali nggak nunjukin bahwa dia suka sama orang”

“Yang bener, deket atau nggak deket?”

“Deket tapi nggak deket”

Dea mengangguk-angguk mengerti, pantas saja. Ia juga baru tau beberapa waktu lalu ketika ia tak sengaja mengutak-atik lemari Agni yang memakai kode, seperti brankas. Dan entah mendapat ide darimana, ia memencet tombol “2009” yang artinya 20 September, tanggal lahir Alvin. Memang sih, banyak yang lahir ditanggal itu, namun dengan yakin Dea menanyakan hal tersebut ke Agni dan sukses membuat wajah Agni merah padam. Dan untuk pertama kalinya, Agni memberitahukannya pada orang, yaitu Dea.

Tapi, Dea belum sempat melihat isi lemari itu, karena keburu Agni tutup pintunya. Anehnya, hanya lemari itu yang diberi kode. Aneh, pikir Dea.

“Dea?” panggil Alvin

“De?”

“Deaaa?”

“Hoi ! Dea !”

“Woy, orang ! bangun woy jangan ngelamun !”

Dea tersentak, lalu memberikan sebuah senyum manisnya pada Alvin.

“Yaudah deh, gue pulang ya bang. Salam buat bude”

“Iya, hati-hati ya De”

“Iya, bye”

“Bye”

Alvin mengantar Dea sampai pintu pagar, “Dea, gue anter pulang deh”

“Nggak usah, rumah gue deket ini”

“Yaudah, gue udah nawarin loh ya”

“Iya, iya, udah ya, bye”

“Bye”

Sekali lagi Dea tersenyum pada Alvin, agak kecewa juga dia dengan Alvin yang kurang faham bagaimana Agni. Tapi, ada informasi baru juga yang Dea dapatkan dari sepupunya itu.

“Gue ke rumah Agni sekarang deh”
***
Dengan ceria, Agni membuka pintu pagar rumahnya dan mempersilahkan masuk si tamu ke dalam rumahnya.

“Naik ke kamar aja dulu De, gue ambil makan dari dapur, di kamar gue persediaan makanan tinggal dikit”

Dea mengangguk dan segera berlari kecil ke kamar Agni, menjalankan rencananya.

Sesampainya di kamar Agni, Dea langsung membuka lemari dikamar Agni.

“duapuluh kosong Sembilan” gumamnya sambil memencet beberapa tombol

Diiiit….

Laci itu terbuka secara otomatis.

Dea terbelalak ketika melihat apa yang ada di dalam laci itu.

Hawa dingin mulai menyerbunya, siapa sangka lemari itu adalah kulkas ?

Beberapa botol obat-obat serta alat bantu pernafasan untuk orang asma, yang lebih mengagetkan lagi, ada alat bantu oksigen yang ada di rumah sakit serta tabung oksigen berbotol-botol. Dea meraih botol obat, menggoyangkan tempatnya, tak terdengar suara gemuruh obat terkocok di dalamnya. Dea segera membuka tutup obatnya, “kosong” gumamnya.

Dea mengambil botol obat yang lain, “ kosong “

“kosong”

“kosong”

“kosong”

“apa-apaan nih, kosong lagi”

“se.. setengah”

Dea mengalihkan pandangannya pada objek yang lain, ia melihat bertumpuk-tumpuk amplop coklat dan kertas-kertas.

Dea membaca sampul amplop secara sekilas

“Rumah Sakit Harapan” gumamnya

Dea membaca tanggal pengiriman, kaget. Tanggalnya sudah lama berlalu. Dengan sedikit gemetar, ia mengeluarkan isi amplop tersebut.

“Apaan nih? Hasil rontgen ya? Ini gambar apaan sih? Jantung ya?” gumam Dea sembari bertanya-tanya. Dea membaca tulisan pada keterangan dibawahnya.

“Agni, lo kok nggak cerita sih, jahat” gumamnya.

Dea langsung mengembalikan itu semua ketika mendengar suara langkah kaki mendekatinya. Menutup pintu lemari itu secara hati-hati. Dengan bantuan backsound lagu yang selalu menyala di kamar Agni, bunyi lemari ditutup-pun tidak terdengar.

“hehe, sorry lama De, tadi gue buka tutup botol jus ini dulu nih, susah. Jadi minta Kak Gabriel bukain deh, eh tau nya dia lagi tidur” Agni menaruh nampan itu di lantai yang dilapisi karpet.

“Nih ambil De, biasa juga belum ditaruh disini udah diambil duluan” tawar Agni

“Dea? Kenapa sih? Ada masalah? Cerita aja lagi, siapa tau gue bisa bantu “

“Lo yang nggak pernah cerita sama gue Ag”

“Maksud lo?”

“Halah, jangan belaga bego deh”

“Apaan?”

“Lo sakit?”

“Enggak, lo bisa liat kan gue sehat-sehat aja”

“Nih liat ya” Dea berjalan ke arah lemari Agni dan memencet beberapa tombol untuk membukanya.

Agni menatap Dea bingung dan segera mencegah Dea membuka lemarinya itu.

“Apa? Mau nyegah gue? Gue udah tau Ag, gue tau”

Diiiiiiit

Pintu lemari itu terbuka. Baru saja akan Agni tutup, sudah dicegah Dea.

“Apa? Gue tau Ag, tapi yang nggak gue ngerti, jantung lo kenapa? Kenapa hasil
rontgen-nya buruk begini sih?”

Agni diam, menarik nafasnya. “Lo mau tau?”
“Nggak ! ya mau tau lah ! jantung lo kenapa emangnya?” tanya Dea

“Tenang dulu De. Sini, duduk dulu”

“Oke”

Diam sesaat, membuat Dea risih, “Cepet cerita”

“Dokter gue waktu kecil, bilang jantung gue nggak akan kuat lebih dari 20 tahun”

Dea diam. Tapi Agni tau, Dea sedang menanti kelanjutannya

“Nyokap nggak izinin gue buat ikut ekskul olahraga, tapi gue minta negosiasi, karena
gue udah terlanjur suka sama basket. Nyokap tetep kekeh sama keputusannya, trus gue bilang aja, gue mau manfaatin hidup gue seenggaknya sampe umur 20 tahun untuk basket. Denger gitu, nyokap nyerah, dia izinin gue buat main basket sampe sekarang”
Agni diam lagi. Bingung harus melanjutkan ke arah mana.

“Oya, yang waktu itu lo tanyain, gue tau kok itu buat gue”

“Tapi waktu itu gue masih ngira-ngira Ag, gue kan nggak tau macem apa obatnya. Bisa aja cuma obat batuk pilek”

“Haha, gue harap begitu”

“Trus jantung lo kenapa? Lo sakit apa?”

“Jantung gue lemah De, mungkin lo nggak pernah liat gue pas lagi kumat”

“Gue emang nggak liat, tapi Alvin liat”

“Alvin liat? Tau darimana? Kapan?”

“Yee, Alvin kan sepupu gue”

“Oiyaya, dia bilang apa?”

Dea menceritakan semua pembicaraannya dengan Alvin. Agni hanya tertawa saja mendengarnya.

“Oh, yang itu, udah lama kali” komentar Agni pada Dea

“Jadi?”’

“Apa?”

“Lo bakalan bilang nggak sama Alvin?”

“Pastilah, gue bakalan bilang”

“kapan?”

“Sebelum umur 20 tahun”

“Yang jelas Ag”

“Sebelum lulus SMA”

“Spesifiknya?”

“Sebelum gue pindah ke Australia”

“Pindah?”

“Iya, naik kelas 12 nanti, gue pindah ke Australia, Kak Gabriel kan mau kuliah
disana, yaudah gue sekalian lanjutin sekolah disana juga”

“Tapi itu berarti beberapa bulan lagi, soalnya kan kita sebulan lagi ujian kenaikan kelas”

“Iya, haha. Jangan kangen ya De, huhu”

“Trus? Spesifiknya lagi? Jangan bilang pas di bandara? Uuh, sinetron banget”

“Nggak lah, kita kan ada perpisahan khusus kelas 11 kan? Yaudah pas itu aja, inget,
gue cuma bilang suka, bukan nembak, apa-apaan banget kalo gue nembak kan? Hahaha, itung itung gue mati nggak bawa beban macam itu deh”

“sarap lo Ag, tapi tenang, gue dukung dan gue bantu”

“Nggak usah, gue mau semua pake usaha gue sendiri”

“Yaudah kalo itu mau lo”
***
Ujian kenaikan kelas telah dilaksanakan, pembagian rapor juga sudah lewat sehari yang lalu, tinggal menunggu perpisahan yang tinggal menghitung jam. Sekarang pukul 4 sore. Dea sudah stand by dirumah Agni sejak 6 hari lalu, menginap. Katanya, ia ingin menghabiskan seminggu penuh bersama Agni sebelum sahabatnya itu pindah ke Australia. Tinggal sehari lagi Agni di Indonesia.

“Cepet, lo sekarang mandi deh, gue udah mandi. Tinggal dandan dikit”

“Dandan? Ngapain?” tanya Agni kaget

“Heh, ini tuh acara formal, nggak lebay juga dandannya, yang tipis aja lah”

“Ih, gue ogah”

“Heh, udah sekarang cepetan mandi”

“Iya iya”
***
“Diem ! Kalo lo nggak diem, bakalan berantakan tau nggak”

“Ih, apaan sih De, pokoknya gue nggak mau di dandanin yang aneh –aneh”

“Nggak aneh kok, makanya, penampilan tuh dijaga dikit, dirawat dikit kek, lo manis
tau Ag kalo rapi”

Agni baru saja mau membuka mulut, sudah kena omel Dea lagi, “Diem, atau gue bikin muka lo kaya badut !”
***
“Kita nungguin siapa sih?” tanya Agni ketika disuruh menunggu sebentar oleh Dea

“My boyfriend doong “ jawab Dea dengar cengiran lebar

“Kapan jadian?”

“Halah spik lo, udah lama juga, haha”

“Iya haha, yah tapi ntar gue cengo nih liatin kalian berdua pacaran, ogah deh, udah gue naik angkot aja”

“Heh, malah naik angkot lagi, bisa ancur itu hasil karya gue !”

“Bis deh?” tawar Agni

“Nggak, apalagi bis”

“Taksi?”

“Nggak, gue udah membawa orang untuk menemanimu nak”

“Bahasa lo De, haha yaudah mana?”

“Dea !” panggil seseorang

“Hey, kamu udah dateng !”sapa Dea pada Rio yang melambaikan tangannya. “ Ayo Ag, kita berangkat” ajak Dea
***
Perpisahan akhir semester untuk kelas 11 yang naik kelas itu berlangsung seperti pesta, dengan pakaian formal. Mengharuskan mereka berpenampilan formal tentu.

“Jangan cemberut gitu dong Ag, udah gue bawain Alvin juga” bisik Dea jahil, tangannya masih digandeng Rio.

“Dea, kesana yuk, makan” ajak Rio

“Gue duluan ya yo,de, mau ke temen-temen” ujar Alvin seraya pergi

“Yah kan, dia pergi, samperin sana” bisik Dea lagi

“Nggak, gue juga gabung sama yang lain deh” Agni langsung ngeloyor pergi gitu aja
dan berbaur bersama yang lain, tak lupa agak sedikit tertatih karena belum biasa
memakai high heels.

Dea hanya bisa menatap sahabatnya itu pasrah. “Waktu lo Ag..” gumamnya

“Apa?” tanya Rio

“Nggak, yuk makan”
***
Agni menaiki sebuah tangga menuju puncak gedung. Agni merupakan panitia perpisahan, jadi sebelumnya ia sudah mengetahui betul letak puncak gedung itu.

Agni duduk di sebuah palang besi dan melepas high heel-nya.

“Ribet banget ih” gumamnya

Melihat bintang, itulah yang Agni lakukan. Agni menengok ke sekelilingnya, memicingkan matanya ketika melihat ada punggung yang berjalan. Agni menghampiri orang itu.

Alvin-orang itu, menengok. “Eh elo”

“Hey”
“Ngapain disini?”

“Cari udara malem”

“Kok? Angin malem kan bikin masuk angin”

“Haha, biarlah. Gue mau nikmatin malem terakhir gue disini”

Alvin menyender pada dinding sambil memasukkan tangannya pada saku celana.

“Lo mau kemana emangnya?”

“Mau ke Australia”

“Ngapain?”

“Sekolah”

“Ngikut Kak Gabriel ya?”

“Iya, kok tau?”

“Gue satu ekskul sama dia”

“Oiyaya, lupa gue”

“Serius pindah?”

“Iya, emang kenapa?”

“Nggakpapa”

“Nggak siap kehilangan gue ya?”

“Biasa aja”

“Kirain, padahal gue ngarep loh”

“Ngarep?”

“Iya”

“Kenapa?”

“Nggakpapa, padahal gue loh yang nggak siap ninggalin lo, masih belom rela”

“Dih, masa gitu”

“Iyalah, eh udah lama ya kita nggak ngobrol begini”

“Habis pisah kelas sih”

“Gue maunya sih sekelas lagi sama lo”

“Bilang noh sama yang ngatur kelas”

“Haha iya, habis lo sok cuek sih kalo ketemu gue, buang muka lah, nggak senyum
bahkan”

“Haha, emang iya ya? Gue nggak sadar”

“Haha iya, eh gimana lo sama Shilla?”

“Shilla?”

“Iya, lo suka sama dia kan?”

“Siapa bilang?”

“Gue”

“Jangan asal makanya kalo nggak tau”

“Terserah gue lah”

“Iyadah apa kata lo”

“Iyee”

“Bentar, kok lo ngarep gue kangen sama lo?”

“Wajar lah, gue kan suka sama lo”

“Serius?”

“Iya, salah ya? Kalo mau salahin, salahin hati gue noh, kenapa gue bisa suka sama lo”

“Nggak salah lagi, bukan mau kita juga kan”

“Iya, eh gue nggak nembak lo loh”

“Iya gue tau, cewek macem lo mah nggak bisa gitu”

“Sip, untung lo pengertian”

“Hm, lo nggak cocok pake baju beginian”

“Iya ya? Tuh kan, gue udah bilang sama Dea gue nggak mau pake baju beginian”

“Tapi jadi lebih manis”

“Gombaaaal, siapa lu?”

“Alvin, hahahaha. Serius deh, eh harusnya lo bersyukur dipuji sama orang yang lo
suka”

“Iya deh, makasih ya”

“Pake dong sepatunya”

“Nggak ah, sakit kaki gue”

“Ye, nggak pake sepatu juga sakit, mana kotor lagi”

“Bodo”

“Yaudah nih pake sepatu gue”

“Boleh?”

“Boleh”

“Ih asik, makasih ya”

“Iya, sekalian kenang-kenangan dari gue”

“Oh, buat gue nih? Makasih ya”

“Iya”

Agni terkesiap. Tangannya mendadak kaku, dadanya sakit lagi.

“Kenapa?” tanya Alvin

“Nggakpapa”

“Kayaknya lo masuk angin”

“Sok tau lo”

“Yaudah, balik lagi yuk ke Dea-Rio, minta pulang”

Agni tersenyum, kali ini dibalas senyum oleh Alvin.
***
Rumah Agni pagi itu agak sendu, dengan koper-koper yang telah dikemas, Agni pamit kepada teman-temannya.

“Yakin Ag, lo sendiri aja?” tanya Rio

“Iya, yaelah emang kenapa sih yo?”

“Nggakpapa, lo cewek gitu, keluar negeri sendirian”

“No problem yo, Agni kan pemberani” hibur Dea

“Ini sahabat gue sejak kecil De, kalo boleh sih gue temenin” ujar Rio

“Beeh, enak banget lo” ejek Dea

“Haha, udah-udah, ntar ketinggalan pesawat kan nggak lucu, gue pergi dulu ya” lerai
Agni sambil mengambil tas selempangnya dan masuk ke mobil.

“Iya, bye Ag. Hati-hati dijalan, sering contact gue yaa” Dea memeluk Agni erat, “jangan lupa jaga jantung lo” bisiknya. Agni mengangguk.

“Hati-hati ya Ag” ujar Rio . “Nggak mau peluk nih?” lanjutnya

“Dih? Emang boleh sama Dea?” tanya Agni

“Boleh kok, peluk aja, sahabat sendiri ini” kata Dea sembari tersenyum

“Huaaaaa, Rio. Jaga Dea ya, awas loh jangan bikin Dea nangis” ucap Agni dalam peluk Rio

“Iya, tenang aja Ag. Jaga diri ya disana”

“Iya, udah ya, byee” Agni masuk ke mobilnya dan pergi.

***
Di jalan, Agni merasa ada sesuatu yang harus dilakukan. Segera ia mengeluarkan hpnya. Dan mengetik sebuah pesan singkat.

To : Alvin
Keluar rumah lo, sekarang.


Agni menghembuskan nafasnya. Terakhir kali barangkali untuknya bertemu dengan Alvin.
Merasa ada getaran dari saku bajunya, Agni mengambil hpnya.

From : Alvin
Iya, gue udah di depan rumah


Agni keluar dari mobil.

“Hey” sapa Alvin

“Hai”

“Udah mau berangkat ya?”

“Iya”

Agni merasa badannya ditarik. Agni memejamkan matanya, ia tidak ingin berharap. Agni tidak mau berandai dan berharap pada Alvin.

Namun dengan perlahan, Agni membuka matanya. Senyum terkembang di wajahnya.

Ternyata, tanpa berharap pun sudah terjadi. Saat ini ia dalam dekap erat Alvin.
Hangat, tak ingin rasanya ia melepaskannya.

“Haha, gue punya lirik yang tepat Vin”

“Apa?”

“Dan izinkan aku memeluk dirimu kali ini saja, tuk ucapkan slamat tinggal untuk slamanya, dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejap saja”

“Lagu ungu ya? Cinta dalam hati?”

“Iya, tapi gue udah nggak dalam hati lagi. Lo kan udah tau”

“Iya ya, haha”

“Vin?”

“Ya?”

“Lepas, sesek nafas nih gue . lo meluknya kekencengan”

Alvin melepaskan pelukannya. Menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, “Hehe, maaf. Gue refleks”

“Iya gue tau, nggakpapa kok. Barangkali untuk yang terakhir kali”

Alvin tersenyum, dan sekali lagi memeluk Agni erat. Terakhir kali.
***
Dua tahun kemudian…

Alvin merasa bulu kuduknya sedikit merinding ketika mobilnya melewati pemakaman umum terbesar di Sydney, Australia. Kini, setelah dua tahun yang lalu lulus SMA, Alvin kuliah di Australia. Ingin menemui pujaannya disana. Dan segera menyatakan cintanya pada gadis hitam manis itu. Agni.

Dalam mobil, Alvin terus membaca buku novel, dengan tawa yang tidak henti-hentinya reda, Alvin terus membaca.

Orang yang jatuh cinta diam-diam tahu dengan detail semua informasi orang yang dia taksir, walaupun mereka belum pernah ketemu

“Gue sih ketemu tiap saat sama dia, Cuma udah dua tahun ini gue udah nggak pernah liat dia lagi, udah hilang contact lagi. Dea sama Rio juga udah ilang contact sama Agni. Hem, dimana sih lo , Ag?” gumamnya

Orang yang jatuh cinta diam-diam memenuhi catatannya dengan perasaan hati yang tak tersampaikan

“Untungnya gue nggak, gue lebih suka norehin di otak gue”

Orang yang jatuh cinta diam-diam…

Alvin menghentikan bacaannya tiba-tiba

“Sebentar, itu gue kayak kenal. Kak Gabriel kan?” gumamnya

“Stop, Sir” ucapnya pada sopirnya

“Iya Den Alvin” jawabnya

“Eiya lupa kalo bapak yang nyetir”

Alvin keluar dari mobilnya, ke toko bunga, menghampiri orang yang ia duga adalah
Gabriel, kakak Agni.

“Iya itu kak Gabriel, ngapain beli bunga? Ah paling buat ceweknya” gumam Alvin

“Kak,..” panggilnya

Gabriel menoleh, matanya terbelalak, “Alvin bukan?”

“Iya ini gue kak, udah lama nggak ketemu”

“Iya ya”

“Beli bunga kak?”

“Iya nih buat Agni”

“Oh, gimana kabar Agni?”

“Udah tenang dia, baik-baik aja”

“Oh, lo mau ketemu Agni kak?”

“Iya, mau ikut?”

“Iya, hehe”

“Yuk, lo nggak ikutan beli bunga?”

“Hmm, iya deh”

***

Mata Alvin serasa diguyur air mendidih. Hatinya berasa gempa bumi, badannya serasa
dilolosi tulang. Ingin rasanya menjatuhkan diri. Namun ia harus kuat.

“Ka..kapan kak?” tanya Alvin

“Kurang dari setahun setelah pindah kesini”

“kok bisa? Kenapa?”

“Jantungnya nggak kuat”

“Kok lo nggak ngasih tau gue kak?”

“Sorry, dia emang nggak mau ada orang yang tau”

“Trus? Dia kan sekarang udah tenang disini”

“Gue hilang kontak sama lo pada”

“Dia.. sakit jantung?”

“Iya, jantungnya lemah”

“Nggak diusahain lagi?”

“Umurnya diprediksi nggak lebih dari 20 tahun, eh malah beneran berkurang 2 tahun”

“Gimana ceritanya?”

“Gue nggak kuat ceritanya Vin”

“Gue juga nggak sanggup dengernya , kak. Ayolah cerita”

Siang itu, dua lelaki dewasa, menangis karena gadis itu. Gabriel menceritakannya
dengan pedih, nafas sesak, sesegukan. Alvin juga, jarang ia menangis. Namun karena hal ini, ia tak bisa untuk tak menangis.
***
Di mobil, dengan mata yang merah, sembab, hidung yang merah, masih sesegukan pula. Alvin kembali melanjutkan membaca novelnya.

Orang yang jatuh cinta diam-diam harus bisa melanjutkan hidupnya dalam keheningan

“Gue nggak bisa, susah rasanya buat ngelepasin itu semua. Mana gue belum sempet
ngasih tau perasaan gue ke Agni” gumamnya.

Air mata kembali mengalir di pipi putihnya. Dibiarkannya mengalir. Alvin benar-benar melepaskan tangisnya di mobil siang itu. Otaknya memutar kenangan-kenangannya bersama Agni. Badannya benar-benar lemas. Ia pun tertidur. Berharap dalam mimpinya bertemu Agni.
***
Dea menyambut kepulangan Alvin dari Australia dengan gembira.

“bang Alvin ! aaa gue kangen bang ! Rio, ini ada Alvin “ seru Dea bahagia

“Hey bro” ucap Alvin

“Hoy, gimana ausi? Asik?” tanya Rio

“Asik lah”

“Gimana? Ketemu Agni nggak?” tanya Dea bersemangat

“Mendingan kita duduk dulu deh” saran Alvin

Ruang musik dirumah Dea sore itu begitu sepi. Hanya ada mereka bertiga dan beberapa pembantu dirumah Dea. Orang rumah lainnya sedang pergi.

“Siap nggak dengernya?” tanya Alvin

“Emang kenapa sih?” tanya Rio

“Udah cerita aja” buru Dea penasaran

“Jadi gini, kalian tau kan? Agni suka banget sama basket?”

“Tau, udah lo cerita aja, nggak usah pake nanya”

“Iya iya. Agni pindah ke Australia ternyata sekalian untuk berobat. Karena
jantungnya udah parah banget. Agni sakit. Lemah jantung. Waktu dia kecil, umurnya diprediksi sama dokter nggak lebih dari 20 tahun. Agni nyembunyiin ini semua dari kita. Karena dia nggak mau dikasihanin sama kita. Di Australia, dia masuk sekolah umum. Ikut klub basket dan langsung terpilih jadi tim inti. Dan ada lomba. Latihannya 5 bulan berturut-turut. 3 bulan menjelang lomba, latihan basketnya makin diperketat. Jantungnya nggak kuat, tapi Agni nggak bilang, dia takut nggak diizinin. Dia cerita itu semua cuma sama Kak Gabriel, dan dia nyuruh Kak Gabriel buat tutup mulut. Setelah lomba selesai, saat di jalan tiba-tiba dia pingsan. Untungnya dia bareng sama Kak Gabriel, dibawalah dia ke rumah sakit. Sampai sana keaadaan jantungnya udah bener-bener lemah. Orang tuanya juga udah pasrah, tapi Kak Gabriel enggak mau pasrah gitu aja. Agni nggak sempet sadar, tapi udah bebas dari koma”

“Ag..agni meninggal, Vin?” kata Dea ditengah sesegukannya. Kekhawatirannya selama
ini terjadi, dan ia tidak rela sama sekali.

Alvin melihat Rio. Rio diam. Tidak bergerak. Tatapan matanya kosong, namun dari mata indah itu mengalir cairan bening.

Alvin menepuk pundak Dea pelan. Berusaha menabahkan hatinya, Alvinpun juga menahan air matanya supaya tidak mengalir.

“Liburan ini gue mau ke Ausi, nggak mau tau” tekad Dea , ia ingin segera menemui Agni. Walau hanya dengan bentuk tanah serta nisan. Diikuti dengan anggukan dari Rio.

“Agni pasti seneng kalo sahabatnya dateng, gue bisa rasain” ujar Alvin sambil mengusap air matanya yang hampir jatuh.

“Sok tau” ejek Dea dan Rio bersamaan.

Alvin tersenyum, namun matanya masih mengeluarkan air mata. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, foto Agni dan Dea yang terpampang jelas disana, dengan senyumnya, seakan mengiyakan ucapan Alvin.

“Lo tau nggak Vin? Agni suka sama lo dari kapan?” tanya Dea

“Nggak”

“Kelas satu SMP, pas pertama kali ketemu”

“Iya? Kok samaan?”

“Maksudnya?”

“Gue juga suka sama Agni pas kelas satu SMP”

“Kenapa nggak nembaaak?”

“Gue kira dia nggak bisa suka sama orang”

“yee, pikiran lo berdua sama aja ya”

Alvin tersenyum. Sebenarnya ia tau semua itu, dari Gabriel.
***
Sepulang dari rumah Dea, Alvin pulang ke rumahnya yang di Indonesia.

Ia kembali melanjutkan membaca novel.


Pada akhirnya, orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa mendoakan. Mereka cuma bisa mendoakan, setelah capek berharap, pengharapan yang ada dari dulu, yang tumbuh dari mulai kecil sekali, hingga makin lama makin besar, lalu semakin lama semakin jauh.

“Ini kali ya yang dirasain Agni, nungguin gue tanpa kepastian yang pasti. Cuma gue gantungin gitu aja. Nyesel nggak bilang ke Agni gue..”


Orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya menerima

“yaaah, gue emang harus menerima kepergian dia, haruslah”


Orang yang jatuh cinta diam-diam paham bahwa kenyataan terkadang berbeda dengan apa yang kita inginkan

“Iyaaaa, beda banget . kenapa sad ending gini sih cerita cinta gue?”


Terkadang yang kita inginkan bisa jadi yang tidak kita sesungguhnya butuhkan. Dan sebenarnya, yang kita butuhkan hanya merelakan.

“Gue belum terlalu bisa rela-in lo Ag”

Orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa, seperti yang mereka selalu lakukan, jatuh cinta sendirian. (Marmut Merah Jambu – Raditya Dika)

“Agni, maaf banget. Sekarang gue kan yang jatuh cinta sendirian. Sekarang gue ngerasain gimana jadi lo, tapi gue udah tau, perasaan kita sama…”
Alvin menutup bukunya, mengusap air matanya lagi. Menghembuskan nafasnya, mulai mencoba merelakan Agni. Alvin mengambil iPod-nya. Memilih lagu. Pada di urutan lagu ber-abjad “C” , pilihannya terjatuh pada lagu yang pernah diberikan Agni padanya.

Mungkin ini memang jalan takdirku
Mengagumi tanpa dicintai
Tak mengapa bagiku
Asal kau pun bahagia dalam hidupmu
Dalam hidupmu
Telah lama kupendam perasaan itu
Menunggu hatimu menyambut diriku
Tak mengapa bagiku
Mencintaimu pun adalah bahagia untukku
Bahagia untukku
Kuingin kau tau diriku disini menanti dirmu
Meski kutunggu hingga ujung waktuku
Dan berharap rasa ini kan abadi utnuk selamanya
Dan izinkan aku memeluk dirimu kali ini saja
Tuk ucapkan slamat tinggal untuk slamanya
Dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejap saja


Alvin merebahkan tubuhnya, menutup matanya. Sekali lagi, berharap Agni akan datang di mimpinya. Nggak salah kan kalau hanya berharap?
***
Jangan salah
Kadang keputusan kita itu banyak mengambil resiko
Seperti mengambil keputusan dalam menyatakan sesuatu
Cinta misalnya
Manfaatkan waktu selagi masih ada nafas
Jangan biarkan dia menunggu terlalu lama
Sesal pasti selalu datang terakhir
Sudah mutlak dan takdirnya seperti itu
Setiap orang butuh kepastian, ingat itu
Hanya menyatakan tidak perlu meminta
Dia pasti akan senang mendengarnya
Biarkan air matamu mengalir
Setidaknya kesedihan kita perlahan pergi

Sabtu, 14 Agustus 2010

Tercipta Untukku

Tercipta Untukku

Seringkali hal yang kau remehkan adalah hal yang berarti untukmu
Begitu juga dengan cintamu
Seringkali kau meremehkan cinta
Sehingga kau tak menyadari bahwa cintamu itu telah menjadi bagian yang cukup berarti di hidupmu
Jangan membuatnya pergi darimu dengan sia-sia
Jangan abaikan dia
Jangan membuatmu kehilangannya
Jangan membuat kau menyesal pada akhirnya
Karena rasanya, aku yakini tidak akan sama ketika kau mendapatkan cinta


***


Sivia menuruni tangga rumahnya sambil berlari kecil sambil memakai jam tangan kesayangannya. Ia tak mau membuat Rio-kekasihnya menunggu lebih lama.
“Mi, Via berangkat dulu ya” pamit Sivia kepada Mami-nya sembari menyalimi tangan Mami-nya yang sedang memasak di dapur.
“Iya, hati-hati ya sayang”
“Iya Mi”

“Rio” panggil Sivia sesampainya ia di teras rumahnya. Sivia tersenyum mendapati Rio yang sedang duduk di teras sambil meminum jus jeruk.
Rio sedikit terbatuk begitu mendengar suara Sivia.
“Eh maaf yo”
Rio mengangguk. “Bentar, ngabisin ini dulu” Rio langsung menghabiskan jus jeruknya yang tinggal seperempat.
“Ayo jalan” ujar Rio dan langsung menghampiri motornya kemudian menyalakan mesinnya.
***
Sivia masuk ke deretan novel dan mulai mengambil satu novel yang diketahui Rio adalah salah satu koleksi Sivia. Sivia sangat menyukai novel, sudah satu rak buku yang ada di kamar Sivia penuh dengan novel-novel koleksinya.
Rio yang melihatnya hanya tersenyum secara sembunyi. Namun fikirannya segera sadar pada tujuannya ke toko buku.
“Vi..” panggil Rio
“Iya” Sivia menoleh dan memberikan senyumnya.
Sivia agak kesal dengan tingkah Rio yang selalu buang muka ketika ia beri senyuman.
“Tujuan kita kesini buat apa?”
Sivia tertawa, “Oh iya, lupa. Ayo ke deretan buku pelajaran. Atau enggak, kamu bakal di remedial untuk yang kedua kalinya”
Rio melengos, membuang muka.
Sivia menghela nafas. Sudah satu tahun bahkan memasuki tahun kedua hubungannya dengan Rio. Namun Rio masih saja bersikap cuek padanya. Tapi setidaknya, cueknya perlahan hilang untuknya. Catat, hanya hilang untuk Sivia, tapi tidak hilang kepada teman perempuan yang lainnya. Namun Sivia masih bisa memaafkannya, terserah Rio mau bersikap apa padanya. Memiliki Rio sebagai kekasihnya pun sudah lebih dari cukup.
“Ayo ah, nggak usah gitu juga kali yo sikapnya” Sivia berlalu meninggalkan Rio yang masih membuang muka.
Rio mengikuti Sivia yang berjalan lebih dahulu. Rio memperhatikan Sivia dari belakang, ‘tuh anak ya, kebiasaan kalo jalan nggak liat – liat’ batin Rio. Lalu segera menghampiri Sivia, namun langkahnya terhenti ketika melihat siapa yang ditabrak Sivia.
Sivia terduduk sambil mengelus-elus kepalanya yang terantuk orang yang sedang nggak lihat jalan juga. Intinya kedua orang itu –Sivia dan entah siapa namanya sama-sama tidak lihat jalan.
“Eh sorry, eh kamu….”
Sebuah tangan terulur di hadapannya. Sivia mendongak ke atas, ke orang yang ia tabrak dan menabraknya. “Cakka ?”
Cakka-orang yang menabrak dan ditabrak Sivia tadi, tersenyum dan menggerakkan tangannya yang terulur untuk membantu Sivia bangun.
Sivia meraih tangan Cakka dan menariknya.
“Makasih ya kka” ucapnya.
“Iya sama-sama” jawab Cakka. Cakka memperhatikan sekelilingnya, tepatnya sekeliling Sivia.
“Kamu kesini sama siapa?” tanyanya
Cakka yang menyadari kehadiran Rio langsung menganggapi, “Udah, nggak usah. Duluan ya Vi” Cakka berlalu sambil memberi senyumnya, senyum yang dulu pernah ia berikan untuk Sivia.
Cakka berjalan melewati Rio yang berpura-pura tidak melihatnya, “Jagain dia baik baik bro, atau gue ambil Sivia balik, hehehe” bisiknya ketika melewati Rio.
Rio yang mendengarnya hanya tersenyum tipis.
***
Siang itu, Rio sedang bermain bola di lapangan. Rio memang mengikuti sebuah club bola.
Rio bergidik geli ketika melihat Zahra yang begitu perhatian kepada Sion yang kelelahan. Zahra mengambil sebuah lap dari sebuah kotak yang entah apa namanya dan memberikannya pada Sion guna menyeka peluhnya yang bercucuran.
“Capek?” tanya Zahra
“Capek dong, eh, aku minta air minum”
Zahra yang mendengarnya segera mengambil botol minum dan memberikannya kepada Sion.
Rio yang melihatnya semakin merinding.
Alvin yang sedari tadi duduk di sebelah Rio, heran melihat sikap Rio yang aneh.
“Kenapa lo yo?”
Rio menoleh ke Alvin, “Lo nggak liat?”
“Liat apaan?” Alvin mencari-cari objek yang tadi dilihat Rio
“Itu, Sion sama pacarnya”
“Yee, biasa kali yo. Mereka mah udah dari dulu gitu. Kenapa?”
“Nggak, geli aja gue liatnya”
“Ih, biasa aja kali yo. Mereka biasa aja ah nggak lebay”
Rio diam , kemudian mengambil air minumnya di tas.
Alvin mengangguk faham, “Makanya yo, sama pacar jangan cuek-cuek amat”
Rio terbatuk, “Gue nggak cuek kok sama pacar”
“Iya ? setau gue, dan yang gue tau, lo sama Sivia tuh kalo pacaran ngomonginnya pelajaraaan mulu, kalo jalan pasti berbau-bau pelajaran, trus kalo lo ke rumah Sivia juga nggak jauh-jauh dari belajar dan semacamnya”
“Yee, pacaran gitu kan bermanfaat”
“Kasian Vianya tau”
“Vianya aja seneng-seneng aja kok”
“Iya kelihatannya, emang lo tau dalam hatinya gimana? Nggak kan?”
“Ya emang gue nggak bakal tau kalo dia nggak bilang”
Alvin dan Rio terlibat percakapan yang serius namun ruwet.
Cakka, kebetulan juga satu club dengan Rio. Mendengar percakapan itu, batin Cakka tertarik untuk ikut bergabung.
“Rio, jangan remehin cinta kayak gitu dong” ujarnya sembari duduk di sebelah Rio.
“Siapa yang ngeremehin? Nggak kok”
“Lo tau? Sebelum Sivia sama lo dia kan pacar gue”
“Ya gue tau itu”
“Salah satu penyebab gue putus sama dia? Lo tau?”
“Nggak”
“Dulu, gue remehin Sivia, dia gue cuekin terus. Sampe akhirnya, dia mutusin gue karena dia tau kalo gue macarin dia hanya karena taruhan”
Rio mengerutkan keningnya, “Maksudnya?”
“Awal gue jadian sama Sivia, karena temen-temen gue, yaudah gue berusaha deketin Sivia walaupun gue nggak suka sama sekali sama Sivia. Dan akhirnya, gue jadian sama dia. Tapi gue acuh banget sama dia, gue remehin semua yang dia kasih ke gue, ya seperti perhatiannya, dia ulang tahunpun nggak pernah gue kasih kado, gue nggak pernah ngasih apa-apa ke Sivia. Sampe akhirnya dia mutusin gue, dan gue baru sadar, gue suka beneran sama dia”
Rio diam, mendengarkan cerita Cakka . Alvin juga ikut mendengarkan, batinnya geram mendengar semua itu. Bagaimanapun juga, Alvin adalah sepupu Sivia. Mana rela sepupunya sendiri dijadikan taruhan oleh Cakka.
“Lo gimana sama Sivia?”
“Gimana apanya?”
“Awal jadian sama Sivia?”
“Iya sih, pertamanya juga gue jadian sama Sivia karena dia nggak ribet. Dia baik, nggak protes kalo gue cuek sama dia, dan dia nggak kayak cewek lain yang cerewet, yang manja. Dan dia pinter”
Cakka tertegun mendengarnya, “Serius? Kasian banget Sivia kalo kaya gitu”
“Pesen gue sih satu, jangan sia-sia-in Sivia kayak gue ke dia, ntar nyesel” pesan Cakka lalu meninggalkan mereka ke lapangan.
“Gimana yo? Udah ngerti?” tanya Alvin
“Nggak, Sivia aja biasa kok sama gue. Gue nggak banyak dituntut ini itu sama dia”
“Nah, lo tau kan seberapa sabar dan baiknya Sivia ke lo? Seenggaknya kasihlah sedikit perhatian lo ke dia, biar dia seneng”
“Sedikit sih udah”
“Terserah lo lah yo, gue cuma ngasih tau”
***
Rio merenungkan pembicaraannya tadi malamnya. Emang iya dia begitu cuek sama Sivia? Emang iya dia ngeremehin cintanya Sivia?
“Lo suka nggak sama Sivia?” tanya hatinya
“Suka” jawabnya
“Sayang nggak?”
“Tak kenal maka tak sayang”
“Cinta?”
“Gue nggak tau persis cinta itu apa”
“Menurut lo, sikap lo ke Sivia gimana?”
“Biasa aja”
“Sebaiknya lo renungin lagi deh sikap lo”
“…” diam
Rio terus berfikir, ‘ah, buat apa sih gue mikirin?’ batinnya
Lalu Rio beranjak keluar rumah dan pergi.
“Ini salah satu bentuk perhatian dengan cara gue”
***
Sivia agak bingung saat Rio memberinya sebuah novel pagi itu. Novel yang sedang ia koleksi, seri ke 4. Novel itu harganya lumayan mahal. Setahu Sivia, Rio itu pelit.
“Hah? Ya ampun, Rio ngasih lu novel Vi? Tumben amat” komentar Ify saat Sivia bercerita perihal hari itu.
“Tau ya? Padahal hari ini gue nggak ulang tahun kan?”
“Nggak, ulang tahun lo udah lewat” Ify membulatkan matanya begitu melihat Alvin yang tengah bertampang suntuk mengajari Zevana yang nggak pinter pinter ilmu teknologi komputernya.
Sivia yang menangkap arah mata Ify hanya tertawa kecil, “Udahlah Fy, biarin aja si Alvin ngajari Zevana”
“Biarin sih biarin Vi, Zevananya itu, masa iya udah di ajarin Pak Guru, lu ajarin, gue ajarin, masih nggak ngerti-ngerti juga? Dan sekarang masih minta di ajarin Alvin? Nggak liat tampangnya Alvin udah suntuk banget begitu? Diiih”
Sivia mengerutkan keningnya, “Kok gitu Fy?”
Ify menoleh, “Gitu apaan?”
Sivia tersenyum penuh arti, “Cemburu yaaa?” bisik Sivia
Sekilas, Sivia melihat semburat merah tipis di pipi Ify. “Apaan sih? Nggak, gue sebel aja sama anak yang otaknya rada bebel”
“Berarti lu sebel juga dong Fy sama Rio”
“Iya, tapi sebel dalam hal lain. Dia tuh cueknya kelewatan, kok lu bisa-bisanya sih Vi bertahan sama Rio? Udah mau dua tahun lagi”
“Bisa dong . lagian Rio nggak cuek-cuek amat kok sama gue”
“Kok gitu? Kenapa bisa?”
“Karena gue, nggak mau nyesel karena nggak nikmatin waktu gue sama Rio. Selama Rio masih milik gue, gue masih seneng-seneng aja dan sangat bersyukur. Jadi ya gue nikmatin aja selagi Rio masih milik gue. Gue nggak mau nantinya gue kaya dulu, nggak nikmatin waktu bersama pacar gue”
“Jiaaah Vi, kalimat lo. Yaudeh, ke kantin yuk”
“Yuk, eh bentar, ngambil duit dulu”
***
Kamar bernuansa hitam putih itu dihiasi dengan berbagai figura dan lukisan. Pemilik kamar itulah yang mendesain. Foto yang ada di figura itu-pun hasil karya fotografinya. Lukisan? Itu juga karyanya. Pemiliknya tertarik akan seni fotografi dan seni lukis. Dari kecil, pemiliknya suka mengikuti ayahnya yang seorang fotografer serta ibunya yang pandai melukis.
“Rio, ajak Sivia main kesini dong”
Rio yang sedang asyik bermain playstation langsung memilih tanda pause pada gamenya.
“Ha? Nggak salah denger gue kak? Ngapain sih? Nggak usah kali” tolak Rio
“Sivia koleksi novel kan? Gue kan kuliah sastra yo, ya jadi gue mau berbagi ilmu aja sama dia, mau tau tanggapannya tentang sastra kaya apa”
Rio kaget, tau darimana dia tentang Sivia sedemikian jauh?
“Tau darimana lo kak?”
“Yee, gue sering kali ketemu dia kalo di toko buku, trus sering juga ngobrol di chat lewat internet”
“Yaudah itu juga cukup kan kak?”
“Gue mau liat Sivia kayak gimana”
“Bukannya udah tau? Kan foto profilnya ada fotonya pasti udah taulah mukanya kaya apa”
“Bukan yo, bukan. Gue mau tau Sivia lebih jauh”
Rio diam, nggak ada salahnya juga sih ngajak Sivia kesini. Tapi masa iya sih cewek yang main ke rumah cowoknya? Nggak ah, apa kata temen-temennya nanti.
“Yo? Kok diem? Ya yo ya? Ajak Sivia kesini dong”
Rio akhirnya mengangguk pasrah.
“Yeee ! lo baik deh yo, nggak nyesel gue punya adik baik kaya lo” seru kakaknya sambil mencubit pipi Rio.
***
Malam itu Rio sedang melukis, tiba-tiba teringat olehnya sesuatu yang disampaikan kakaknya. Rio memutuskan untuk menelefon Sivia.
Sivia yang sedang di curhati oleh Dea lewat sms pun kaget. Tumben Rio menelefonnya.
“Halo, malem Vi”
“Halo juga, malam yo, kenapa?”
“Kakak gue mau ketemu sama lo”
“Kakak lo? Kak Shilla?”
“Iyalah, siapa lagi”
“Oke, kapan?”
“Besok sore bisa? Pulang sekolah deh”
“Bisa aja sih, tapi guenya pulang dulu ya. Ganti baju”
“Iya, udah ya bye”
“Bye”
Wow, Sivia masih agak tidak percaya dengan kejadian barusan. Rio menelefonnya masih dapat dihitung dengan jari selama hubungannya berjalan. Dan biasanya juga Rio menelefon, mengajaknya pergi berdua, main kerumahnya, semua hanya karena urusan pelajaran. Coba saja mereka tidak satu sekolah dan tidak satu angkatan, pasti Rio akan lebih jarang lagi menelefon Sivia. Rio dan Sivia beda kelas, selalu beda kelas.
Sivia yakin, malam ini pasti ia akan memimpikan Rio. Pasti, dan itu harapannya setiap malam. Dan dalam batinnya, ia berharap Rio juga akan berharap memimpikannya. Yah, semoga saja.
***
Suasana kelas Sivia pagi itu agak sunyi, semuanya diam menunggu pengumuman. Pengumuman apa? Pengumuman siapa saja yang akan ikut pertukaran pelajar. Dan Sivia termasuk salah satu peserta yang ikut test kemarin. Sebagian besar penduduk di kelasnya yang mengikuti test itu.
“Pagi anak-anak” salam Pak Duta
“Pagi pak”
“Bapak akan memberitahukan kalian perihal pertukaran pelajar”
Kelas Sivia yang biasanya ramai, ribut, dan nggak bisa diam, sesaat langsung berubah 180 derajat akan hal ini.
“Semua yang mengikuti test kemarin, lulus test dan diperbolehkan mengikuti pertukaran pelajar”
Kelas yang tadinya diam tak bersuara, langsung ribut dan berisik bagaikan suara terompet pada pertandingan bola piala dunia.
“Tenang anak-anak. Tentunya sebelum kita berangkat ke arah tujuan pertukaran pelajar kita, yakni di Australia, kalian yang mengikuti akan diberikan beberapa materi tambahan untuk menyeimbangi pelajaran disana”
Dan beberapa pemberitahuan lain mengenai pertukaran pelajaran itu pun, terus diberikan Pak Duta.
***
Di perjalanan pulang, Sivia teringat akan pertukaran pelajar itu dan segera memberitahu kabar bahagia itu kepada Rio.
“Rio..”
“hmm”
“Lo inget nggak yo?”
“Nggak”
“Bentar dulu napa, dengerin gue dulu”
“hmm”
“Gue ikut yo, gue dan yang lain lulus tes sarap itu !”
“Bagus deh”
“Gitu doang?”
“Mau lo?”
“Ya nggak sih.. eh yo, belok kiri dulu, kan gue mau ganti baju dulu baru ke rumah lo”
“Oh iya, maaf”
Sivia tersenyum, hatinya sangat tersentuh bila ada anak lelaki yang meminta maaf langsung dan dengan mengucapkan kata “maaf” daripada “sorry”. Kesannya lebih dalam menurutnya.
***
“Jadi lo mau ke Australia Vi? Hebat”
“Hehe, makasih kak. Udahlah kak, ngomongin yang lain aja”
“Oh iya iya oke, eh lo haus nggak Vi?”
“Haus sih”
“Bentar ya, Rio ! Minum dong buat Via, daritadi nggak ada minum dateng”
“Iya kak, bentar !” sahut Rio dari arah dapur-sepertinya.
***
Sivia asyik memerhatikan Rio yang sedari tadi bermain basket di halaman rumahnya yang cukup luas dan ada ring basketnya.
Dan memang, saat itu malam hari, malam jum’at pula. Rio sedang ngapel ke rumah Sivia. Bukan ngapel biasa, Rio habis minta di ajari bahasa inggris oleh Sivia. Karena besok ia ada ulangan bahasa inggris. Nggak hanya itu, Rio juga meminjam catatan matematika Sivia , karena besok catatan matematikanya akan diperiksa oleh gurunya.
Setelah lelah berkutat dengan bahasa inggris, Rio merasa lelah dan meminjam bola basket Sivia yang adalah pemberiannya ketika Sivia ulang tahun kemarin, dan sengaja ia beli kalau sedang bermain ke rumah Sivia.
Sivia hanya tertawa ketika mendengar penjelasan Rio saat ditanya mengapa ia membelikan sebuah bola basket untuknya. Ternyata, haha. Namun Sivia tetap senang. Diam-diam, ia sering memeluk bola basket itu ketika ia ketakutan sendirian dirumah.
“Rio, gue mau ke toko buku, mau ikut nggak?” tanya Sivia ketika Rio mengembalikan bola basket itu padanya.
“Males ah, gue nggak ikut”
“Oh yaudah, sampe besok ya yo”
Rio mengangguk dan menyalakan motornya lalu pulang kerumahnya.
Sivia masuk ke dalam rumah dan masuk ke kamarnya.
Ia memeluk bola basket itu, dan berbicara kepadanya, seolah bola basket ia adalah Rio.
“Rio, yang membuat aku suka dan bertahan sama kamu adalah, aku yakin, kamu nggak bisa dan nggak bakalan membual sama cewek. Sama aku aja nggak pernah kan?”
Sesederhana itu keyakinan Sivia, sesederhana itu pula harapan Sivia. Tapi tidak sesederhana itu cintanya pada Rio.
***
Sivia pulang dari toko buku dengan kesusahan. Ia yang diwakilkan untuk membeli buku referensi luar negeri oleh teman-temannya. Dengan susah payah Sivia menenteng semua belanjaan yang dibelinya. Mana adiknya menitip dibelikan mainan yang ia tak tahu bentuknya.
Di jalan, Sivia sedang menunggu bis lewat. Namun di terminal itu, ia melihat ada seorang pemuda yang penampilannya nggak karuan.
‘tuh orang kenapa lagi? Jangan-jangan..’
“Au !”
Pemuda mabuk itu melemparkan botol minuman kerasnya-terlihat dari botolnya yang berwarna hijau secara brutal. Dan botol itu pecah setelah terbentur kaki Sivia.
“kamu ! kenapa ninggalin aku.. huahuahuhuhu” ujar pemabuk itu. Lalu ia pergi menjauh.
Sivia dibuat bingung olehnya, ‘iih gila nih orang’ batinnya. Lalu melihat pecahan botol itu.
‘hiii, mabok tuh orang’
Sivia melihat bis tujuannya mendekat segera mengambil barang barangnya dan menyetop bis itu dan naik dengan tertatih-tatih.
***
Rio mengendarai motornya dengan pelan, ia sedang dalam tujuan kerumah Sivia untuk mengembalikan catatan matematika Sivia yang ia pinjam.
Dari kejauhan, ia melihat seseorang yang sangat familiar dimatanya. Namun segara ditepiskannya dugaan bahwa seseorang itu adalah
“Sivia..” gumamnya ketika melihat seorang gadis berjalan dengan membawa tentengan yang kelihatannya banyak.
“Naik” perintah Rio ketika dirinya sampai di tempat dimana Sivia sedang duduk untuk istirahat sebentar.
“Ngapain pegangin kaki? Ayo naik” perintahnya.
Sivia mendongak ke atas, “Rio?”
“Ngapain disitu aja? Ayo naik”
“Iya iya”
“Sini, bawaannya” Rio mengambil beberapa kresek yang berisi buku.
***
Sesampainya dirumah Sivia…
“Permisi, tante..” salam Rio sopan
“Eh Rio, Sivianya lagi pergi tuh”
“Nggak kok tante, ini Sivia”
“Hai Mami” ujar Sivia sambil nyengir
“Yaudah tante tinggal ya..”
“Eh tante, minjem kotak P3K ya”
“Itu ambil aja di kolong meja, tante masuk dulu ya”
“Iya tante”
Mata Rio mengekor pada sosok Mami Sivia sampai tak terlihatdi dalam rumah.
“Nih Via, tuh obatin kakinya”
“Iya” Sivia mengambil alkohol dan mulai menuangkannya pada kapas.
“Heh, cuci dulu pake air lukanya”
“Ih sok tau”
“Siapa yang sok tau? Emang gue tau kok, apa salahnya sih nurut sama gue”
“Iya deh iya” Sivia beranjak ke taman rumahnya, ada keran disana.
“Via..” Rio mencegah Sivia dan menuntunnya kembali duduk.
“Gue aja yang ambil airnya, kasian kaki lo” Rio mengambil lap yang ada di kotak P3K dan menuju ke keran air.
‘bilang aja lo kasian sama gue yo, ya tuhan, makasih udah ngasih aku pacar kaya Rio’ batin Sivia terharu.
“Nih, usapin dulu kain basah ini di kaki lo yang memar”
“Iya”
Rio mengambil alih lap itu, “Gue yang obatin”
“Pelan-pelan”
“Iya, jangan bawel”
Sivia benar-benar terharu, 1 tahun lebih hubungannya dengan Rio, baru kali ini Rio perhatian sekali padanya. Ada apakah?
Cakka yang kebetulan lewat, tersenyum melihat pasangan yang sedang saling ribut karena salah satunya kakinya sedang sakit dan yang satu lagi dengan iseng agak menekan luka pada kaki pasangannya.
“Lo harus buktiin yo, lo nggak boleh ngecewain Sivia kaya gue ngecewain dia. Lo nggak boleh menyesal kaya gue, lo nggak boleh ngeremehin cinta yang udah Sivia kasih ke lo, atau enggak, lo bakal berakhir sama kaya gue dan Sivia dulu..” gumamnya.
***
1 bulan itu dilalui Sivia dan Rio dengan bahagia. Rio menunjukkan kemajuannya dengan tidak bersikap terlampau cuek seperti yang dibilang Ify. Tidak hanya pada Sivia tentunya, dengan teman perempuannya yang lain bahkan.
Namun sial untuk Rio, setiap ia mengajak Sivia makan siang sepulang sekolah, Sivia selalu ada pelajaran tambahan untuk pertukaran pelajar.
Siang itu Rio akan mengajak Sivia dinner. Dinner biasa, namun agak tidak biasa untuk mereka nantinya.
“Via, makan malam yuk diluar”
Sivia tertegun sejenak, “Ulang yo”
“Via, makan malam yuk diluar. Puas?”
“Haha iya”
“Yaudah, gue jemput lo jam setengah 7 ya. Jangan lama”
“Emang gue pernah ngebiarin lo nunggu lama?”
“Nggak sih, yaudah , duluan ya”
“iya, bye”
“bye”
***
“tante, anaknya saya ajak dinner ya. Boleh ya?”
“Boleh, jangan lama-lama ya yo, jangan terlalu malem”
“Iya tan, beres”
“Nah tuh, Sivia nya, tante masuk ya, hati-hati ya di jalan”
“Iya tante”
Sivia salim pada Maminya dan memberi senyumnya pada Rio.

Menatap indahnya senyuman wajahmu
Membuatku terdiam dan terpaku


“Rio? Kok diem?”
“Eh yaudah yuk berangkat”
“Mana motornya?”
“Eh belum tau ya?”
“Apaan?”
“Lo sih, setiap gue ajakin pasti nolak”
“Kan bukan mau gue juga yo..”
“yaudah, kita sekarang naik mobil”
“Mobil?”
“Iya, ada masalah?”
“Nggak sih, emang lo bisa?”
“Bisa dong, udah ah yuk berangkat”
Sivia tersenyum dan segera menyusul Rio yang sudah lebih dulu pergi ke mobilnya.
***
Suasana café itu memang nggak mewah, namun cukup romantis untuk seorang Rio.
“Bentar ya Vi, mau ke belakang dulu”
“Ke belakang? Toilet?”
Rio hanya mengedikkan bahunya sambil berlalu
“Rio rio, malu-maluin aja deh. Masa mau dinner ke belakang dulu?” gumam Sivia
Café itu mengalunkan lagu yang sedang naik daun pada tingkat lagu teratas di Indonesia.
Sivia mengalunkan lagu itu pelan sambil menghayatinya, memejamkan matanya sembari mengetuk-ngetukkan tangannya di meja.
“Sivia, dengerin deh”
Sivia membuka matanya, “Iya, apa?”
“lagu ini, anggap yang nyanyi gue. Sekarang, lo dengerin dan hayatin sepenuh hati, dan lo bakal tau seberapa besar gue sayang sama lo”
“Rio? Lo gombal atau…”
“Nggak, ini beneran. Sekarang, lo diem dulu. Dengerin lagunya dan hayati”

Menatap indahnya senyuman wajahmu
Membuatku terdiam dan terpaku


Sivia tersenyum, “oh, jadi gitu yo, pantesan lo suka buang muka kalo gue senyumin”
“Udah dengerin aja”

Mengerti akan hadirnya cinta terindah
Saat kau peluk mesra tubuhku


“Nggak harus gue peluk kan?”
“Nggak harus, sikap lo selama ini udah nunjukkin lo yang terindah buat gue”
“Wow, Rio sekarang jago gombal”
“Udah bawel, dengerin dulu”

Banyak kata yang tak mampu ku ungkapkan kepada dirimu

“Pantesan nggak pernah bilang I Love You”
“mau bilang sekarang?”
“Boleh”
“Kapan-kapan ya”
“Ih..”

Aku ingin engkau slalu
Hadir dan temani aku


“Mau nemenin gue terus kan?”
“Mau, tapi pertukaran pelajar itu…”
“Makanya, gue kurang seneng soal itu. Tapi buat lo, oke lah nggakpapa”
“Gombal..”
“Serius, nggak”

Di setiap langkah yang meyakiniku
Kau tercipta untukku


“Makin lama hubungan kita terjalin, gue makin yakin lo buat gue. Karena gue nggak yakin, kalo bukan lo, cewek lain nggak akan bertahan sama sikap gue”
Sivia tersenyum , “Makasih yo..”

Spanjang hidupku

“Selamanya ya?”
“Apanya?”
“Sama gue”
“Iya, dengan kehendak tuhan tentunya”
Malam itu , Rio benar-benar jadi pria penggombal. Sivia agak risih sih, tapi ia menghargai usaha Rio yang mencoba perhatian padanya. Dengan cara yang ‘Rio banget’ tentunya.
***
Suasana bandara itu agak sendu. Sesendu cuacanya. Gerimis mengiringi kepergian Sivia dan teman-temannya ke Australia. Rio menatap Sivia dengan pandangan tajam.
“Rio, sini sebentar”
Sivia menarik Rio ke tempat yang agak jauh dari teman-temannya.
“Rio, jangan gitu kenapa liatnya, risih tau”
“Jangan lama-lama ya Vi”
“Nggak kok, Cuma 3 bulan aja”
“Itu lama banget”
“Jangan dirasain lah, lagian kita masih bisa smsan, telfonan”
“Mahal Vi..”
“Ya kan masih ada fasilitas internet, masih bisa ym-an, fb-an, twitter-an apa kek masih banyak”
“Iya sih..”
“Kita jadi berubah gini, ya, lo jadi manja ya..”
“Nggak”
“Iya”
“Nggak”
“Iyaa”
“Iya deh ngalah”
“Haha, udah deh, bentar lagi berangkat” Sivia berbalik dan….
“Vi..” Rio meraih tangan Sivia guna mencegah Sivia pergi
“Ku ingin kau tau, ku slalu milikmu, yang mencintaimu spanjang hidupku”
“Gombal ah, lagian bukan kata-kata lo”
“Biarin” Rio melengos lagi
“Eh iya, ini ada syal buat lo. Gue belajar dari Kak Shilla, susah tuh buatnya” ujar Rio sambil memberi Sivia sebuah tas berisi syal.
“Makasih Rio”
“Iya, aku kan sayang kamu..”
“Aku ? kamu?”
“Kenapa? Nggak boleh?”
“haha, oke oke boleh kok”
“Iya, aku kan sayang kamu, sayang”
“Sayang? Haha, coba ulang semuanya”
“Aku sayang sama kamu, sayang”
“haha, iya makasih, kok lo tumben sih begini yo? Kemaren-kemaren juga masih gue-lo dan nggak mau bilang sayang sayangan langsung ke gue”
“Hahaha, ya nggakpapa. Lagian kan kau tercipta untukku”
“Iya iya, aku tercipta untukmu deh..”
“Udah yuk Vi, balik ke temen-temen”
“Yuk” Rio merain tangan Sivia erat. Sivia menatap Rio bingung.
“Meluknya gini aja ya? Gue meluk tangan lo” ujar Rio sembari tersenyum, senyum pahit.
“Iya boleh boleh”
***
“Eh, pada darimana lagi?” tanya Cakka
“Cakka? Kok lo ada disini?”
Cakka melirik ke arah Aren yang ada disebelahnya, “Lupa kalo dia pacar gue?”
“Oh iya, haha lupa” ujar Sivia
“Makasihnya Kka, lo yang bikin gue sadar sama sikap yang kata orang terlampau cuek” ucap Rio penuh rasa berterima kasih.
“Iya, sama-sama. Kalo lo nggak berniat untuk berubah, semua juga nggak akan terjadi kan?”
“Iya, makasih ya”
“Iya, udah mau sampe kapan lo bilang makasih ke gue?”
“Udah, sampe tadi aja cukup”
“Cakka ! Rio ! Kita berangkat ya ! Bye, sampe ketemu 3 bulan kedepan !” teriak Sivia sambil melambaikan tangannya.
“Iya, hati-hati ya Via !” teriak Rio tak kalah kencang.
“Buset, lo berdua ya, hahaha” ejek Cakka sambil tertawa
“Udah yuk, pulang”
“Tapi hujan..”
“Yaudah, gue duluan ya”
“Iya, hati-hati”
“Sip, pasti”
***
Jalanan yang lengang jarang kendaraan, membuat Rio menambah kecepatan mobilnya dengan brutal.
Drrt..
Handphone Rio bergetar di dashboard mobilnya. Rio mengambil handphonenya cepat. Sebuah sms untuknya.

From : Sivia
Sms terakhir nih di Indonesia
Bentar lagi harus matiin hp
Bye , sayang. Iih, geli juga bilangnya.
Hahaha, apa? Aku tercipta untukmu?
Iya iya. *jangan dibales ya*

Rio tersenyum, senyum Sivia terus membayanginya.
Rio terus memandangi layar handphone nya.
TIIINN !!
Sebuah klakson dari arah berlawanan dari arah depan terdengar begitu kencang. Rio hilang kendali. Dengan masih dalam keadaan menggenggam handphonenya tadi, ia membanting setir mobilnya ke arah lain. Tabrakan tak ter-elakkan lagi.
BRAAAK !!!

Meski waktu akan mampu
Mengambil sluruh ragaku
Ku ingin kau tau ku slalu milikmu
Yang mencintaimu
Spanjang hidupku


Cinta memang tak selamanya indah
Tak selamanya bahagia
Tak selamanya berakhir dengan hati yang berbunga
Ada kalanya cinta membuat kita sakit
Membuat kita menangis
Dan kadang berakhir dengan akhir yang buruk
Bahkan tragis



TAMAT